We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Renungan arrow Perempuan vs Waktu
Perempuan vs Waktu E-mail
Pengirim: Ena Lubis   
Selasa, 30 Januari 2007

Setiap waktu adalah penting dan manusia takkan pernah berpisah dengannya. Menit berganti jam, berganti hari, berganti minggu, berganti bulan, berganti tahun. Dari sesosok bayi yang lucu menjadi manusia dewasa. Melalui pelbagai proses dengan segudang aktifitas dan masalah. Jadi bisa disimpulkan bahwa semua proses kehidupan tak pernah terlepas dari waktu.

Coba saja simak apa yang dikatakan Dr. Sulaiman bin Hamd Al-Audah tentang waktu. "Bila waktu tidak dipergunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, maka ia akan digunakan untuk hal-hal yang tidak baik. Orang yang tidak bisa menggunakan waktunya dengan baik akan menyia-nyiakan waktu itu dalam hal-hal yang berbahaya dan tidak ada manfaatnya karena tabiat manusia tidak bisa tinggal diam dan berhenti dari beraktifitas. Kalau aktifitas ini diarahkan dengan baik maka manfaatnya akan kembali kepada umat, tetapi kalau sebaliknya maka akan menjadi lahan subur bagi setan."

Ucapan beliau benar adanya. Disadari atau tidak, setiap manusia pasti melakukan aktifitas setiap hari meski hanya tidur dan tidur melulu. Bukankah tidur juga merupakan aktifitas?

Cobalah sekali-kali di satu malam menjelang tidur, kita mengingat kembali apa saja yang telah kita lakukan sejak bangun di pagi hari sampai saat berbaring menjelang tidur. Apa saja aktifitas kita hari itu? Berapa banyak aktifitas yang berguna dan tidak? Dan berapa banyak aktifitas yang kita persembahkan bagi kemashlatan umat? Lalu berapa banyak waktu yang kita gunakan hanya untuk memenuhi egoisme pribadi? Adakah di antara ucapan atau perilaku kita selama satu hari itu yang mungkin saja sudah menyakiti orang lain?

Setelah itu, pikirkan apa yang ingin kita kerjakan esok hari. Jikalau perlu, buat daftar aktifitas kita sejak bangun pagi. Kemudian baca kembali daftar tersebut, apakah masih ada yang kurang? Jika sudah lengkap, baca kembali! Hitung berapa banyak aktifitas yang bermanfaat bagi kemashalatan umat, berapa banyak waktu yang kita persembahkan untuk keluarga, dan berapa bagian untuk diri sendiri.

Suka atau tidak, sebagai perempuan kita harus mengakui bahwa kita sering terlena dalam hal-hal yang tidak berguna. Tidak percaya? Coba ingat kembali saat pergi ke supermarket untuk membeli sekaleng susu atau sebungkus roti. Berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk itu? Sepuluh menit? Atau satu jam? Akuilah bahwa kita sering "mampir" ke tempat lain saat akan membeli sekaleng susu atau sebungkus roti tersebut. Ada yang sekedar melihat-lihat bahkan tak menutup kemungkinan sampai membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan. Parahnya yang terakhir ini acapkali terjadi.

Mari kita simak beberapa contoh berikut. Kemudian, coba pelajari, apa yang menjadi patokan mereka dalam mengatur waktu.

Sebagai perempuan lajang, sebagian besar tentunya masih tinggal bersama orang tua. Sebagian lagi tinggal bersama saudara dan sisanya tersebar di rumah-rumah kontrakan/kost. Lihat saja si Ani, seorang gadis duapuluh tahun yang tinggal di sebuah rumah kost perempuan dekat kampus. Untuk menjaga kamarnya tetap dalam keadaan rapih dan bersih, dia harus rajin mengepel, mengganti seprai dengan teratur, melap meja, lemari, dsb. Meski demikian dia juga harus kuliah enam hari dalam seminggu, ke perpustakaan, mengerjakan tugas-tugas, asistensi lab, mengisi pengajian untuk anak-anak SMU dan tidak lupa pulang ke rumah untuk bertemu keluarga walau hanya lima jam saja.

Lain lagi dengan Lia. Seorang ibu muda usia duapuluh sembilan tahun dengan dua orang putra. Dia harus mengurus suami dan kedua anaknya, merapikan rumah, memasak, ke pasar, mengantar anak ke sekolah, mengajar keduanya mengaji, memberikan pengajian kepada beberapa orang gadis di rumahnya, dsb tanpa bantuan dari seorang pembantu. Begitu pula dengan Nisa, seorang ibu yang bekerja di kantor dengan seorang putri dan seorang putra. Dia harus berangkat pukul setengah enam pagi selama lima hari dalam seminggu. Meninggalkan anak-anak saat mereka baru saja terjaga dari mimpi indah dan baru pulang saat matahari sudah tenggelam. Meskipun begitu, dia tetap mengurus suami dengan baik, mengajarkan anak-anaknya mengaji setiap hari, membantu mereka mengerjakan tugas sekolah, membacakan cerita sebelum mereka tidur, berbelanja segala keperluan rumah untuk waktu seminggu ke depan, dsb.

