|
Memiliki dua orang anak, putri dan putra, membuat saya dapat melihat jelas perbedaan signifan keduanya saat mereka marah dan menjadi agresif. Putri dan putra saya bila kesal sekali, keduanya akan bicara dengan lantang dan keras. Namun bila kekesalan memuncak, putri saya cenderung diam sedangkan putra saya akan menyerang terutama bila ia merasa tidak diperlakukan adil oleh teman atau mbaknya. Reaksinya bila ia merasa tidak puas pada saya, ia akan lari ke kamarnya dan tidur.
Yang saya sangat syukuri pada anak-anak saya adalah walaupun suara mereka menjadi lantang dan keras tapi kata-kata kasar tidak pernah terdengar keluar dari mulut mereka dan tidak pernah mereka memukul atau menyerang saya atau pun ayahnya.
Agresifitas pada anak-anak terutama anak laki-laki, yang ketika bermain saja, mereka biasanya saling bergelut dan menendang atau di putra saya misalnya ia memiliki kebutuhan gerak yang banyak. Sehingga bisa dibayangkan, bila kebutuhan untuk mengeluarkan energi ini terkungkung, mungkin seperti kita orang dewasa yang menginginkan sesuatu tapi tidak tercapai, mereka tentulah akan selalu bersikap tidak puas dan AGRESIF !!
Agresifitas yang dilakukan terutama di sekolah atau taman kanak-kanak, oleh anak-anak yang belum bisa mengukur kekuatan mereka sendiri atau di rumah ketika anak-anak sedang marah terkadang terlihat bagi orang dewasa agak mengerikan karena agresifitas berupa cubitan, pukulan, gigitan atau bahkan tamparan bisa sampai melukai temannya atau orangtuanya. Normalkah ??
Dari beberapa artikel menarik yang saya kumpulkan tentang agresifitas ini mungkin dapat menjadi bahan masukan yang berguna untuk teman-teman, karena yang pasti untuk saya hal ini sangat berguna, seperti jurnal-jurnal saya sebelumnya yang saya abadikan di multiply saya, sifatnya sebagai pengingat diri saya sendiri.
Ada artikel menarik tentang Anger is good for you dari HealthSciTech bisa diklik di sini, disampaikan di sana bahwa untuk dewasa saja marah sebenarnya baik untuk jiwa, sebagai ventil udara yang menyesakkan jiwa, selama masih bisa dipertahankan di bawah titik didih.
Demikian juga menurut sumber ini untuk anak-anak perlu dibedakan antara agresifitas langsung (yakni melukai, menggigit, memukul dan sejenisnya) dan agresifitas tidak langsung (yakni menghina, mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan dan merendahkan). Agresifitas ini bisa dikeluarkan ke orang lain atau ke diri sendiri (misalnya dengan menggigit kuku, mencabuti rambut, melukai tangan atau membenturkan kepala).
Pada dasarnya kita perlu menghadapi agresifitas atau kemarahan anak-anak dengan kepala dingin, karena bagaimana pun agresifitas atau kemarahan adalah reaksi positif sebuah kemampuan mempertahankan diri atas sebuah perlakuan buruk atau tidak adil.
Dari jenisnya menurut sumber ini, agresifitas terbagi menjadi 3 jenis, agresifitas terbuka, agresifitas tertutup atau agresifitas sekunder. Agresifitas terbuka itu yang biasanya dilakukan oleh anak-anak, sedangkan agresifitas tertutup misalnya sikap para ibu atau bapak atau bahkan dewasa yang secara agresif menghukum anak-anak dengan dalih pendidikan, kemudian agresifitas sekunder adalah agresifitas yang dipicu dari masalah lain (misalnya masalah di kantor agresifnya dikeluarkan di rumah).
Khusus untuk agresifitas terbuka pada anak-anak, seorang terapis pedagogi Jerman Jan-Uwe Rogge menilai bahwa Wut tut gut (artinya marah itu baik), karena menjadi marah itu tidak saja membutuhkan energi dan keberanian tapi juga marah adalah bagian penting untuk menjadi manusia dewasa. Sehingga ia menilai, marah atau agresifitas pada anak-anak itu sebuah kebutuhan terutama bagi anak-anak di bawah 5 tahun agar mereka lebih mengenal diri mereka sendiri, karena terkadang anak-anak menemui kesulitan untuk mengekspresikan ketidakpuasan mereka dalam bentuk kata-kata.
Tidak jarang juga tapi kemarahan atau agresifitas anak-anak dilakukan untuk memanipulasi orang tua, karena anak-anak dapat dengan mudah merasakan, bahwa bila mereka marah atau menjadi agresif, mereka lebih mudah mendapatkan perhatian orang tua.
