|
Mommies pernah mendengar istilah Early Masturbation? Nah, early masturbation ini dapat lho dialami oleh balita sebagaimana keluhan yang mom satu ini sampaikan di milist We R Mommies. Berawal dari kekhawatiran beliau tentang "kebiasaan aneh" yang putranya (2 th 10 bl) miliki, mom tersebut menanyakan di milist WRM apakah kebiasaan menggesekkan alat kelamin pada anak balita merupakan kebiasaan yang membahayakan bagi perkembangan psikologi anak. Terlebih alasan dilakukannya kebiasaan tersebut adalah 'kenikmatan' yang si anak peroleh setelah melakukannya. Beliau sebenarnya telah berkonsultasi pada salah satu psikolog di kotanya, namun anak tersebut hanya diindikasikan hipertaktil dan hipotonus. Terapi yang disarankan psikolog tersebut sendiri hanya berupa peningkatan kuantitas kegiatan fisik dan pemijatan. "Mencemaskan tidak ya mom kebiasaan putra saya tersebut?" tanya beliau di milist WRM.
"Sepertinya kebiasaan masturbasi tersebut harus dihentikan segera karena merupakan kebiasaan buruk dan berhubungan dengan seks" demikian ungkap mom satu ini di awal tanggapan postingannya tentang tema early masturbation. Menurutnya, bila kebiasaan ini tidak dihentikan sedini mungkin maka akan dapat menjadi satu kebiasaan yang terus berlangsung hingga dewasa. Beliau juga membagi pengalaman serupa yang dialami oleh putra tetangganya yang berumur enam tahun. Menurut info yang beliau terima dari orang tua sang anak, putranya memang sering melakukan hal tersebut sedari kecil. Orang tuanya sendiri mencurigai bahwa kebiasaan itu muncul karena saat balita sang anak pernah tak sengaja melihat orang tuanya sedang berhubungan intim dan melihat film dewasa yang sedang ditonton orang tuanya. " Saranku lebih baik dilanjutkan saja terapinya ke psikolog agar kebiasaannya dapat hilang" tulisnya.
Mom lain yang berprofesi sebagai psikolog menerangkan bahwa sebenarnya tindakan early masturbation tidak selalu terasosiasi dengan seksualitas. Dalam hal ini biasanya sang anak awalnya melakukannya secara tidak sengaja, namun karena terasa enak dan nyaman, maka selalu diulangi sehingga terbentuk menjadi satu kebiasaan. Pemacu terjadinya tindakan tersebut dapat berasal dari kecemasan, kemarahan, tidak adanya aktivitas dan faktor kepuasan (yang biasanya terjadi karena pengulangan). Orang tua sendiri perlu ekstra observasi untuk mengetahui kapan si anak melakukan tindakan early masturbation tersebut sehingga antisipasi aktivitas yang lain dapat dipersiapkan.
Tentang indikasi hipertaktil/hipersensitif taktil, beliau menerangkan bahwa gangguan tersebut merupakan gangguan modulasi dalam sensory integration. Taktil/perabaan sendiri mendapat input 3T: texture, temperature, tense. Maka yang dimaksud dengan Hipersensitif Taktile adalah keadaan dimana seseorang terlalu sensitif. Biasanya ciri yang dimiliki adalah tidak mau sikat gigi, tidak mau digunting rambutnya, tidak mau memegang lem, terlalu jijik. Berlawanan dengan hipersensitif taktil, hiposensitif taktil biasanya selalu ingin mencari input 3T yang berlebihan, semisal senang menggosok gosok, senang dipijat dll. Maka secara logika, early masturbation semestinya didefinisikan termasuk ke dalam Hiposensitif Taktile sehingga tak heran cara terapi yang dianggap efektif adalah melalui pemijatan, mandi washlap dll.
Hipotonus sendiri adalah kondisi dimana otot seorang lemah, berdiri tidak tegak dll. Karenanya bila memang psikolog rujukan mom yang anaknya mengalami early masturbation memberikan saran untuk peningkatan kuantitas aktivitas dan pemijatan, hendaknya mom tersebut menanyakan dengan jelas tujuan dari pemberian terapi dan kondisi anak tersebut dengan teliti (sebelum dan sesudah menjalani terapi).
