We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Renungan arrow Si Telunjuk Berdarah
Si Telunjuk Berdarah E-mail
Pengirim: DA Inayati   
Selasa, 28 November 2006

Siang itu sebenarnya berjalan seperti siang siang yang lain di rumahku. Sulung dan tengah sedang asyik menggunakan jatah menonton televisi yang 30 menit per harinya di ruang depan. Si bungsu terakhir kali kulihat sedang mengeksplorasi tumpukan legonya.  Limabelas menit yang lalu, ia baru saja menuntaskan proyek bersama : membaca buku, tepatnya mengomentari gambar yang ada di buku.

Aku sendiri baru saja memulai menekan tuts tuts si hitam untuk menyelesaikan proyek artikel yang tinggal beberapa hari lagi jatuh tempo. Semua tampak berjalan normal, hingga sampai beberapa saat aku menyadari, suasana sepi ini tampak tak seperti biasanya. Hmm...tidak seperti biasanya, terlalu mencurigakan!.

"Adik mana 'mas?"

"Aku tak tau bun...kayanya di dapur. Tadi ia mau makan apel"

Di dapur? Kapan ia ke dapur?. Meja tempat kerja di rumah yang sengaja kuletakkan dekat ruang dapur nyatanya tak membuat ku sadar bahwa tubuh kecilnya sempat melewati meja coklat itu. Segera ku berlari tinggalkan VAIO hitamku. Tak lain untuk memastikan bidadari manisku masih berada di sana.

"Semoga ia tak melakukan hal hal yang membahayakan" bisikku dalam hati sambil melangkah bergegas ke ruang kecil di sudut rumah kontrakan kami.

Tapi mengapa sepi? Biasanya bidadariku pasti akan berlari ke arah bundanya untuk sekedar meminta tolong bila ia memiliki masalah yang tak dapat dipecahkannya sendiri. Namun mengapa sedari tadi belum kudengar ocehannya?

Di sana, ya..di sana ...kulihat ia berdiri tepat di depan laci dapur!.  Terdiam memandangi jari kecilnya. Ia memang gemar mengambil sekedar sendok dan garpu untuk keperluannya tanpa meminta bantuanku. Namun entah mengapa, kini hatiku berdesir berbeda. Pasti ada suatu hal yang pasti terjadi.

"Bun...sakiitt..jari..sakiiitt" bisiknya lirih.

Nyesss...mukaku pucat pasi melihat pisau dapur yang tengah membelah buah apel. Hati berdegup kencang saat melihat ekspresi wajah bidadariku yang terlihat takut. Di jari telunjuk kirinya, ada tetesan darah yang cukup deras. Hatiku panik, walau pikiran berusaha kujaga tetap dingin. Ah, darah mengucur tak berhenti dari jari telunjuk kirinya. Belum sempat kulihat berapa milimeter dalam luka iris yang ada. Aku tak berani melihat.

"Sakit bun..sakit"

"Iya nak..bunda tahu..jangan nangis ya"

Ku berusaha tegar dengan suara menenangkan. Aku berusaha tak panik, walau tangan bergemetar dan hati serasa dipukul palu bertubi tubi. Perasaanku tak dapat dibohongi . Aku panik walau sebisa mungkin kututupi!.

Seketika itu kugendong dirinya sambil satu tangan mencari cari kain kasa yang dapat digunakan menutup sementara lukanya. Tumpukan obat-obatan dan perlengkapan P3K makin membuat pusing, terlebih sudah satu bulan ini belum aku rapihkan.

Setelah beberapa menit mencari, akhirnya bekas kasa perawatan luka operasiku saat bidadariku dilahirkan dapat ditemukan. Dengan ikatan yang cukup kuat, aku baluti si telunjuk kirinya. Saat itu aku tak bisa berpikir panjang. Hanya naluri dan insting yang menuntun perbuatanku.

Hatiku panik, terlebih mendengar tangis kecil yang tak berhenti.

"be cool...! !"

Kata kata itu berusaha berulang kali kubisikkan ke hatiku. Aku tahu, bila aku tak berusaha berusaha mengendalikan emosiku, maka aku tak dapat berpikir jernih.Tapi apa daya, hatiku tak dapat dibohongi. Aku tetap gelisah dan panik.