Masya Allah! Betapa sibuknya para perempuan itu. Bayangkan berapa banyak energi yang harus dikeluarkan untuk dapat melakukan itu semua. Dua-puluh-empat jam sehari rasanya belum cukup untuk mereka.

Di pihak lain, seorang perempuan berkeluh kesah. Katanya, "Saya adalah orang yang lemah. Pagi hari saya sudah berangkat bekerja dan baru pulang sekitar jam delapan malam. Belum lagi saya juga harus meladeni suami padahal saya sudah lelah bekerja seharian. Oleh karena itu, saya hampir tidak pernah memasak untuk suami. Kadang saya memasak saat libur tapi itu sangat jarang sekali. Toh, sampai sekarang kami cuma tinggal berdua saja di rumah."

Mengapa dia tidak berhenti bekerja saja? Dia akan bisa memasak, mengurus rumah dan sebagainya dengan baik. Terlebih lagi dia tidak akan merasa kelelahan karena sudah bekerja di luar seharian. Bukankah yang begitu itu jauh lebih baik?

Namun ternyata yang bersangkutan menolak dengan alasan kalau dirumah hanya membuang waktu, melamun dan menanti suami pulang kerja. Lho koq? Bukankah dia mengeluh karena lelah bekerja seharian di luar rumah? Tapi mengapa dia tidak rela melepaskannya? Apa benar bila tidak bekerja maka kita tidak akan memiliki kegiatan di rumah? Dan bukankah apa yang dialaminya sudah menjadi resiko bagi seorang ibu bekerja? Lalu, mengapa harus mengeluh?

Beberapa contoh tersebut bisa membuat kita berkesimpulan bahwa manajemen waktu yang baik ternyata harus didukung dengan kebulatan tekad dan disiplin yang tinggi untuk mewujudkannya. Jika tidak, maka semua hanya menjadi seonggok omong kosong belaka. Apalagi begitu banyak hal yang melenakan di dunia ini. Yang sering membuat kita lupa akan hal-hal mendasar yang menjadi tanggung jawab kita sebagai khalifah di muka bumi.

Coba kita simak kembali tulisan dari Dr. Sulaiman bin Hamd Al-Audah berikut, "Untuk menjauhkan manusia agar mereka tidak mempunyai kesempatan untuk merencanakan rencana baru, maka kami akan membuat mereka terbuai dengan kelalaian permainan pengisi waktu kosong dan klub-klub umum. Dengan segera kita mengiklankan di koran/media massa; menyeru mereka agar bersegera masuk ke dalam berbagai permainan dalam proyek-proyek seni, olah raga, dan sebagainya. Dengan itu semua maka bangsa-bangsa akan kehilangan waktu untuk berpikir mengenai masa depan dan mereka akan merengek-rengek kepada kita."

Mungkin sebagian dari kita tidak menyadarinya. Dengan mudah kita terhipnotis dengan acara-acara yang disajikan di televisi, panggung-panggung, dsb. Semua mengatakan bahwa itu adalah bagian dari seni, olah raga, penenang otak yang sedang lelah atau apalah lagi alasannya. Pikirkan berapa banyak waktu yang telah terbuang percuma hanya karena menonton sinetron yang dari hari ke hari tema ceritanya tidak pernah berubah; hanya setting dan judul saja yang berganti.

Memang tak salah untuk beristirahat. Tak salah pula jika ingin menonton acara televisi atau pergi ke pertunjukkan seni atau yang lainnya. Tapi salah jika semua itu sudah mengacaukan tugas dan kewajiban kita sebagai anak, ibu, dan istri.

Coba simak baik-baik perkataan Al-‘Alamah al-Manawi Rahimahullah, "… waktu kosong bagi seorang laki-laki adalah kelalaian, sedang bagi perempuan adalah nafsu syahwat."

Potongan kalimat di atas memberi gambaran kepada kita bahwa sangatlah tidak baik bagi seorang perempuan bila ia tidak memanfaatkan waktu kosongnya untuk hal-hal yang berguna karena waktu-waktu kosong itu hanya akan digunakan setan untuk mengembangkan hawa nafsu. Naudzubillah! Tentunya sebagai seorang perempuan, kita tidak ingin diperbudak nafsu, bukan?

Sungguh! Sebaik-baiknya manusia adalah yang menghargai dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Sehingga, meski manusia terlahir dengan nafsu dan akal, dia akan mampu menyeimbangkan keduanya dengan pembagian aktifitas-aktifitas yang yang seimbang pula. Semua itu dimaksudkan agar manusia tidak menjadi budak dari salah satu di antara keduanya.

Allah Ta’alaa telah menciptakan perempuan dengan kemampuan yang begitu besar meski tidak sama antara yang satu dengan lainnya. Maka manfaatkanlah waktu dan kemampuan kita itu dengan sebaik-baiknya. Sehingga tidak ada sepenggal waktu dalam hidup yang masih tersisa ini terbuang sia-sia.

Hidup ini begitu singkat. Mari kita isi dengan hal-hal yang mendatangkan berkah.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement