We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2010 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Kala Musim Gugur Tiba
Kala Musim Gugur Tiba E-mail
Pengirim: DA Inayati   
Rabu, 28 September 2005

Menjelang akhir musim panas, saya selalu menanti nanti datangnya musim gugur menyapa bumi. Tak sabar rasanya untuk dapat mengucapkan selamat tinggal pada rasa panas yang tak meninggalkan keringat, kemudian menyapa dengan ucapan selamat datang pada musim gugur yang penuh pesona dan teramat menawan.

Entah mengapa, saya amat menyenangi sekali nuansa yang muncul dari musim gugur dengan segala macam pernak perniknya: aneka ragam warna dedaunan yang kan berubah di sepanjang harinya, bau tanah yang khas setelah tersirami sejuknya air hujan, hujan yang kadang turun dengan butiran lembutnya dari langit, bahkan derasnya hujan yang disertai tiupan angin yang kencang pun seakan tetap menyimpan satu daya tarik tersendiri bagi saya.

Warna-warni dedaunan di pohon yang berubah di sepanjang hari, yang kemudian diikuti dengan bergugurannya satu persatu dedaunan di pepohonan pun tak bosan bosannya membuat mata ini menatap. Setinggi, sekuat dan sebesar apapun jenis pohonnya, maka semua akan menjalani fitrah. Dedaunannya yang lebat, satu persatu akan lepas dari ranting kemudian akan jatuh ke tanah. Seluruh ranting akan menjadi gundul, tanpa ada daun yang tersisa. Hanya tegak pohon berbatang coklat yang akan ada, di akhir musim gugur, menjelang awal musim dingin yang kan datang menggantikan.

Telah sembilan kali musim gugur saya lewati di negeri ini. Namun sembilan kali itu pun tetap tak cukup bagi saya untuk menikmati dan mengamati pesona keindahan yang tercipta dari tiap musim gugur yang tiba. Di sembilan kali itu pula, diri selalu diingatkan oleh Pencipta akan hikmah permisalan dari musim gugur yang
menyapa, minimal bagi saya pribadi.

Kala butiran lembut hujan menyentuh raga, maka butiran air tersebut seakan menyapa jiwa saya yang rapuh..."wahai dinda..kubasahi dirimu dengan lembut, agar nantinya kesegaran dan kesejukan dapat kau nikmati. Maka syukurilah datangnya ku padamu. Berterimakasihlah padaNya yang telah segarkan diri dan sekitarmu dengan sapaan lembut dariku. Datangnya diriku adalah salah satu nikmat bagimu, walau mungkin kadang dirimu tak tahu. Semoga melalui diriku, jiwamu kan bersih dan segar kembali. Sebagaimana doamu pada Penciptaku , agar kau dibersihkan dari segala kesalahanmu dengan air, salju dan embun ". Ah, betapa indahnya.

Saat hujan deras datang dengan disertai tiupan angin kencang yang menemani, maka seakan saya di sadarkan akan keterbatasan diri yang saya miliki. Tak pantas rasanya bersombong dan berbangga diri padahal badan masih harus berjalan terhuyung hanya akibat tiupan angin ciptaanNya, yang mungkin tak seberapa kencang. Mampirnya siraman hujan deras ditambah kuatnya tiupan angin ke badan lemah ini, seakan menegur saya.. " wahai dinda, siapakah engkau..yang kadang terjebak sombong dan bangga, merasa kuat di dunia. Bukankah dirimu pun sudah letih payah hanya karena siraman hujan tak seberapa dan angin yang tak sebegitu kencangnya dariNya?". Ah benar, kadang sayapun tak menyadari kekhilafan saya.

Ketika saya memandangi warna dedaunan yang beraneka ragam, seakan akan saya melihat manusia dengan segala macam jenis dan karakteristiknya. Tak ada bentuk, warna serta ciri khas daun yang sama. Namun dengan segala macam perbedaan yang tercipta, tak ada satupun daun yang tak akan berguguran ke tanah. Semua akan kering...satu saat akan jatuh ke tanah. Hanya waktu yang membedakan, kapan mereka akan pergi menemui bumi.

Saya adalah salah satu daun yang ada di pepohonan itu. Daun yang satu saat akan berubah warnanya. Daun yang bila waktunya tiba 'kan menjadi tua, lepas dari ranting dan jatuh ke tanah. Satu saat saya akan meninggalkan pohon kehidupan dunia dengan ranting rantingnya yang kini masih saya genggam. Satu saat nanti, yang saya pun tak tahu kapan menghampiri.

Ah, saya ingin di saat saya harus lepas dari pohon kehidupan, warna di daun yang saya miliki adalah warna yang indah, yang tak terlalu punya banyak bercak bercak noda hitam di daunnya. Bercak hitam yang hanya akan mengurangi nilai keindahan warna yang telah
tercipta. Saya ingin memiliki warna akhir di daun, yang dengannya Sang Pencipta akan melimpahkan rasa Sayang dan Cinta pada saya yang telah Dia ciptakan. Warna akhir di daun, yang dengannya manusia akan terhibur akan keindahannya serta akan selalu mengenang pesona yang timbul darinya, walau sang daun telah tiada.

Robbi, bila saatnya tiba...perkenankanlah Engkau tutup hidup hamba dengan satu penutup yang baik. Satu penutup dimana hamba telah dapat membuat kebun kebaikan, yang kan selalu dapat menghantarkan amal kebaikan ketika hamba tak lagi di dunia fana. Satu penutup yang indah, dimana hamba kan diperkenankan olehMu untuk dapat menikmati keindahan alam abadi yang sesungguhnya. Robbi, kabulkanlah doa hamba.... (@Dal)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement