We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Info Tempat arrow Menghadapi Perilaku Anak Dengan Sabar: Mungkinkah?
Menghadapi Perilaku Anak Dengan Sabar: Mungkinkah? E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Senin, 15 Januari 2007

Banyak orang mengatakan sebagai orang tua kita harus memiliki stock sabar yang luar biasa, namun mudahkah menjalankan sikap sabar tersebut?. Salah satu mom di wrm yang hendak mengumpulkan bahan untuk tulisannya menanyakan pada moms di wrm-indonesia tentang beberapa hal yang membangkitkan keinginantahuannya: kelakuan anak seperti apa yang biasa membuat para moms kehilangan kesabaran? saat sabar "menghilang", hal apa saja yang biasa mommies lakukan? tips apa saja yang dapat dilakukan agar dapat konsisten menjalankan sabar?. Ingin tahu beberapa jawaban para mommies di wrm-indonesia? Silakan ikuti rangkuman di bawah ini!.

Hilang Sabar Itu...

- Sangat manusiawi sekali bila satu saat kita hilang kesabaran, asalkan kita tetap rasional dalam memilih alternatif apa yang harus kita lakukan saat dalam kondisi marah.

- Bisa membuat kondisi mengomel, menggerundel, melotot dan cemberut.

- Pasti satu saat dialami. Namun percaya deh, walau sabar itu sulit diraih, buahnya manis sekali bila sudah dapat dijalankan.

- Sangat wajar. Yang terpenting mengkomunikasikan kembali ke anak mengapa kita sampai 'marah besar', kemudian minta maaf ke anak.

- Normal saja. Tapi perlu diingat bahwa sabar itu jadi ketrampilan pertama yang paling diinginkan ortu dari hasil penelitian York University 1999. Berarti benar sekali, sabar itu kebutuhan tiap orang tua (lihat di sini).

- ...saya itu orang yang sumbunya pendek, titik didihnya rendah, alias gampang mendidih. Ini saya corat-coret karena diskusi sabar + Malin Kundang di WRM:).

- Amat normal sebagai manusia. Buat saya yang terpenting agar sang anak mengetahui bahwa apapun kemarahan kita bukan terhadap sang anak sebagai person tapi marah pada sikap dan perbuatannya.

Situasi Pemacu Hilang Kesabaran

- Saat sang anak menangis, merengek, ngambek sedang saya dalam kondisi letih terlebih saat PMS.

- Saat menjelang tidur di mana si kecil rewel sekali, menangis terus dan bicaranya tidak jelas sehingga saya tidak tahu apa yang ia inginkan.

- Saat sang anak lelet, keras kepala, merengek yang tidak tidak.

- Saat si kecil rewel luar biasa, uring uringan, cengeng, seba melawan dan kita tidak tahu kenapa atau apa maunya yang akhirnya ditutup dengan ulah tantrumnya.

- Saat menemani si kecil untuk pergi tidur (terlebih bila dikejar harus segera keluar rumah) dan tiba tiba sang kakak mengganggu si adik yang sudah setengah tidur.

- Saat anak anak pulang dari sekolah, dimulai dari urusan makan siang, berantem, berebut mainan, membuat seluruh ruangan berantakan dll.

- Kalau malam, saat badan sudah capek, apalagi saat sakit seperti saat ini, lagi kena flu berat, hidung mampet, kepala sakit, tengorokan sakit, batuk, pilek. Anak anak tidak mau mengerti bahwa saya sakit dan tetap melakukan aktivitas yang membuat pening kepala.

- Saat terganggu tidur malam.

- Saat pagi hari, khususnya untuk si sulung dengan makan paginya yang super duper lama terlebih untuk meminum segelas susu yang kurang ia sukai. Untuk si tengah, mengomel bisa dimulai karena sulitnya membangunkan dirinya dari tidur mengingat si nomor dua memang penikmat tidur sejati alias suka sekali tidur :). Saat di meja makan, ada saja yang memacu munculnya omelan, semisal karena saling tendang menendang kaki di bawah meja makan antar si sulung dan si tengah, saling iseng mengisengi dengan ucapan bernada menggoda atau bahkan leletnya makan karena anak anak bersikeras membaca buku di meja makan.

