|
Saat kita sakit tentunya dokterlah yang akan kita kunjungi, daftar kemudian mengantri, diperiksa dan akhirnya mendapat secarik resep. Tidak ada yang aneh, di Jepang pun proses nya seperti itu. Sedangkan disini (tentunya beda negara beda kebijaksaan) prosesnya sama saja, bedanya mungkin disini lebih mendetail.
Misalnya saat kita mendaftar untuk pertama kali, kita akan diberikan formulir yang berisi daftar pertanyaan tentang riwayat kesehatan kita, lalu saat pemberian obat pun tidak langsung dikasi resep seperti biasa, melainkan harus melalui prosedur lain yaitu periksa darah terlebih dahulu, tujuannya untuk mengetahui kondisi organ tubuh kita dan pemilihan jenis obat yang disesuaikan dengan kondisi kita, acuannya adalah hasil test darah tersebut. Ini yang saya ketahui saat saya berobat ke dokter kulit dermatologist), kemungkinan beda wilayah atau beda klinik, beda juga penanganannya. Selanjutnya tentu saja kita harus ke apotik untuk menukar resep dengan obat. Membeli obat di apotik di Jepang ternyata tidak semudah yang dibayangkan, untuk pertama kali kita harus mendaftar dulu yang tentunya bukan hanya menulis nama, alamat dan nomor telepon, kita diberikan formulir isian lagi, tidak terlalu beda dengan formulir isian saat daftar di klinik. Mungkin ini kehati-hatian pihak klinik dan apotik, mereka harus tahu riwayat kesehatan pasien sebelum memberikan obat, pertanyaan yang diajukan antara lain apakah kita memiliki alergi, apakah sedang hamil, apakah sedang menyusui, apa kita merokok, apa kita minum minuman beralkohol, apa kita sedang mengkonsumsi obat (harus diberitahu meski itu vitamin) dan lain sebagainya. Setelah itu bersama obat akan diberikan sebuah notebook yang berisi kopi-an resep obat berikut dosis dan keterangan lainnya ditambah beberapa lembar kertas, yaitu daftar harga obat (kalau obat tersebut adalah racikan maka akan diberikan rinciannya) serta cara minum/pemakaian obat dan dosisnya (masing-masing jenis obat satu lembar keterangan plus foto obatnya), benar-benar sangat membantu apalagi jika obat yang diberikan beraneka macam. Medicine notebook ini bisa kita bawa ke apotik mana saja, sehingga kita memiliki bukti/rekaman medik tentang obat apa saja yang sudah atau sedang kita konsumsi. Petugas apotik tinggal menempel kopi-an dari resep kedalam buku kecil ini, mudahkan. Adalagi yang harus diketahui, jangan membeli obat setelah lewat 4 hari dari tanggal dikeluarkannya resep, karena semua apotik akan menolak resep tersebut dan menganjurkan kita untuk meminta resep lagi dari dokter yang bersangkutan, memang tidak praktis tapi ini adalah kebijaksaan mereka. Sekali lagi dikarenakan kehati-hatian ini pula, kalau membeli obat di apotik lain maka proses pendaftaran harus diulangi lagi, karena masing-masing apotik tentunya ingin menyimpan data konsumen. Rumit memang tapi demi kebaikan kita semuanya. Bagaimana dengan anda? Tentunya kita juga bisa menerapkan hal-hal seperti ini, kita bisa mulai dari diri kita sendiri untuk membiasakan selalu mencatat obat apasaja yang kita konsumsi, jangan malu bertanya kepada dokter dan apoteker tentang obat tersebut (kebetulan saya ingat ada temen apoteker yang begitu lugasnya dalam memberikan keterangan). Apa yang kita konsumsi kita juga lah yang akan merasakan manfaatnya. |