Bidadariku terlihat ketakutan melihat darah merah mengalir di jarinya. Mukanya pucat dan terlihat rasa penyesalah terselip di balik mata dukanya.

Mulanya aku berharap luka di jarinya akan berhenti dengan ikatan  cukup keras yang aku buat dengan kain perban itu.  Ia mulai  menangis mendayu dayu. Aku berusaha peluk erat bidadari di dadaku. Sambil berdoa agar perdarahan berhenti, aku tetap tekan jari telunjuk kiri yang terluka itu.

"Sakit bun..aku sakit"

Rengekannya makin mencemaskanku. Terlebih setelah lima menit berlalu, darah merah menembus kain perban terluar. Saat itu nurani keibuanku berkata, luka ini tak dapat diatasi hanya dengan pembalutan perban seperti biasa.

++++

"Hallo..ich brauche dringend einen Termin jetzt!"

Ucapku jelas jelas pada si petugas penerima telepon di dokter anak langganan kami. Sebelum ia menanyakan lebih lanjut apa yang terjadi pada anakku --seperti standar prosedur yang dilakukan di tempat praktek itu-- aku jelaskan panjang lebar kejadian teriris kulit si kecilku.

"Nein kann ich nicht! ich brauche unbedingt jetzt zu kommen. Es kommt viel Blut obwohl ich schon zugemacht hab'. Ich muss unbedingt kommen!"

"Dann kommen Sie gleich!"

Kalau tak menyadari bahwa aku punya kewajiban berlaku santun sebagai umat beragama, rasanya ingin sekali mengomel dan meluapkan kekesalan saat si ibu menanyakan apakah aku dapat datang satu jam kemudian. Apa ia pikir aku main main dan sekedar menelpon yang tak ada tujuannya.

"Mas..bunda minta tolong pegangi perban adek ini!"

Sulungku yang juga tak begitu suka melihat darah terlihat pucat. Ia berusaha menekan perban adiknya walau aku tahu hatinya campur aduk antara takut melihat darah dan rasa iba melihat adiknya yang basah matanya oleh air mata. Ah sulungku memang perasa.

Segera kupakai baju seadanya sambil mencari Didymos agar bidadariku dapat kugendong dan kumasukkan ke mantelku.

"Mas..bunda minta tolong ke emas. Tolong jaga dede sebentar, bunda harus ke dokter"

"Tapi nanti aku harus ke sekolah bun sore hari.."

"Tak usah pergi mas sebelum bunda datang.."

Hanya anggukannya yang kulihat sebelum aku pergi ke luar rumah dan mengunci pintu apartemen kami. Apa boleh buat, sulung dan tengahku harus kutinggal dalam keadaan ini. Tak ada pilihan lain,  aku harus sesegera mungkin ke ruang praktek dokter anakku yang ada di pojok jalan Obertor. Tak ada yang dapat kuhubungi untuk sekedar menjaga mereka saat aku harus berlari bertemu pak dokter itu.

++++

Dingin menusuk tulang saat ku berjalan cepat menyusuri pelataran parkir dan halaman sekolah sulungku. Belum lagi ditambah jalan licin akibat suhu dingin yang datang di pagi ini. Semua berubah menjadi es. Dari kejauhan tampak Annelise, ibu italia sahabat baik anakku. Ah untunglah ia bergegas pergi menuju pintu sekolah, pasti untuk menjemput putranya yang sedang mengikuti Sprachlabor. Sengaja aku berharap agar ia tak melihat dan menyapaku. Dalam kondisi seperti ini, hanya satu yang kuinginkan: segera sampai ke ruang dr Gaukler!.

"Hallo, brauchen Sie die Karte?"

Langsung kuserahkan kartu asuransi putriku sambil berharap cemas agar perdarahan putriku tak semakin parah. Memandang ruang tunggu depan yang cukup dipenuhi oleh anak anak dan orang tuanya membuatku memilih menunggu di ruang tunggu belakang yang cukup gelap saat di siang hari. Menyepi, hanya itu yang kuingin lakukan agar putriku merasa tenang. Lima menit setelah kuletakkan badanku di bangku biru, bidadariku terlihat tertidur karena letih menangis.