" Saya jadi penasaran, apakah kebiasaan aneh ini bisa terbawa sampai dewasa nanti atau bagaimana?. Karena terus terang saja buat saya yang mempunyai anak perempuan jadi takut juga" mom berputri satu ini kembali membuka diskusi tema ini yang sempat terputus beberapa minggu. Ditambah dengan pengalaman pribadinya yang banyak mengamati dan menjumpai laki laki yang berkategori 'exhibitionist' ini. Dari acara talk show yang beliau sering ikuti disimpulkan bahwa kelainan seksual ini biasanya berawal dari masa kecil.
Satu masukan datang dari mom ini yang menceritakan bahwa putranya saat berusia dua tahun juga memiliki kebiasaan memegang alat kelaminnya, terutama bila ia merasa takut, tidak nyaman dan sedang tidak ada kegiatan (bengong). Tiap kali putranya memegang alat kelaminnya, maka tiap itu pula sang mom menepis tangannya sambil memberikan penjelasan bahwa ia tak boleh memegang alat kelaminnya. Sebagai alternatif, beliau selalu mengajak anaknya melakukan kegiatan yang membuat sang anak tak punya waktu 'beraktivitas sejenis'. Selain itu beliau juga menceritakan bahwa kebiasaan sang anak memegang dada pengasuh saat minum susu pun dapat dihilangkan dengan terapi yang serupa.
" Kedua anak saya laki laki, 3 th dan 1 thn, juga pernah memiliki kebiasaan memegang kelaminnya" sharing mom yang lain. Si sulung memulainya ketika usia 2 thn saat sedang mandi. Mulanya beliau tidak begitu mengkhawatirkan karena pernah membaca dalam satu artikel bahwa ada satu masa anak mengenali diri dan badannya dengan memegang alat kelaminnya, baik laki-laki atau perempuan. Namun setelah diamati beberapa bulan aktivitas memegang kelamin tersebut masih saja terus berlangsung , maka sang mom berusaha menghentikannya. Proses penghentiannya sendiri memakan waktu yang cukup lama mengingat kebiasaan tersebut sudah cukup lama dijalankan. Berbeda dengan adiknya yang segera di 'stop' untuk tidak menjalani masa genital nya teralu lama, maka proses penghentiannya cukup singkat.
Mom ini pun memberikan saran terkait berdasarkan bacaan dan pengalaman yang pernah dialami. Beberapa saran yang beliau anjurkan adalah sebagai berikut.
1. Jangan dilarang dengan keras, karena akan membuat anak memberontak bahkan melakukannya menjadi jadi. 2. Jika anak lebih besar, berikan pengertian, bahwa bila tangan kotor bisa membuat kelaminnya sakit dan infeksi. 3. Ajak anak melakukan aktivitas aktif yang menyenangkan, misalnya berolah raga, main sepeda, menggambar, sehingga tangannya tidak 'menganggur'. 4. Berikan kenyamanan maksimal pada anak, karena aktivitas ini juga terjadi salah satunya karena pelampiasan dari ketidaknyamanan anak akan sesuatu. 5. Ajak seluruh anggota keluarga untuk aktif mengajak si kecil mengalihkan perhatian dari memainkan alat kelaminnya. 6. Perlu waktu, harus bersabar dan jangan menyerah.
" Tadinya aku sempat berpikir, mudah mudahan karena masih kecil, masih lebih mudah disembuhkan / dihilangkan kebiasaan 'aneh' ini; mungkin ini hanyalah 'kesenangan' sesaat, dengan bertambah usia si anak, hilang pula 'kesenangan' ini" ungkap mom satu ini pada postingannya di milist WRM. Ia pun menceritakan beberapa pengalaman dan pengamatannya tentang kebiasan mencari kesempatan pada para pria di kondisi berdesakkan dengan menghimpitkan dan menggesekkan alat kelaminnya pada tubuh wanita. Beliau pun juga menanyakan kapan 'penyakit' ini mulai muncul, apakah penderita akan semakin bertambah banyak, apa pemicu tindakan aneh yang ada, adakah hubungannya dengan kebiasaan aneh di waktu kecil, mungkinkah dilakukan pengontrolan atau disembuhkan dan bagaimana menghadapinya.
Tanggapan terakhir muncul dari mom berputra tiga ini. Beliau tidak mengemukakan penjelasan, bahkan menanyakan bagaimana cara membedakan masa genital yang 'aman' dan yang 'membahayakan'. Hingga artikel ini dibuat, sayangnya belum ada lanjutan diskusi dengan tema terkait. (WRM/DaI)
|