Untuk itu dibutuhkan PENDIDIKAN AGRESIFITAS yang dimulai dan terus harus mendampingi pertumbuhan anak dari umur 2 tahun hingga remaja, tujuan dari pendidikan ini tidak lain agar anak-anak dapat lebih baik mengendalikan ketidakpuasan, kemarahan, agresifitas mereka dan dapat menyalurkan ekspresi ketidakpuasan mereka ini dalam bentuk alternatif lain. Diantara tip-tip yang baik diambil dari sini adalah sbb.:
- tanggapi dengan serius emosi anak-anak tapi terangkan dengan jelas dan tegas bahwa anda sebagai orang tua tidak menghargai sikap yang sifatnya merusak atau menyakiti.
- bila anak-anak menjadi histeris kemudian merusak apa saja di dekatnya atau melempar makanan, anda sebagai orang tua harus dengan tegas menjelaskan tidak bisa menerima sikapnya dan kirimlah mereka ke kamarnya untuk kurang lebih 5 menit. Tujuannya adalah agar ia terputus dari lingkaran masalah dan menjadi tenang. Dalam isolasi 5 menit ini, biarkan ia betul-betul menjadi tenang atas usaha sendiri, jangan hujani mereka dengan kata-kata negatif ataupun bujukan. Jangan perdulikan rengekannya, suatu saat anak-anak akan merasakan manfaat time-out ini.
- bila anak-anak sedang mendidih, biasanya mereka tidak dapat berargumentasi dengan sehat, untuk ini ada seorang pengarang yang mengistilahkan otak buayanya sedang beraksi, yang biasanya berfungsi bila dalam keadaan darurat. Karena itu tunggulah bila si otak buaya telah pergi dan otak sehat kembali.
- bila masa mendidih ini lewat bicaralah dengan lembut dan peluklah dengan cinta agar suasana kembali menyenangkan untuk anda dan anak-anak. Bicarakan baik-baik kembali permasalahan dan jangan hindari atau tutupi masalah yang terjadi.
- berilah pujian, pujian dan pujian, kapan saja anak-anak berhasil menyelesaikan masalah dengan damai atau mau membuat kompromi. Buatlah motto : jangan marah ketika ia sedang marah tapi perkuatlah perbuatan positif dengan memberikan pujiaan.
- kehidupan berkeluarga yang positif dinamis adalah juga dengan memperlihatkan perasaan marah dan sedih serta bagaimana berusaha secara konstruktif menetralisasinya. Karena perasaan-perasaan ini adalah manusiawi dan bagian kehidupan bersama dalam sebuah keluarga. Siapa yang hanya bisa marah bersikap seperti kodok yang hanya bisa meng-orek karena itu perlihatkanlah juga perpektif elang, yang akan mengudara setiap kali marah. Dengan demikian anda mengajarkan anak-anak juga untuk melihat masalah dari perspektif lain dan berusaha menyelesaikannya.
- untuk mengurangi agresifitas, seorang anak membutuhkan kemampuan mempertimbangkan situasi dengan baik, mengukur keamanan sendiri, kontrol diri sendiri jika agresifitas bertendensi merusak. Banyak situasi di dalam kehidupan berkeluarga dapat ditemukan untuk melatih kemampuan ini.
- semakin banyak seorang anak dapat merasakan orang lain atau makhluk lain, maka ia akan semakin sedikit memperlihatkan sikap destruktifnya. Siapa yang mengerti, seberapa sakit yang diderita adiknya jika ia dihina dan didorong, maka dengan waktu rasa jengahnya makin besar. Ajarkanlah terus agar anak-anak berempati terhadap semua hal yang hidup. Ajaklah juga terus agar mereka dapat melihat ke dalam situasi orang lain dan biarkan mereka melihat situasi dari pandangan mereka. Bersimpati adalah "argumen" yang kuat melawan kemarahan.
- sport atau olahraga adalah salah satu kemungkinan, untuk anak-anak mengeluarkan agresifitas mereka tanpa melukai dirinya atau orang lain. Judo, karate, silat dan jenis olahraga lainnya adalah ventil bagi anak-anak yang agresif.
- jika anak-anak memperlihatkan agresifitas yang tinggi, sering dan tidak biasa, sebaiknya hubungilah dokter anak bisa jadi ada penyakit di belakangnya. Tapi bila tidak ada penyebab organ untuk agresifitas ekstrim ini sebaiknya pergilah ke psikolog anak.
- bila sedang di depan umum, janganlah pernah ragu, malu ataupun nervus saat anak-anak marah atau menjadi agresif, percayalah orangtua lain juga pernah dalam situasi seperti itu, jadi tetaplah bersikap sebagai orangtua yang mendidik, jangan biarkan anak-anak memanipulasi situasi.
Demikian tip-tip yang dapat saya bagi dan biasa kami lakukan di rumah. Semoga ada manfaatnya. Saya berpikir, apa tidak sebaiknya agresi anak remaja kota besar di Indonesia misalnya, yang dipakai untuk tawuran, menganggu orang lain, dilewatkan jalur pendidikan agresifitas' ini ??? Misalnya kementrian keluarga menyediakan les gratis silat, karate atau olahraga sebagai penyalur agresi remaja mereka ?
Selamat berhari Rabu dan tetaplah berhati damai !!! |