|
Tidur bersebelahan antara ibu dan bayi adalah satu tradisi alami yang biasa ditemui di setiap kelompok masyarakat sekaligus merupakan kegiatan yang menguntungkan, baik bagi ibu dan bayinya. Aktivitas yang biasa dikenal dengan istilah Co-Sleeping' memang telah terbukti memiliki keunggulan secara klinis dan berperan penting pula terhadap tingkat 'ke-survive-an' anak. Sayangnya, kecenderungan yang kini teramati malah berbeda: semakin banyak para orang tua yang memutuskan tidak tidur bersama bayi mereka di satu tempat tidur.
Neonatal yang hanya memiliki 25% volume otak seorang dewasa membutuhkan dukungan sosial dan emosional yang intens, termasuk di dalamnya kebutuhan terpenuhinya rasa lapar. Tak mengherankan, pemberian ASI siang ataupun malam adalah hal terefektif yang tak dapat disangkal peranannya dalam mengatasi pemenuhan rasa lapar si kecil. Hal tersebut dapat teramat mudahnya didapatkan di malam hari melalui aktivitas Co-Sleeping yang sekaligus membawa kenyamanan pada ibu dan anak. Karenanya penelitian ilmiah tentang pola tidur bayi manusia yang tidak memperhitungkan peran pemberian ASI malam hari, faktor kedekatan ibu-anak dan kontak yang terjadi dapat dianggap sebagai satu penelitian yang tak lengkap dan tidak tepat (McKenna 1986).
Kondisi Yang Harus Terpenuhi
Untuk menjamin keamanan Co-Sleeping yang dilakukan, terdapat satu syarat utama yang harus terpenuhi: terciptanya kondisi yang memungkinkan si kecil mampu "merasakan" serta "menyadari" kehadiran ciri khas sang ibu. Signal ibu seperti bau khasnya, desah nafas, gerakan tidur, perkataan serta undangan' menyusui di malam hari haruslah si kecil 'mengerti'. Dengan terpenuhinya kondisi di atas, tidur bersama antara ibu dan bayinya dapat dikatakan aman untuk dilakukan.
Sebaliknya, kondisi yang membahayakan dilakukannya Co-Sleeping harus dihindari. Tidur bersebelahan dengan bayi di sofa, ibu perokok yang mendampingi tidurnya si kecil, anak balita yang tidur di samping si bayi (Young dan Fleming 1998) dan penggunaan matras empuk serta bantal bayi (Drago und Danneberg 1999, Scheer 2000) adalah beberapa faktor yang dapat dicatat. Ibu pengkonsumsi alkohol dan obat obatan (termasuk narkoba) juga dianjurkan tidak melaksanakan Co-Sleeping karena dikhawatirkan memiliki kemampuan reaksi spontan yang terbatas.
Keuntungan Tidur Bersama bagi si Kecil
Co-Sleeping terbukti berperan penting terhadap penjagaan kestabilitasan suhu bayi. Temuan studi Mc Kenna (1986) menyimpulkan bahwa seorang bayi yang sejak lahir diletakkan berjauhan dengan perut ibunya mengalami penurunan suhu tubuh hingga 1 derajat celcius. Kondisi ini pun dapat diamati pada bayi yang berada di dalam inkubator dimana suhunya telah diatur sedemikian rupa mendekati suhu tubuh sang ibu. Kontak kulit dengan orang tuanya pun terbukti berpengaruh positif terhadap bayi -- prematur ataupun normal. Melalui sentuhan kulit tersebut, bayi biasanya akan memiliki pola nafas lebih teratur, menggunakan energi lebih efisien, memiliki pola tumbuh-kembang lebih cepat serta mengalami lebih sedikit stress. (Stewart dan Stewart 1991, Field 1995).
Bayi yang tidur terpisah dari orang tua pada awalnya biasa menunjukkan gejala rewel dengan menangis dan berteriak. Hal tersebut dapat didefinisikan sebagai tanda protes terhadap keadaan yang dianggap membahayakan dirinya, yaitu terpisah dari orang yang dianggap sebagai bagian terpenting dari hidupnya. Karenanya tak heran pada bayi yang tidur bersebelahan dengan orang tuanya relatif lebih 'anteng' dan 'tidak rewel' pada saat akan tidur.
Anjuran pemisahan tidur sejak kecil banyak 'terdengar' di beberapa tahun kebelakang. Hal itu dilakukan dengan alasan agar otonomi sang anak sejak kecil dapat terasah. Intervensi minimal orang tua pada si kecil, termasuk halnya pemberian ASI, bahkan kadang datang dari petugas kesehatan sendiri. Tak hanya itu, 'nasehat' untuk menghindari agar sang anak tertidur saat menyusui pun banyak didengungkan. Tips yang banyak beredar tersebut biasanya didasarkan atas studi terdahulu yang menyatakan bahwa anak yang dibiasakan tidur bersama orang tuanya umumnya memiliki permasalahan psikologi, emosional dan hubungan sosial di masa depan (Ferber 1985).
