Seorang teman curhat kepada saya. Dia merasa sangat malu untuk bertemu dengan teman-teman, apalagi untuk kopdar dengan teman milis yang sebagian besar adalah Mom. Mengapa? Karena dia tidak bisa memberi ASI untuk anaknya. Efeknya sampai sejauh itu?
Di tengah kampanye pemberian ASI eksklusif, di tengah maraknya diksusi ASI di milis-milis, di tengah banyaknya cerita tentang ibu yang bisa memberi ASI selama 6 bulan (bahkan sampai 2 tahun), ibu-ibu seperti teman saya (dan juga saya yang hanya bisa memberi ASI selama 3 bulan), merasa agak "tersingkir".
Moms, berbanggalah diri Anda yang bisa memberi ASI eksklusif ke buah hati. Tidak sedikit moms lain yang tidak bisa memberikan minuman terbaik itu ke anaknya. Bukan karena malas tentu saja. Bukan juga karena dia ingin tubuhnya tetap bagus. Tapi karena sesuatu sebab (sakit sehingga harus menghentikan pemberian ASI karena mengonsumsi obat; puting tidak keluar; atau sebab lain).
Berbagai cara, upaya, dan semua saran telah diikuti. Tapi apa daya, air susu tiba-tiba berhenti. Dampaknya ternyata tidak bisa dianggap enteng, terutama untuk moms yang sejak tahu dirinya hamil telah bertekad akan memberikan ASI. Shock... itu pertama-pertama yang terjadi. Sedih, menangis, kecewa, atau bahkan depresi. Dan terakhir... saat ditanya oleh orang lain, "Anaknya masih ASI kan?" Merasa bahwa diri adalah ibu paling buruk sedunia. Akibatnya bertemu dengan sesama ibu maupun teman (yang seringnya menanyakan hal itu), menjadi sesuatu yang "menakutkan". Paling tidak itu yang teman saya alami (dan tentu saja pernah saya alami).
Jangan menyalahkan diri
Minum jamu yang pahit, makan daun katuk dan memompa susu setiap hari, melakukan pijat, telah dilakukan. Tapi karena sesuatu hal, ternyata ASI tidak banyak keluar dan akhirnya berhenti. Apa yang salah? Tidak ada.
Jangan pernah menyalahkan diri sendiri karena hal itu. Toh kita telah berusaha semampu kita (kecuali ada yang enggak berusaha ya). Moms, yakinlah bahwa anak kita suatu saat akan memahami bahwa kita telah melakukan berbagai cara untuk memberinya ASI. Jangan pernah beranggapan bahwa tanpa memberi ASI dunia serasa runtuh.
Jadi jika ada seseorang bertanya, "Anaknya masih ASI kan?" Jawab saja apa adanya. Ceritakan apa yang telah mom lakukan untuk mendapatkannya. Mungkin tidak semua orang bisa menerima. Tapi pikirkan satu hal: saya telah berusaha melakukan yang terbaik.
Bukan hanya ASI
Tidak bisa memberi ASI bukan suatu aib yang harus ditutup-tutupi. Berpikirlah positif. Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan. Misalnya, karena tidak bisa memberi ASI, maksimalkan hubungan dan cara mengasuh anak : meluangkan waktu setiap weekend untuk anak (memandikan, menyuapi, bermain bersama, membacakan cerita, mengajak jalan-jalan keliling kompleks, mengajari naik sepeda, dan lain-lain). "Good parenting is more than breastfeeding," ujar Jan Barger, seorang konsultan laktasi.
Bisa tidaknya memberi ASI bukan patokan apakah dia ibu yang baik atau buruk. Bisa memberi ASI, namun kemudian mengabaikan anak tanpa membimbingnya, jauh lebih buruk. Memang paling bagus bisa memberi ASI dan memberi banyak perhatian ke buah hati. Tapi saat hal itu terjadi, saat ASI tidak bisa keluar dan segala daya telah dilakukan, tegarlah! Duniamu belum berakhir. |