Sepuluh menit berlalu. Belum ada panggilan yang terdengar. Satu persatu orang tua beserta anaknya memasuki kamar praktek berpintu merah dan kuning. Kamar dengan pintu hijau dan bíru muda, tempat konsultasiku dengan dr Gaukler tampak sepi dengan pintu yang terbuka. Sayup sayup kudengar ucapan sang suster yang mengatakan pada koleganya agar mendahulukanku di pintu biru.

"Kommen Sie rein.."

Suster yang biasanya paling banyak komentarnya mempersilahkan aku masuk ke kamar dengan pintu warna biru. Ah pantas pintu ruang dokter langgananku tidak tertutup, mungkin ia sedang cuti saat ini. Karenanya tak heran aku dipersilahkan masuk ke ruang dr Hayd.

"Was ist denn mit Ihrer Tochter passiert ?"

Aku jelaskan urutan kejadiannya menurut versiku. Ternyata komentarnya yang biasanya tak begitu kusukai saat itu hilang. Diganti dengan ungkapan empati yang menenangkan hati. Malunya diriku karena sempat tak begitu simpatik padanya beberapa waktu yang lalu. Sambil memberikan kasa yang baru, aku dipersilahkan menunggu kedatangan Herr Dokter.

"Adek jangan main pisau lagi ya nak. Pisau itu bahaya. Di dapur jangan ada mainan yang digunakan sebelum minta izin bunda ya nak"

"Iya."

Suara lirihnya makin merontokkan hatiku. Betapa sebenarnya aku yang ceroboh terlalu menganggap putriku tak mungkin berpikir menggeser bangku untuk menggapai tempat pisau yang cukup sulit diraih dengan tangan mungilnya tanpa bantuan alat apapun. Betapa sebenarnya aku yang lalai!.

Tak lama kemudian dokter Hayd datang. Kembali aku harus menjelaskan rincian kejadiannya. Setelah membuka perban dan melihat lukanya, ia memutuskan untuk mengirim putriku ke chirurg terdekat.

Hatiku panik. Hatiku takut. Anakku harus dioperasi?!?.

"Keine Angst zu haben. Es ist ganz normal im Kinderalter."

Bagaimana aku tidak takut. Ini pengalaman pertamaku harus ke Chirurg untuk mengatasi luka di tangan. Sulung dan tengahku tak pernah mengalami hal seperti ini walau tingkah lakunya dan daya coba cobanya dapat dikatakan lebih "parah" dibandingkan bidadariku ini.

Apakah harus dibius? Berapa lama? Parahkah sehingga harus ada tindakan operasi kecil? Bagaimana dengan sulung dan tengahku di rumah? Dapatkah sulungku menjaga adiknya?.

Seakan mengetahui kecemasanku, Herr Dokter mengatakan bahwa ia tak dapat melakukan tindakan penjahitan karena ia khawatir tidak bisa melakukannya dengan baik. Ia pun menjelaskan padaku bahwa prosedurnya tidak akan mengkhawatirkan, dan aku dapat langsung datang ke Chirurg tersebut tanpa membuat termin terlebih dahulu. Sambil menutup luka si kecilku, sang dokter memberikan lembar Uberweisung dan alamat Herr Dokter Chirurg tersebut.

"So gehen Sie richtung Bäckerai und dann nach left bis die Tankstelle vorbei. Danach suchen Sie di Nummer. Es ist nicht so weit weg"

Penjelasan letak tempat praktek dr Barmer seakan hanya melintas di kuping kanan dan langsung keluar di kuping kiri. Yang terlintas di otakku saat itu hanya segera ke praktek dr Barmer dan titik!!.

++++

Harus diakui, setelah dua operasi yang aku lakukan, punggungku tak dapat menahan beban yang cukup berat. Namun entah mengapa, di sepanjang perjalanan menuju tempat praktek dokter Barmer, punggungku seakan berkompromi saat menggendong si kecilku. Sama sekali tak ada perasaan lelah dan letih ataupun punggung serta pinggang yang sakit kala menyusuri jalan sepanjang satu kilo itu.

"ini nomor 35...ini nomor 47..ini nomor 77...ini nomor 79"

Ah seakan ingin berteriak hurraaa karena sudah pasti setelah nomor ganjil rumah bernomor 79, nomor 81 pasti akan kutemukan.

Dari bawah kulihat sepasang remaja yang sama sama menggunakan gips di kakinya. Sambil membuka pintu praktek, kuucapkan selamat sore dan tujuan kedatanganku pada wanita separuh baya berambut putih penerima pasien.

Ruang praktek itu cukup asri. Di ruang tunggu kulihat ada berbagai macam bangsa walau mayoritas akan tampak penduduk asli negara ini. Gendongan Didymos aku buka. Bidadariku kupersilakan duduk sambil menunggu selesainya urusan lembar isian yang kuharus kerjakan.

"Gehen Sie rein bitte"

Gadis berambut merah muda mengantarku ke ruangan belakang di pojok tempat praktek itu. Sunggingan senyumnya cukup melegakan hatiku yang resah. Merah di bibirnya nampak alami, tak terlihat ada polesan lipstik di permukaannya.

"Kommst adek...gehst du rein"

Ucapku perlahan. Putriku nampak sudah berangsur kembali ke elemennya yang lincah dan percaya diri. Tak nampak sama sekali ketakutan satu jam yang lalu. Setelah kududukkan ia ke tempat tidur pemeriksaan, ia malah asyik mengeksplorasi ruangan. Suster pembantu pun segera bekerja . Ia membuka tutup luka sementara agar pak dokter dapat melihatnya. Sesekali ia lemparkan senyum ramahnya padaku sambil ia coba menjalin dialog dengan bidadariku.

Ah alhamdulillah, ternyata luka putriku belum dianggap memerlukan tindakan penjahitan. Dr Barmer hanya menggunakan beberapa klep untuk mengencangkan dua kulit yang teriris hingga kulit satu dengan yang lainnya bertemu. Prosedur pembiusan lokal dan penjahitan pun belum jadi pilihan. Sambil meminta kejelasan tentang ini itu, pikiranku juga melayang ke sulung dan tengahku "sedang apa mereka?".

"Sie sprechen sehr gut Deutsch. Wohnen Sie schon lange hier?"

Selalu komentar yang sama.. dan prosedural jawabanku pun tak jauh berbeda, terasa sudah standar. Kesal sebenarnya selalu dikomentari demikian. Rata rata semua orang yang kutemui biasanya akan memandang sosok wanita dengan selembar kain yang menutupi kepalanya tak lain pengguna bahasa lokal yang menyedihkan. Terus terang, aku tak tertarik mendengarkan komentarnya. Yang ku perlukan saat ini adalah penerangan yang sebanyak banyaknya tentang kondisi putriku dan langkah apa yang harus aku lakukan di rumah. Namun berhubung sang dokter memang cukup ramah, rasanya tak pantas memunculkan wajah kesalku padanya. Dengan wajah yang kuusahakan terpasang ramah, aku akhirnya hanya mengatakan ya, ya saja.

"Hab' hier studiert, deshalb muss ich die Sprache beherrschen!"

Tatapan keterkejutan dan penghormatan tetap dapat kucuri dari balik kacamata tebalnya. Lagu yang sama, banyak orang salah kaprah bahwa wanita dalam keyakinan yang kuimani adalah makhluk tertindas dan tak tahu apa apa. Ya, semoga jawaban jawabanku tulus bertujuan membersihkan coreng kesalahfahaman mereka terhadap kami kaum wanita. Semoga tak ada bisikan kesombongan di sana. Bla bla bla kembali berlangsung. Terus terang, di kupingku ucapannya terasa seperti masuknya nada ke kuping satu dan langsung menerobos keluar ke kuping lainnya. Bagaimana aku dapat berkonsentrasi terhadap topik diskusi berat integrasinya pendatang yang ia tawarkan sementara pikiranku masih meliuk liuk antara luka putriku dan keadaan anak anakku di rumah?

"Kommen Sie bitte wieder am Montag zum Kontrollieren. Hoeffentlich waere alles gut gelaufen. Es ist sehr schoen mit Ihnen kennen zu lernen"

Senyum lebar pak dokter akhirnya menghilang di balik pintu putih kamar nomor empat ini.

Setelah mengucapkan terimakasih dan selamat tanggal pada ibu separuh baya yang menyambut kedatanganku tadi, aku jalan menuju halte bus terdekat sambil menggendong sang bidadari, yang kepalanya menempel di dada. Jam berapa ini? . Si perak hadiah dari suamiku tak sempat aku bawa karena kepanikanku. Sony-Ericcson yang biasanya tak pernah kutinggalkan saat melangkah keluar pintu rumah pun tak menemani. Tanpa tahu orientasi waktu, aku tetap berjalan dan berjalan. Berharap bertemu seseorang yang dapat kutanyakan waktu saat itu. Hawa dingin dengan suhu minus lima cukup membuat diriku menggigil, apalagi aku tak sempat memakai pullover andalan penahan suhu yang drop di bulan ini. Hembusan nafasku pun berubah seketika menjadi uap. Dingin mencekam. Terlebih matahari sepertinya akan segera terbenam di masa masa dingin seperti ini.

"Entschuldigen Sie. Darf ich kurz fragen, wie spaet es ist?"

Ibu yang berjalan dengan sang putri itu kutanya dengan sopan agar kutahu berapa menit lagi sang bis kan tiba. Sambil berusaha mendekatkan kacamata tebalnya di lengan kiri, terlihat ia berusaha keras membaca jam tangannya. Ah, mungkin kacamata tebalnya sudah tidak sesuai lagi dengan kekuatan lensa matanya, pikirku. Cukup lama ku menanti jawaban darinya. Gadis kecil bermantel oranye dengan gagang kacamata berwarna senada pun terlihat bosan menunggu.

"Es ist 15 minuten vor halb fuenf"

Jawabnya ramah sambil menampakkan sunggingan senyum di samping pipi merahnya. Kuucapkan terimakasih atas jerih payahnya mencari tahu waktu lewat kacamata tebalnya itu.

Ah, masih 10 menit lagi kuharus menunggu bis. Saat itu mulai terasa betapa punggungku tak dapat diajak berkompromi menahan beban 12 kg bidadariku. Tak ada pilihan lain, aku harus kembali berjalan menelusuri satu kilometer hingga tempat kediaman kami.

Sambil menahan dingin hembusan angin musim dingin yang cukup kuat, ketelusuri sisi jalan Urbanstrasse. Dingin..dingin sekali. Tanganku terasa beku tanpa sarung tangan coklat yang biasanya selalu ada di mantelku. Ah bidadariku, andai kutak sayang padamu, rasanya tak mampu ku menyeruak di antara suhu dingin dan hembusan angin yang membuat terhuyungnya tubuhku.

10 menit berlalu. Akhirnya tampak pelataran rumah kontrakan kami. Dengan setengah berlari, kunaiki tangga di gedung itu hingga lantai 4 rumah kami.

Letih. Lelah. Punggungku terasa mau patah.

Klek, klek..pintu sengaja kubuka tanpa memencet bel rumah kami terlebih dahulu.

++++


"Bundaaa...dimana....aku khawatir sekali.."

Sulungku langsung memeluk badanku yang kedinginan dan menumpahkan seluruh rasa kekhawatirannya padaku.

Kujelaskan semua yang terjadi. Ku minta pada mereka agar menjaga dan tak membuat adiknya menangis.

"Ich hab dich liebt dek..."

"Ich aber auch"

Mereka berdua memeluk adik bungsunya yang ternyata masih takjub dengan tempelan plester bergambar gajah di jarinya.

"Pisau tak boleh dimainkan. Karenanya bunda selalu berulang kali mengatakan itu. Berbahaya."

"Iyaa"

Ketiga cahaya mataku menjawab bersamaan.

Aku bersyukur, satu lagi cobaan dapat kami lampui.
Aku bersyukur, Dia membimbing aku untuk menuruti instink keibuanku.
Aku bersyukur, Dia menjaga sulung dan tengahku saat ku berkelana di luar rumah hampir 1,5 jam lamanya.

Terimakasih...

++++

"Mas..mas dimana?"

Tanyaku pada suami yang pasti masih berada di tempat kerjanya. Aku berikan laporan sekilas tentang kejadian yang baru lewat dan memohon maaf karena baru dapat mengabarkan. Suaranya yang menenangkan cukup membantuku menyirami hati yang gelisah serta badan yang seakan mau patah.

Teeetttt.