Saat Si Sabar Menghilang

- Berdiam diri, menarik nafas dan mengalihkan perhatian ke hal lain atau menyerahkan "sang anak" pada suami. Saat sabarnya sudah kembali, baru saya selesaikan masalahnya dengan si kecil.

- Biarkan si kecil menangis karena kerewelannya dan saya berusaha berdiam diri sambil memproduksi kesabaran baru. Tawarkan pula apa yang sang anak suka lakukan sebelum tidur semisal melihat bintang atau menyetel VCD yang disukai.

- Sabarkan diri dan usahakan kendalikan emosi. Terlebih bila si kecil masih berusia batita. Usaha si kecil untuk berbicara itupun sudah baik sekali dibanding hanya menangis berketerusan.

- Saat hektik ritual pagi hari dimulai: mandi, sarapan, pakai baju dll.

- Berusaha tarik nafas, istighfar kemudian mengingat kata kata penyemangat untuk selalu menetapi kesabaran.

- Pasang muka tegas, namun kalau bisa tetap hindari nada tinggi pada anak.

- Berusaha cooling down, minum air putih, berdiam diri di kamar untuk sementara waktu dan beristighfar. Saya juga biasa hindari beberapa menit dengan sang pembuat masalah. Setelah gejolak emosi sudah kembali mereda, baru ajak si anak bicara pelan-pelan dan tukar pikiran pada di saat sebelum tidur. Semua ini akhirnya diakhiri dengan saling memaafkan. Yang wajib diingat adalah, si anak harus tahu betul kalau kita marah itu semata-mata karena kita sayang dengan mereka.

- Khusus yang membuat hilang kesabaran adalah bertengkarnya sesama saudara, biarkan saja mereka bertengkar asalkan jangan sampai ke tindakan fisik dan omongan yang tak pantas. Saya biasa menyepi dahulu di dapur atau di kamar hingga salah satu dari mereka datang melaporkan pada saya.

- Kalau anak-anak ribut dan dirasa bisa menjadi pemacau saya marah, saya pasang saja MP3 dan sambil menghela nafas mendengerkan lagu-lagu nostalgia. Atau saya ke dapur, cuci piring atau masak sambil menyanyi sekuat hati.

- Saya langsung masuk ke kamar lain, tutup pintu, tiduran, tarik nafas panjang, dzikir.

- Biasanya saya langsung masuk kamar, menyepi, menenangkan hati, berusaha dzikir. Saya juga biasa meminta sang sumber yang membuat saya marah berdiam diri di kamar yang lain. Saat dalam proses penyepian, saya berusaha berpikir keras, penyebab situasi marahnya saya, apa benar kesalahan perilaku anak anak atau malahan hanya saya.

Bila saya simpulkan itu karena perilaku anak, saya biasanya kembali menjumpai sang anak dan memintanya untuk memikirkan mengapa saya marah, apa penyebabnya dan apa yang harus dilakukan agar situasi ini tidak terulang kembali. Untuk yang sudah dapat menulis, saya meminta untuk menuliskannya ke dalam bentuk tulisan (hehehe terbayang ndak mom berapa banyak surat-surat cinta saya dari mereka ;)), untuk yang belum, saya minta ia memikirkannya dan nanti dilaporkan ke saya. Usaha ini lumayan efektif buat saya, karena dengan itu saya agak terhindar dari acara omel mengomel yang biasanya dulu bisa berpanjang panjang.

Setelah semuanya jelas, baru diakhiri dengan acara memohon maafnya saya pada mereka karena sempat marah dan bernada keras namun biasanya saya tekankan bahwa saya marah karena perilaku mereka yang tidak sesuai, juga saya tekankan saya marah karena sayang pada mereka dan menginginkan kebaikan pada mereka.

