|
|
 |
       
|
Beranda Kumpulan Artikel Yang Lain Ketika Mars Jatuh Cinta |

|
Ketika Mars Jatuh Cinta |
|
|
Pengirim: Anky Padmadinata
|
|
Selasa, 02 Januari 2007 |
Siapa sangka ternyata ... sebuah ibukota dari bangsa besar Romawi di zaman antik dulu konon menurut legendanya didirikan oleh anak kembar hasil cinta Mars (dewa perang orang Romawi) dengan pendeta perempuan Rhea Silvia. Karena itu konon dulu bagi bangsa Romawi bulan Maret adalah bulan pertama dalam hitungan setahun.
Bayi kembar ini konon kemudian dihanyutkan di sungai Tevere dan diselamatkan oleh seekor serigala betina, mamma Lupa, yang tergerak mendengar jeritan tangis bayi kembar ini. Nasib baik Romulus dan Remus lalu berlanjut di tangan seorang gembala bernama Faustulus hingga mereka besar.
Patung mamma Lupa dengan si kembar Romulus dan Remus ini bisa ditemui di kota Roma dan di pelataran ajaib Pisa, Piazza dei Miracoli.
Roma dengan latar belakang sejarah besar ini dapat ditelusuri sampai sebelum zaman Romawi di atas bukit Palatin tahun 752 Sebelum Masehi, zamannya bangsa Etruska. Ketika itu Romulus dan Remus, dengan suku Latin baru saja memutuskan membangun sebuah kota di antara 7 bukit di mana mereka ditemukan, konon dari sanalah bangsa Romawi lahir, asimilasi suku Latin dan suku Sabiner, yang diculik dan dipaksa, karena suku Latin kekurangan wanita untuk melanjutkan dan memperbanyak jumlah penduduknya.
Kurang lebih tahun 510 Sebelum Masehi, orang Romawi merasa bosan dikuasai oleh seorang raja sehingga terjadi revolusi yang menghasilkan sebuah republika dan duduk di kursi legislatifnya bangsa Patrizia yang kaya-kaya. Sampai tahun 200 Sebelum Masehi, bangsa Romawi berhasil menaklukkan daerah-daerah di sekitarnya, termasuk Itali Selatan yang sebelumnya dikuasai oleh bangsa Yunani dan melebar hingga Mesir.
Tahun 200 Sebelum Masehi Julius Caesar naik takhta, sebagai penguasa kuat, Caesar berhasil membuat berbagai reformasi, setelah kematiannya, Octavian seorang turunan terdekat Caesar melanjutkan pangku kekuasaan dengan titel dan nama baru Kaisar Romawi Augustus. Di bawah kekuasaannya Romawi mengalamai masa kedamaian. Di masa ini Forum Romanum semakin diperluas.
Tahun 80 Masehi, Colloseo, sebuah teater amphit di bawah kaisar Vespasian, putranya dan penggantinya berhasil dibangun dan akhirnya dibuka. Colloseo ini mampu menampung 50.000 penonton, bangunan gigantis di zamannya bahkan juga untuk zaman sekarang ... (lihat saja di zaman teknologi serba canggih ini, stadion bola terbesar di dunia sekarang adalah stadion Azteken yang ada di Mexico dengan daya tampung 105.000 penonton). Entah berapa banyak darah para gladiator dan khewan telah mengalir di sini, konon ritual di luar batas kemanusiaan ini berasal dari kepercayaan bangsa Etruska.
Sampai tahun 300 Masehi, kehidupan di Roma semakin meng-kota, ada perpustakaan, teater, tempat pemandian, sistem kanalisasi dan infrastruktur transportasi baik dibangun di mana-mana. Berawal dari Roma, banyak dibangun jalan-jalan ke seluruh penjuru Itali, karena itu pula mungkin peribahasa "banyak jalan menuju Roma .." muncul.
Tahun 400 Masehi, kekuasaan kekaisaran Romawi semakin berkurang bangsa Germania dan Bizantium mulai menggerogoti dan merebut kekuasaan Romawi sedikit demi sedikit hingga mereka berhasil menduduki dan merebut Roma.
Lengkungan Konstantin adalah lengkungan kemenangan yang dibuat tahun 312 Masehi. Lengkungan Konstantin dapat dikagumi di bagian Tenggara Foro Romano dekat Colloseo dan tidak hanya sebagai bukti kemenangan atas kaum Barbar tapi juga pesta kemenangan kaisar Konstantin atas Maxentius, saingannya.
Hamparan kota Roma sekarang ini layaknya hamparan museum terbuka zaman antik. Sejauh mata memandang di Roma centro, pandangan akan selalu terbentur pada reruntuhan batu bata atau bangunan tua, yang keindahannya membutuhkan imajinasi. Imajinasi sebuah kejayaan dan kekayaan bangsa besar zaman antik.
Kota Roma memiliki 13 obelisk, yang asli didatangkan dari Mesir (saya kira dengan ini orang Romawi ingin menunjukkan bahwa mereka juga sehebat bangsa Mesir kuno). Obelisk tertinggi kedua di Roma misalnya dapat dikagumi di piazza del Popolo (gambar sebelah kanan), obelisk ini tahun 1200 Sebelum Masehi dipasang di Heliopolis, sebelah Utara Kairo Mesir. Obelisk yang berbentuk tinggi memanjang dengan pucuknya berbentuk piramid ini konon menghubungkan kehidupan dunia dan para dewa, obelisk memang pertama-tama hanya ada di Heliopolis di depan kuil Re, dewa mataharinya orang Mesir kuno.
Roma dengan hampir 3 juta penduduknya dan kepadatan hampir 2000 orang/km2 sekarang ini, terasa sesak. Memasukinya lewat Utara mengingatkan saya akan Kali Malang di Jakarta, macet, padat, ramai, semrawut, iklan di mana-mana dan lalu lintas yang tidak teratur. Ditambah sedotan sejarahnya membuat terutama Roma centro, lebih padat lagi karena ditambah turis dari segala pelosok mancanegara.
Turisme karena itu menjadi pendapatan kota dan penduduknya yang sangat berarti. Hal ini tentu saja juga sangat disadari oleh walikota Roma. Untuk itu Roma dilengkapi dengan sarana transportasi yang cukup baik, namun sayangnya nampaknya penduduk Roma terlalu mencintai mobilnya hingga jumlah mobil tidak berkurang walaupun sarana transportasi cukup baik dan memadai.
Roma dilalui oleh jalur bus, kereta dan metro atau subway. Khusus metro ini di Roma cukup sederhana hanya terdiri dari 2 jalur saja, karena pembangunan metro bawah tanah cukup merepotkan dan memakan waktu dekade, disebabkan oleh setiap kali ada penggalian dilakukan maka akan ditemukan bukti sejarah penting baru di zaman antik.
Hotel-hotel di Roma cukup mahal untuk keluarga seperti kami, kelas bed and breakfast atau youth hostel di tengah kota harus kami bayar paling sedikit 100 Euro, karena itu kami mengambil hotel di pinggir kota Roma apalagi transportasi di Roma cukup mudah dan murah.
Dalam 2 hari pertama kami membeli tiket harian yang hanya 4 Euro/orang/hari dan berlaku untuk semua alat transportasi serta anak di bawah 10 tahun tidak perlu bayar. Bila juga tertarik akan museum bisa membeli Roma Pass seharga 18 Euro yang berlaku untuk semua alat transportasi di Roma selama 3 hari dan dapat masuk gratis di 2 museum pilihan.
Demikian juga bagi yang tertarik melihat mega karya dari Michel Angelo di Sistina atau sixtinische Kapelle di Vatikan, satu hari dalam satu bulan (mungkin hari Minggu terakhir setiap bulan) terbuka gratis untuk pengunjung. Jadi bila tidak suka ngantri sebaiknya jauh-jauh sebelum kapelle dibuka (jam buka 8.45) usahakan sudah ada di sana, karena di hari tidak gratis saja antrian bisa sama panjangnya dengan keliling halaman piazza san pietro yang luar biasa luas.
Urusan perut di Roma juga bukanlah hal yang murah, termungkin adalah spizzico, kartel makanan saingan Mc Donald yang menyediakan pizza, Mc Donald (sayangnya tidak selalu kelihatan), nasi goreng dari restoran Cina (tidak seperti di Spanyol, di Roma centro cukup sulit juga menemukan restoran Cina, harganya berkisar antara 2,5 Euro untuk yang vegetaris hingga 4 Euro) atau tentu saja lebih sehat dan pasti sesuai kantong, membawa bekal yang dibuat sendiri.
Sayangnya kota Roma terutama di centronya tidak terlalu ramah untuk anak-anak, tidak ada tempat main untuk anak-anak, kemungkinan diantaranya adalah membawa anak-anak naik kuda poni di villa Borghese atau bermain ke pantai di bagian Barat kota Roma, yang untungnya walaupun di akhir bulan Desember yang selayaknya musim dingin, Fregene pantai Barat Roma sangat hangat, ketika kami di sana bahkan cukup panas sekitar 26 derajat celcius. Pantai Fregene ini sayangnya hanya bisa dijelang dengan mobil tapi sangat tenang dan nyaman untuk anak-anak bermain pasir. Dari Fregene untuk menutup hari kunjungan indah di kota Roma yang penuh sejarah, kami lakukan dengan berjalan-jalan di keremangan kota nelayan Fiumicino di Barat kota Roma.
Selamat Tahun Baru ya .. teman-teman, felice anno nuovo 2007 !! |
|
|
Ke Atas  |
|
 |
|
|