|
"You buy this book to learn how to lie, Mommy?!" tanya Jasmine (7 yrs) sambil menyeruak ke kamar. Saya geragapan. "What book?" tanya saya penasaran. Jasmine memegang sebuah buku kecil yang kelihatan tua sekali. Dia berusaha mengeja judulnya ,"How to lie with...st...sta...." Saya melongok buku yang ada di tangannya. Oooh...!
"That's Daddy's book," kata saya. "So, Daddy learns how to lie?"
"No. No. That's a...." Saya kehilangan kata-kata. Otak saya berkeliaran untuk mencari sebuah kata yang tepat untuk menjelaskan tentang keberadaan buku itu, sementara tangan saya sibuk melipat-lipat baju.Tapi kok susah amat menemukan formula kalimat yang pas. Secara kasar, kalimat itu seharusnya berbunyi "Buku itu berisi informasi tentang bagaimana orang memanipulasi hasil statistik". Tapi rasanya susah sekali membuatnya menjadi kalimat sederhana.
Jasmine masih menunggu penjelasan dari mulut saya sambil membuka-buka halaman demi halaman buku itu.
"Ok...Jasmine, it's hard to say it in the simple way. That book is about statistics. Statistic is...well...close to math. About the numbers." Saya terdiam lagi. "And some people manipulated it," ucap saya, dalam hati tentunya.
"Ok...," sambung saya," That's about how to know if someone lie about the numbers." Aduuh...jauuh!
"Oh, I know! So you'll know if the criminals have lied to you?" katanya.
Saya bingung antara mengiyakan atau tidak. "Well...sort of...," jawab saya akhirnya (sambil menyesali mengapa dalam keadaan seperti ini otak saya selalu macet).
"Oooh...." jawabnya sambil ngeloyor meninggalkan saya yang termangu-mangu. Apa yang dia tangkap sebenarnya? Saya tengok kemudian, terlihat dia sedang asyik membuka-buka buku itu (sampai akhirnya dia pusing sendiri dan bukunya digeletakkan di sofa ).
Tiba-tiba di benak saya timbul sebuah rasa penasaran yang besar. Semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, itu yang disebutkan dalam Qur'an, sungguh benar adanya. Di mata anak-anak (dalam hal ini diwakili oleh Jasmine), berbohong adalah perbuatan nista, apapun alasannya. Tetapi, mengapa para orang dewasa yang dulunya juga anak-anak yang fitrah menjadikan kebohongan sebagai bagian dari nafasnya sehari-hari? Dari mana asalnya pelajaran kebohongan itu mulai mereka dapatkan? Mereka, para orang dewasa, berbohong tentang pajak, berbohong tentang pengadaan barang, menipulasi angka dan harga, berbohong tentang informasi, berbohong di media, bahkan mereka berbohong bahwa mereka telah bohong.
Dengan rasa penasaran, saya buka halaman pertama buku itu. Ada salah satu petikan yang tertulis di situ :
"There are three kinds of lies : lies, damned lies and statistics" - Disraeli (PM Inggris abad 19, red).
Ternyata statistik yang sering dielu-elukan orang juga tak lepas dari kebohongan. Padahal betapa sering kita dengan yakin, hakul yakin, mengatakan ,"Menurut hasil statistik...bla...bla...bla." Tiba-tiba saya merasa ngeri. Betapa kita sering percaya dengan hasil penelitian yang notabene ditunjukkan dengan angka statistik. Tidak perlu suudzon memang. Tapi waspada tetap perlu. Dan hati-hati, jika anda memanipulasi data statistik, maka Jasmine telah menggolongkan anda sebagai criminals . |