|
Film dokumentasi ini dinarasi oleh Morgan Freeman. Berkisah tentang bagaimana emperor penguin melestarikan species-nya secara turun temurun, film ini mampu mengubah citra film dokumenter yang membosankan menjadi film yang mengasyikkan.
Diawali dengan akan berakhirnya musim panas di Antartika, sekitar bulan Maret, ribuan penguin mulai menuju ke darat. Meskipun pengiun adalah sejenis burung tetapi habitat utamanya adalah laut. Tujuan utama mereka meninggalkan laut adalah untuk bertelur. Tempat bertelur mereka adalah suatu lokasi tetap, tidak berubah selama berabad-abad. Jarak tempat itu dari pinggir laut sekitar 70 miles, ditempuh oleh penguin dengan berjalan kaki selama beberapa hari bahkan minggu (ingat, meskipun penguin sejenis burung tetapi dia tidak bisa terbang). Dan lucunya, mereka menuju tempat tersebut secara beriringan (dari sinilah judul film berasal). Terbayang sekitar minimal 7 ribu pengiun berjajar, berapa panjang barisan tersebut. Ada satu adegan yang sangat menarik saat rombongan penguin kehilangan jejak ke arah tempat yang dituju. Mereka celingukan.
Setelah mencapai tempat yang dituju, para penguin langsung mencari pasangan. Beberapa waktu kemudian pengiun betina menghasilkan telur. Telur itu harus dierami selama sekitar 4 bulan. Siapa yang mengerami? Penguin jantan! (Pantas ditiru oleh para bapak, bahwa mengurus anak tidak hanya tanggung jawab para ibu :)). Selama 4 bulan itu penguin betina akan ke laut untuk mengumpulkan makanan di dalam perutnya, karena saat dia kembali nanti ada seekor penguin kecil yang harus diberi makan. Selama 4 bulan di musim dingin yang mencapai minus 80 derajat Farenheit (ingat, 32 derajat Farenheit = 0 derajat Celcius) penguin jantan mengerami telurnya tanpa makan! Subhanallah.., manusia disuruh puasa 14 jam saja banyak yang protes.
Banyak adegan yang sanggup membuat saya menitikkan air mata. Diantaranya saat penguin betina hendak menyerahkan telurnya kepada penguin jantan. Jika dalam perpindahan itu telur tersebut ada di udara terbuka selama lebih dari sekian detik, sang telur akan retak membeku. Kedua penguin memandangi telur yang retak itu dengan sedih. Usai sudah susah payah dan peran mereka sebagai orang tua yang wajib melestarikan keturunan.
Namun adegan lucunya juga tidak kalah menggelikan. Misalnya saat ada seekor anak penguin yang takut-takut meninggalkan induknya untuk bermain bersama teman-temannya. Sang induk meng-courage si kecil dengan mendorong-dorongnya dari belakang.
Two-thumbs up untuk para crew yang bersedia membeku bersama penguin selama 30 bulan. Kalau di film yang lain kebanyakan sutradara dan cameraman-nya nyantai di belakang layar, maka di film ini mereka ikut freezing bersama sang bintang. |