Saya tutup dengan mohon maaf bila dalam sikap marah saya tadi ada yang membuat mereka juga marah dan terluka. Saya juga biasa tanyakan apa yang harus saya perbaiki dan saya pun memberikan masukan apa yang harus mereka perbaiki dari sikap mereka.

Tips Konsisten Menjalankan Sabar

- Menarik nafas dalam-dalam dan berzikir agar hati tenang.

- Mengendalikan emosi dan berusaha tetap berpikir jernih, bahwa anak sayaitu masih sangat kecil. Ia sedang dalam masa bingung dengan apa yang dia mau. Usahakan untuk terus berusaha lebih memahami kebiasaan si kecil.

- Takut dengan yang menitipkan anak ke kita. Takut sama Tuhan kalau ketahuan sampai lepas kontrol sama titipanNya.

- Tarik nafas dalam dan hembuskan panjang, sebelum yang keluar rentetan omelan.

- Berusaha berpikir bahwa mungkin saya dulu juga begitu, toh buah jatuh tak jauh dari pohonnya :). Tapi ini mungkin biasanya akan datang menyusul. Namun bermanfaat untuk bekal sabar di masa depan.

- Buat anak yang lebih besar, ketidaksabaran bisa dialihkan jadi percakapan atau joke. Misalnya, " Aduuh (dengan naga gemas), kamu kalau lelet begini bisa jadi kayak bajuri lho badannya!". Nah lumayan lucu kan, baru deh kita masuk lagi "Eeh.. tapi bajuri itu gitu-gitu gesit lo".

- Peluk, belai dan cium. Ini kata kunci kalau semua sudah terjadi. Kalau omelan sudah keburu keluar. Meskipun anak-anak saya yang laki-laki semua itu sudah mulai malu dicium mamanya.

- Jangan lupa maaf. Apakah kita salah atau benar. "Maaf ya mama tadi marah/tidaksabar, sebab bla bla bla....."

- Berbagi dengan suami. Biasanya kalau saya yang hilang sabar, suami yang akan mencolek-colek untuk mengingatkan agar dapat menahan. Demikian pula sebaliknya.

- Berusaha memahami kalau apapun perilaku anak yang membuat kita hilang sabar adalah salah satu lembar ujian sebagai orangtua. Mau lulus atau tidak, harus dikerjakan sebaik mungkin.

- Memotivasi diri di pagi hari untuk berlaku baik di hari ini. Salah satunya, ucapan "Shobah hul khair,Shobah hunnur.." yang artinya pagi yang membawa kebaikan dan pagi yang membawa cahaya, biasa diucapkan oleh nenek saya saat menjelang sarapan pagi.

- Coba mengerti keunikan, kepribadian si kecil serta karakteristik anak-anak seusia dia yang memang sedang masa-masa ‘sulit’. Saya juga berusaha mengingat, seburuk apapun tingkah lakunya saat itu, pasti ada perkembangan yang sedang terjadi. Kalau reaksi saya negatif, saya khawatir perkembangan yang terjadi pun akan jadi negatif. Kalo dia lagi bad mood, mungkin dia hanya punya hari buruk saat itu dan kalau saya ikut-ikutan kesal atau marah, mungkin malah membahayakan buatnya.

- Berusaha selalu mengingat bahwa sabar pada anak itu salah satu ujian. Sabar...sabar... belum tentu besok kita dapat bertemu dengan mereka, siapa tahu ini hari terakhir saya di dunia.

- Berusaha mengingat selalu bahwa anak adalah amanah dariNya yang harus dipelihara dan pertanggung jawaban itu pasti akan diminta saat hari nanti. Melalui anak mungkin kita dapat makin memperbaiki diri kita dan dari anak kita bisa berkaca diri.

Yang penting juga dipunyai, alangkah indahnya juga kita bisa punya teman bicara saat emosi kita meledak dan bisa menyiramkan air dingin serta berusaha memberikan masukan yang bermanfaat untuk mengatasi masalah yang memancing kesabaran kita.(DaI/wRM)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement