|
Halaman 3 dari 4 Hisapan Pada Areola
Kuantitas pengeluaran ASI banyak ditentukan oleh isapan bayi pada puting areola. Saat bayi menghisap puting areola, maka syaraf afarent akan merangsang hipofise anterior untuk memproduksi prolaktin yang nantinya akan merangsang sekresi ASI (Bintaryati, 1992). Jumlah prolaktin yang akan diproduksi tersebut akan banyak tergantung dari frekuensi dan intensitas isapan bayi (pro lactin reflex). Kalau terjadi pembendungan ASI dalam alveolus, ini akan menyebabkan adanya penekanan pada pembuluh darah, dan itu akan nyebabin penurunan pro laktin dalam darah sehingga sekresi ASI juga akan berkurang.
Pengeluaran ASI juga terjadi karena adanya rangsangan mekanis ujung syaraf pada puting dan areola oleh isapan bayi. Rangsangan itu nantinya akan diteruskan ke hipotalamus dan nyebabkan hipofisa posterior mensekresikan oksitosin ke dalam peredaran darah. Nah oksitosin ini akan merangsakang sel mioepitel, dan hal tersebut akan menyebabkan ASI diperas melalui salurannya ke muara di puting susu untuk diisap bayi (let down reflex).
Yang tidak kalah pentingnya, keyakinan ibu yang ada di otak ini juga akan mempengaruhi kerjanya hipofisa anterior (pro lactin reflex) dan hipofesa posterior (let down reflex). Karena itu tidak heran kunci sukses menyusui salah satunya adalah keyakinan ibu bahwa ia dapat memproduksi ASI sesuai kebutuhan bayinya.
Kalau dari teorinya G.J Ebrahim (1978) di bukunya Breastfeeding- the Biological Option, ia katakan bahwa ada beberapa faktor emosional dan sosial yang mempengaruhi sukses menyusui, diantaranya nasehat dan pengalaman selama masa kehamilan dan persalinan (karenanya penting sekali untuk mengunjungi klinik laktasi terdekat untuk mendapatkan support ini). Laktasi yang berhasil pada kehamilan terdahulu (ini biasanya akan membuat rasa percaya diri sang ibu meningkat), nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat. Sebagai contoh, akan sulit mendapatkan ibu yang masih menyusui anaknya lepas usia satu tahun di Jerman. Karena norma umum yang berlaku di Jerman menganggap hal tersebut tidak lazim. Faktor-faktor ini kalau bisa dapat dijadikan faktor pendukung yang berefek positif pada ibu menyusui, dengan itu sukses laktasi semoga dapat tercapai.
Daun Katuk dan Jamu
Secara ilmu kefarmasian, daun katuk memang mempunyai daya kerja meningkatkan produksi ASI. Untuk kemudahan kemudian diproduksi berupa kapsul ataupun kaplet. Hanya yang namanya juga tanaman, kandungan zat aktif di dalam daun katuk itu akan bervariasi, tergantung tempat ia ditanam, perlakuan yang ia terima. Makanya kadang bagi sebagian orang berefek, sebagian tidak. Juga berbeda ekstrak daun katuk yang dijual masih sebagai jamu atau sudah sebagai fitofarmaka. Maksudnya bahan yang disarikan dari tanaman dan digunakan untuk pengobatan. Yang oleh Badan POM, bahan baku fitofarmaka sudah melewati serangkaian proses standarisasi tertentu.
|