We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Buah Hati arrow Bijak Memilih Mainan
Bijak Memilih Mainan E-mail
Pengirim: Meidya Derni   
Selasa, 23 Januari 2007

“Sayang anak…!” “Sayang anak…!” “Beli Pak…!” “Beli Bu…, untuk anaknya…!” “Sayang anak…, sayang anak…!”
Ungkapan-ungkapan seperti itu sering kita dengar dari pedagang mainan anak-anak. Sayang anak! Yang akhirnya membuat orangtua tergoda untuk membeli.

Hal ini bisa dimaklumi. Dikarenakan sebagai orangtua, tentulah kita ingin mengungkapan rasa cinta kasih kita terhadap anak-anak kita. Ungkapan dari mulai ucapan,“Ibu sayang kamu”. Perhatian. Pelukan dan ciuman. Juga berupa benda seperti mainan. Walaupun terkadang mainan tersebut tidak ada gunanya.

Untuk itu orangtua diharapkan mampu dapat bersikap bijaksana dalam memilih mainan untuk anak-anaknya. Apalagi saat ini, sering kali penjual mainan mengiming-imingi produknya dengan label edukatif. Yang dapat berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak. Tawaran-tawaran produk mainan tersebut tidak hanya dapat kita jumpai di darat, tetapi juga telah beredar di berbagai mailinglist.

Padahal sejauh ini belum ada riset yang mengkhususkan bagaimana pengaruh suatu bentuk permainan terhadap pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak. Hal ini diungkapkan oleh seorang ahli pendidikan Adi D Adinugroho, MA yang saat ini sedang menyelesaikan program Doctor di Purdue University(Amerika).

Memang banyak riset di area strategi-strategi pembelajaran yang menggunakan mainan sebagai strategi efektif dalam belajar memahami suatu konsep maupun meningkatkan motivasi, namun hanya terbatas dalam hal tersebut.

Biasanya dalam strategi marketing permainan-permainan “edukatif” selalu dibumbui dengan embel-embel “sudah terbukti melalui riset” dan seterusnya. Tentunya sebagai konsumen yang “cerdas dan bijak", bila memang terdapat embel-embel “terbukti dengan riset” maka hendaknya konsumenlah yang harus mencari tahu lebih jauh tentang riset yang dimaksud: bagaimana pelaksanaanya, hasilnya seperti apa, siapa penyelenggara riset tersebut dan lain-lain.

Tidak sedikit perusahaan mainan yang mengalokasikan sebagian biaya produksinya untuk riset. Namun demikian perlu diingat, riset-riset yang dilakukan perusahaan mainan tersebut tentunya dimaksud untuk meningkatkan marketing produk tersebut dipasaran, itu adalah bisnis dan itu wajar.

Mainan “edukatif” yang bagus biasanya melaporkan hasil riset tidak hanya internal (dari perusahaan tersebut) tetapi juga external (orang lain/luar yang mengkaji keefektifan mainan tersebut). Bahkan kadang disebutkan juga “kritikan-kritikan” dari riset-riset luar terhadap mainan tersebut. Jadi si konsumen mendapat informasi yang benar sebelum membeli produk. Kalau yang ditawarkan yang bagus-bagus saja, perlu diwaspadai karena temuan riset selalu ada kelebihan dan kekurangan. Seperti prinsip 2 sisi mata uang, if it sounds too good to be true, then its probably is too good to be true.

Pertimbangan dalam membeli mainan”edukatif”

Terdapat beberapa hal yang perlu dicermati bila kita ingin membeli mainan yang “somewhat” didefinisikan “edukatif”, dapat membantu proses tumbuh kembang anak.

Pertimbangan yang dimaksud adalah:

  • Usia anak, minat dan ketertarikan anak, kelebihan dan kekurangan anak, tahapan tumbuh kembang anak.
  • Mainan tersebut dimainkan secara individu atau bisa untuk bermain kelompok.
  • Keamanan, terutama untuk balita dan anak berkekhususan.
  • Tujuan dari mainan/game tersebut. Cara bermainnya bagaimana? Apakah ada aktivitas sebab akibat (causal effect) dalam bermain? Apakah ada aktivitas komunikasi? Apakah ada interaksi di dalamnya? Apa ada proses belajar didalamnya (trial & error)?
  • Apakah mainan tersebut mempunyai direct feed back kepada anak? training/learning/drill session?
  • Lantas dampaknya apa? Ketrampilan apa saja yang dapat dibantu dalam tumbuh kembang si anak, bila si anak bermain permainan ini? (motorik halus/kasar atau sosial/emosi atau komunikasi/berbahasa atau kognitif)
  • Ketrampilan dasar apa saja yang diperlukan si anak untuk dapat bermain mainan tersebut (prerequisites skills). Sulitkah mempelajari ketrampilan dasar tersebut bagi si anak dengan pertimbangan tahap kembangnya?
  • Pertimbangan ekonomi. Sesuai tidakkah harga dengan yang ditawarkan? Sesuaikah dengan “kantong” kita.

Perlu diperhatikan, permainan edukatif tidak harus selalu mahal. Permainan tradisional dan sederhana seperti congklak (dakon) pun bisa menjadi edukatif karena bisa mengajar anak untuk berstrategi dan menghitung kemungkinan-kemungkinan.

Hal tersebut memang sudah terbukti dengan banyaknya riset yang menggunakan congklak/dakon/mancana dalam mengajarkan matematika. Risetnya pun bukan dari produsen mainan, tetapi dari ilmuwan yang tertarik oleh mainan tersebut.

Pertimbangan-pertimbangan dalam memilih mainan “edukatif” yang telah disampaikan di atas tentu tidak “melulu” harus diterapkan secara kaku. Kadang permainan yang sederhana atau bahkan kotak mainan malah lebih menarik buat si anak. Terlebih pada anak usia batita, bila ia membuka kado maka yang lebih menarik minat “mainnya” biasanya malah bungkus kado dan kotaknya, bukan mainan itu sendiri.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement