|
Selasa, 12 Desember 2006 |
|

Sebuah biola bukan hanya sebuah alat musik. Bukan pula sekedar alat untuk menghibur atau mencari nafkah. Tapi ia dapat berarti suatu kehidupan dari orang-orang yang memilikinya atau memainkannya. Demikianlah yang diceritakan film garapan sutradara Francois Girard, The Red Violin.
Keindahan dari film ini terletak pada babak demi babak yang berubah seiring perubahan waktu. Tapi tokoh utama di setiap cerita adalah sang biola. Diikuti aransemen musik klasik yang dilatarbelakangi permainan solo biola, film ini sungguh sangat cantik untuk ditonton.
Babak pertama diawali oleh kisah seorang wanita yang tengah hamil tua. Dia adalah istri seorang pembuat biola terkemuka di abad 17 Itali, Nicolo Bussoti. Sayang malang tak dapat ditolak, sang istri tercinta meninggal saat melahirkan si buah hati. Dalam kedukaan yang mendalam, sang pencipta biola dengan tekunnya melahirkan sebuah alat musik yang turut padanya bagian dari tubuh istrinya yang sudah kaku. Lahirlah sebuah biola merah yang padanya turut pula banyak tragedi yang mengikuti siapapun yang memilikinya.
Biola merah itu suatu waktu berada di tangan seorang bocah cilik berbakat di sebuah panti asuhan di Austria. Bocah yang di tangannya biola merah itu seperti hidup di tiap gesekan talinya, dibawa oleh seorang guru musik ke Paris. Di sana dia diajarkan dasar-dasar musik yang diharapkan bisa mengharumkan nama sang guru. Tapi lagi, sebuah tragedi terjadi. Bocah lugu yang tak mau jauh dari biolanya itu meninggal dunia sebelum menjadi seseorang harapan gurunya.
Nasib sepertinya berubah juga untuk biola merah yang suaranya membuat yang mendengar terkesima. Setelah dicuri dari kuburan bocah Austria tadi, dia dibawa kelompok Gypsi ke daerah pedesaan Inggris. Ketika suaranya yang indah itu sampai ke telinga seorang Frederick Pope, lahirlah komposisi demi komposisi yang begitu hebat dan megahnya. Frederick Pope sendiri memiliki kawan wanita yang seorang penulis novel, Victoria Byrd. Darinya Pope mendapatkan inspirasi yang disalurkan melalui petikan dawai-dawai biolanya. Hingga pada suatu waktu pengkhianatan mengakhiri kisah kasih Pope dan Victoria. Berakhir pula kisah biola merah di Inggris.
Pembantu Pope yang ornag China membawa biola merah itu menuju masa-masa pergolakan sewaktu perebutan pemerintahan terjadi di China. Dari tangan seorang gadis cilik yang mendapatkan hadiah sebuah biola dari ibunya menjadi sebuah alat musik Barat yang harus dihancurkan. Perjuangan untuk menyelamatkan alat-alat musik Barat yang dituding sebagai monster itu merupakan sebuah drama yang sarat akan makna. Bagaikan upaya menyelamatkan sebuah sejarah, sebuah kehidupan bukan sekedar menyelamatkan alat musik.
Sampailah nasib sang biola merah di tangan pemerntah China modern yang menyerahkannya untuk dilelang. Adalah tokoh yang dimainkan Samuel L. Jackson yang menjadi kurator dari alat-alat musik tersebut termasuk diantaranya, biola merah itu. Yang seperti terpengaruh akan kecantikan dan latar belakangnya menjadi seorang yang lihai yang bagaikan pencuri ulung ingin memilikinya.
Sebuah biola yang tak hanya membawa alunan nada demi nada dan irama yang menghanyutkan jiwa. Tapi juga sebuah penyambung jiwa pembuatnya, pemainnya dan orang-orang yang mendengarkannya. Garapan sutradara Francois Girard ini akan membawa Anda mengerti arti sebuah alat musik bagi beberapa orang. Sebuah biola adalah perwakilan cetusan jiwa dan hati dan juga sebuah jalan hidup. Para pemain: Samuel L. Jackson, Jason Fleming, Greta Scachi.
(Oleh: Dian Yustisiana Adji) |