|
Di tiap penjuru bumi manapun, bahasa tubuh adalah first mother tongue yang berpengaruh dalam komunikasi yang akan berjalan. Demikian halnya pada bayi yang baru dilahirkan, "pembicaraan" pertama dengan ibunya yang dimengerti adalah "bahasa tubuh". Bahasa ini pula lah yang nantinya akan mendominasi pola penjalinan hubungan awal ibu-anak serta akan banyak mempengaruhi ketrampilannya dalam berkomunikasi di masa depan.
"Pembicaraan" antar si kecil dengan sang ibu umumnya dimulai saat ia melakukan kontak sentuhan kulit pertama kali beberapa saat setelah dilahirkan. Pada masa awal ini, hal yang utama dibutuhkan oleh si kecil adalah kebutuhan untuk berdekatan dengan sang ibu agar rasa aman didapatkan. Melalui aktivitas tersebut, produksi hormon prolaktin dan oksitosin sang ibu akan distimulasi sekaligus suhu tubuh si kecil serta metabolisme tubuhnya akan makin beradaptasi dengan lingkungan yang baru dikenalnya (Christensson et.al 1992). Kebutuhan untuk menyusui sendiri biasanya baru timbul pada 30-60 menit pertama setelah dilahirkan.
Bila si kecil dibiarkan terbaring di perut ibunya untuk beberapa saat dan sang ibu sabar menunggu, maka keinginan mencari puting susu ibunya akan muncul dengan sendirinya (Widstrom et. al. 1990). Tak heran bila seorang bayi yang baru dilahirkan amat menikmati masa satu jam pertama kehadirannya di dunia. Di 60 menit pertama tersebut, ia mulai membiasakan diri dengan bau sang ibu serta akhirnya menikmati pemberian ASI pertama kali. Setelah melalui masa "perkenalan", si kecil dan sang ibu biasanya dapat tidur dengan nyenyak, beristirahat dari proses kelahiran yang cukup menyita energi.
Agar saat menyusui pertama dapat berjalan sukses, maka diperlukan beberapa persyaratan dan kondisi yang harus seoptimal mungkin terpenuhi. Beberapa hal pendukung tersebut adalah:
-Penggunaan seminimal mungkin obat-obatan khususnya opium dan sejenisnya pada proses melahirkan . Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nissen et. al. 1995 penggunaan obat obatan tersebut dapat mempengaruhi kemampuan sang bayi dalam mencari puting susu ibu serta daya isapnya, baik singkat ataupun lebih lama.
-Kontak kulit yang tidak terganggu selama dua jam pertama setelah dilahirkan antar si kecil dan ibunya atau hingga saat pemberian ASI pertama kali dapat dilakukan (ILCA 2000:7; SFN 2000:7).
-Berselimut bersama dan penempatan di ruangan sepi yang terhindar dari gangguan kebisingan.
-Pemeriksaan pada bayi baru lahir dan Apgar-Test dilakukan di atas perut sang ibu.
-Kegiatan pengukuran, penimbangan, pembersihan badan bayi, pemberian vitamin K ataupun penetesan erytrhromycin pada mata hendaknya dilakukan dua jam setelah bayi dilahirkan atau setelah terjadi kontak menyusui pertama kali (ILCA 2000:7).
-Membiarkan bayi kondisi sehat untuk mencari sendiri puting susu ibunya
-Pemberian bantuan untuk menyusui bila hingga 60 menit pertama si kecil tidak mampu menemukan puting susu sang ibu secara spontan.
Bila proses kelahiran dilakukan melalui proses bius total, si kecil memiliki masalah kesehatan yang perlu ditangani segera atupun keadaan yang mengharuskan ibu-anak terpisah, maka proses penjalinan kontak kulit dan pemberian ASI pertama kali harus segera dilakukan saat kondisi ibu (dan/atau) si kecil telah pulih. Beberapa persyaratan/kondisi yang telah disebutkan di atas pun sebaiknya juga dilakukan karena akan mempengaruhi sukses menyusui pertama kali.
Pemberian ASI kedua kali biasanya terjadi enam jam setelah bayi dilahirkan. Pada masa tersebut, pertolongan profesional dalam kegiatan menyusui amatlah dibutuhkan. Bidan, perawat ataupun tenaga profesional kesehatan terkait hendaknya mengamati pola menyusui yang terjadi sekaligus memberikan masukan yang optimal dan informasi terkait dengan pemberian ASI . Pengenalan beberapa posisi menyusui pun sebaiknya didapatkan oleh para ibu, demikian halnya koreksi yang perlu dilakukan untuk memperbaiki teknik menyusui yang telah dilakukan.
Pada masa masa awal setelah melahirkan, khususnya bila proses kelahiran dilakukan di rumah sakit atau klinik, evaluasi per delapan jam tentang beberapa hal berikut penting untuk dilakukan: kondisi payudara dan puting susu, posisi ibu dan bayi saat menyusui, cara mulut bayi "menangkap" puting susu, signal terjadinya transfer ASI, interaksi ibu-bayi, frekuensi menyusui, kuantitas popok yang basah, kuantitas pup, pola perubahan berat badan serta posisi menyusui terefektif. Dengan didapatkannya data data di atas diharapkan evaluasi kegiatan menyusui yang telah dilakukan dapat diperoleh, sehingga dapat dijadikan dasar pengetahuan sang ibu agar pemberian ASI dapat berjalan sukses.
Melalui penciptaan kondisi menyusui bayi sedini mungkin, penggunaan metode yang tepat serta pemberian ASI sesuai kebutuhan bayi--siang ataupun malam-- maka masa awal menyusui diharapkan dapat berjalan tanpa kendala berarti. Dalam hal ini tak dapat di sangkal bahwa "first contact" ibu-anak adalah bekal yang terpenting untuk terwujudnya kombinasi optimal bagi tercapainya sukses menyusui. Karenanya, jangan sia siakan masa beberapa jam pertama si kecil dunia ya mommies agar program pemberian ASI pada si buah hati dapat berjalan sukses. (DaI)
|