Hal yang menarik, temuan studi cross sectional di Inggris menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Responden pada studi tersebut yang memenuhi kriteria "tidak pernah tidur di tempat tidur orang tuanya" malah terbukti banyak memiliki masalah, baik menurut orang tuanya dan guru di sekolah. Sulit dikontrol, merasa tak berbahagia, emosional, mudah marah adalah beberapa permasalahan yang tercatat di studi tersebut. Selain itu, anak anak tersebut lebih gampang ketakutan di banding mereka yang pernah tidur bersama orang tuanya (Herons 1994).
Keuntungan Co-Sleeping juga disimpulkan dari temuan penelitian Lewis & Janda (1988). Studi tersebut menyimpulkan, pada responden pria yang sejak lahir hingga usia lima tahun pernah tidur bersama orang tua, umumnya memiliki kepercayaan diri yang tinggi, jarang memiliki ketakutan dan rasa bersalah serta kualitas seksual yang baik. Bagi wanita, 'efek' dari kegiatan tersebut diasosiasikan pula dengan adanya rasa 'affection' saat ia dewasa.
Pada penelitian tema sejenis juga ditemukan bahwa anak anak yang pernah tidur bersama orang tuanya lebih jarang menjalani terapi psikiatri (Forbes et al 1992). Bahkan dari studi terbesar dengan tema terkait yang melibatkan 1400 orang lintas etnis di Chicago menghasilkan temuan bahwa pada orang dewasa yang pernah melakukan Co-Sleeping di masa kecil memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi dibanding rekannya yang tidak pernah melakukan (Mosenkis 1998).
Co-Sleeping dan SIDS
Para penganut faham kontra terhadap Co-Sleeping biasanya menggunakan argumentasi kemungkinan terjadinya Sudden Infant Death Syndrom (SIDS) ataupun kematian bayi seperti halnya yang ditemukan dari penelitian Mortimer (2001) yang dilakukan di beberapa kota besar seperti Chicago, Cleveland, Washington D.C dan St. Louis . Sayangnya, argumentasi tersebut tidak memperhatikan faktor keamanan yang harus dipenuhi saat dilakukannya Co-Sleeping.
Responden pada studi tersebut adalah para ibu miskin keturunan afrika yang umumnya mengkonsumsi rokok, narkoba dan alkohol. Selain itu bayi bayi mereka pun biasa ditidurkan dalam posisi tengkurap tanpa memperhatikan jenis matras tidur yang digunakan. Tak heran dalam kondisi di atas ditemukan tingginya angka kematian bayi. Karenanya argumen yang berangkat dari penelitian serupa tanpa memperhatikan terpenuhinya syarat Co-Sleeping yang aman sebenarnya tidak dapat digunakan sebagai bukti yang menyatakan adanya keterkaitan langsung antara SIDY dengan praktek Co-Sleeping.
Hubungan antara Co-Sleeping, menyusui eksklusif dan rendahnya SIDS bahkan dapat dibuktikan dari studi yang dilakukan di Kanada oleh Sankaran et al. (2000). Kesimpulan serupa juga ditemukan dari hasil penelitian di Afrika Selatan : bayi yang tidur bersama ibunya memiliki peluang untuk hidup lebih besar (Kibel und Davies 2000). Pada beberapa wilayah dimana Co-Sleeping dianggap sebagai satu norma umum yang berlaku seperti di Hongkong dan Jepang, bahkan memiliki angka terendah kasus SIDS di dunia.
Dari penjelasan yang telah dikemukakan, maka moms telah dapat mengetahui beberapa manfaat dari tidur bersama antara ibu dan si kecil. Kombinasi Co-Sleeping dan menyusui bahkan merupakan tindakan terefektif dan integratif pelayanan akan kebutuhan si kecil di malam hari. Kepercayaan, komunikasi, sentuhan, pemberian makanan dan penguatan sistem kekebalan tubuh: kesemuanya dapat diperoleh dari dua kegiatan yang dilakukan dalam satu waktu tersebut.
Belum lagi ditambah dengan semakin kecilnya risiko terjadinya kematian bayi secara mendadak melalui aktivitas Co-Sleeping. Tak dapat dipungkiri, kegiatan tidur bersama tersebut adalah tindakan menguntungkan bagi ibu dan bayi. Karenanya pertanyaan "Amankah bila saya tidur bersama si kecil?" seharusnya tak lagi mommies ajukan, namun kalimat berikut yang sebaiknya moms tanyakan "Amankah bila saya tidak tidur bersama si kecil?". (DaI)
*Foto dari www.corbis.com |