Bel pintu rumah tiba tiba berbunyi saat ku masih memegang si perak sony ericcson sambil menunggu jawaban pertanyaan yang kulemparkan pada suamiku. Mulanya aku tak ingin membukanya, terlebih suasana hatiku baru saja sembuh dari kegelisahan. Usaha  mengintip melalui lubang pintu tak membuahkan hasil. Hanya warna gelap yang nampak di mata.

"Assalaamu'alaikum..hallo bunda.."

Sapaan suamiku tercinta makin meredamkan hati yang gelisah dan badan yang penat. Ah ternyata kekasihku telah berada tak jauh dari pemukiman kami saat ku hubungi tadi. Setelah menceritakan semuanya, aku memilih membaringkan badan. Mengobati rasa penat dan letih di punggung yang harus menahan beban 12 kg selama dua kilometer berjalan. Mengerti kondisiku, lelakiku tercinta mengambil sendiri hidangan mie goreng serta tumis tuna brokkoli yang sempat kubuat tadi siang.

Bidadariku kembali bermain kejar kejaran dengan sulung dan tengahku. Suasana ceria dan ramai kembali muncul dalam rumah kecil kami yang terkena tenggelam sinar matahari keemasan di musim dingin ini.

Sore menjelang malam itu kembali berjalan seperti hari hari yang lain. Indah dan menentramkan.

Ah, terimakasih Robbi..
Kembali hari ini kau beri pelajaran padaku walau lewat si telunjuk berdarah bidadariku.
.....
Bahwa jangan pernah aku meremehkan kemampuan anak anakku, pun si bungsu yang baru saja melepas dua tahunnya.
Bahwa mengatur perasaan teramat sulit, terlebih bila dalam kondisi yang memungkinkan kita tak dapat berpikiran rasional.
Bahwa bersikap tenang adalah satu pelajaran seumur hidup yang harus selalu kupelajari!.


Terjemahan:

"Hallo..ich brauche dringend einen Termin jetzt!" = hallo, aku perlu termin segera hari ini

"nein kann ich nicht! ich brauche unbedingt jetzt zu kommen. Es kommt viel Blut obwohl ich schon zugemacht hab'. Ich muss unbedingt kommen!"= aku tak bisa! aku perlu sekali untuk datang saat ini. Darah banyak mengalir walau aku sudah tutup lukanya.

"dann kommen Sie gleich!"=kalau begitu, silakan anda datang segera!

Sprachlabor=laboratorium bahasa

"Hallo, brauchen Sie die Karte?"= hallo, anda perlu kartunya?

"Kommen Sie rein.."= silahkan anda masuk

Was ist denn mit Ihrer Tochter passiert?"= apa yang terjadi dengan putri anda?

chirurg=dokter bedah

"Keine Angst zu haben. Es ist ganz normal im Kinderalter."= tak perlu khawatir. Itu normal sekali di usia anak anak.

Herr = Tuan

Uberweisung= Lembar transfer

"So gehen Sie richtung Bäckerai und dann nach left bis die Tankstelle vorbei. Danach suchen Sie di Nummer. Es ist nicht so weit weg"= anda berjalan ke arah toko roti kemudian belok ke kiri hingga melewati pom bensin. Kemudian anda cari nomornya. Tidak terlalu jauh kok.

"Gehen Sie rein bitte","Komm adek...gehst du rein"= silakan masuk, ayo adek..masuk deh.

"Sie sprechen sehr gut Deutsch. Wohnen Sie schon lange hier?"= anda dapat berbahasa jerman dengan sangat baik. Sudah lama tinggal di sini kah?

"hab' hier studiert, deshalb muss ich die Sprache beherrschen!"= saya studi di sini, karenanya saya harus menguasai bahasanya.

"Kommen Sie bitte wieder am Montag zum Kontrollieren. Hoeffentlich waere alles gut gelaufen.  Es ist sehr schoen mit Ihnen kennen zu lernen".= mohon kembali datang hari senin untuk melakukan kontrol. Semoga semuanya berjalan baik. Amat menyenangkan dapat berkenalan dengan anda.

"Entschuldigen Sie. Darf ich kurz fragen, wie spaet ist es?"= mohon maaf. Dapat saya bertanya sebentar, jam berapa saat ini?

"Es ist 15 minuten vor halb fuenf"= saat ini jam setengan lima kurang 15 menit.

"Ich hab dich liebt dek...","Ich aber auch"= aku sayang adek...., aku juga

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement