We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Anak arrow Bermain Yuk Nak… !
Bermain Yuk Nak… ! E-mail
Pengirim: Andi Sri Suriati Amal   
Kamis, 16 November 2006

"Hallo Kakak, ini Salam" teriak Salam dengan hendy mainannya dari kamarku.
"Ya hallo, ada apa ?" jawab Jehan dari bawah meja makan.
"Kakak, mau ikut ke Berlin nggak?" teriak Salam masih dengan hendynya.
"Ke Berlin ? Boleh-boleh, kakak mau ikut" jawab Jehan lagi.
"Oke, kita ketemu di banhof ya, tscus..." Salam lagi.
"Tschus..." Jehan

Sebentar kemudian Jehan dan Salam sudah siap dengan ransel dan koper kecil mereka lengkap dengan topi, kacamata dan hendynya.

"Ajak Deniz nggak ?" tanya Jehan.
"Boleh, yuk kita ke rumah Deniz" jawab Salam.

Mereka berdua kemudian mengetuk pintu kamar satu lagi.
"Assalamu 'alaykum..." Jehan dan Salam.
Sambil buka pintu Deniz menjawab salam.
"Kita mau ke Berlin, Deniz mau ikut nggak ?" Jehan dan Salam.
"Iya, mau" Deniz.

Kemudian mereka bertiga berdiri sesaat layaknya orang lagi menunggu kereta. Kemudian terdengar aba-aba, "Ayo naik, ICE-nya sudah sampai"

Begitulah anak-anak kami bermain rumah-rumahan dengan menggunakan kamar dan bawah meja sebagai rumah-rumahan mereka. Sebentar saling telpon-telponan, jalan-jalan ke kota naik kereta atau saling bertamu sampai acara jual-jualan. Kalau sudah main begini, anak-anak akan betah sekali bermain lama. 

***

Saya hanya senyum-senyum sendiri menyaksikan mereka bermain. Pikiranku melayang ke masa kecil dulu. Betapa dulu di zaman saya masih SD di kampung tempat saya lahir dan dibesarkan rasanya tidak berlebihan jika saya katakan disanalah syurganya taman bermain. Betapa tidak, lahan permainannya tidak terbatas--jangkauan tempat bermain kami bisa satu kampung--, aman karena itu tidak perlu diawasi oleh ortu sehingga tidak perlu menunggu sampai ibu atau ayah ada waktu, dan meskipun alat permainannya tidak secanggih dengan alat permainan yang ada di taman-taman bermain (ayunan,perosotan dll) tapi kita masih tetap bisa bermain dengan asyiknya dengan bahan-bahan yang tersedia di sekitar.

Betapa dulu saya dan teman-teman menikmati bermain rumah-rumahan yang kami buat sendiri. Mencari batang kayu yang agak panjang, mengikat ujung-ujungnya seperti mau buat kemah-kemahan kemudian menggunakan sarung sebagai dinding dan alas meja atau apa saja yang diambil dari rumah untuk dijadikan alas. Kemudian mengumpulkan kayu bakar, mencari batu untuk dijadikan tungku lantas main masak-masakan seperti merebus ubi, pisang atau buat mie kuah atau sup ubi yang meskipun rasanya tidak jelas tapi selalu habis tak bersisa. Dirumah-rumahan itu kami kadang menghabiskan waktu sepanjang hari di sana (khususnya diwaktu libur atau hari minggu).

Serunya bermain kucing tikus atau petak umpet khususnya waktu musim jagung (ngumpetnya disela-sela pohon jagung) waktu malam purnama sambil menunggu masaknya jagung rebus atau jagung bakar, satu lagi kenangan yang tidak terlupakan. Memanjat pohon jambu dekat rumah atau membuat ayunan dengan menggantung tali didahannya.  Belum lagi waktu hujan lebat, bermain hujan dan perosoton dari tanah yang agak tinggi dengan beralaskan pelepah pisang. Bermain kasti, bermain tali, lomba lari, lomba sepeda, menangkap capung, mencari jengkrik atau sekedar memperhatikan kutu tanah yang lagi membuat rumahnya dan banyak lagi yang saya sudah lupa apa namanya.

Pulang mengaji langsung ke 'ahang salo' kampung utara sungai yang dekat dengan laut menunggu nelayan-nelayan naik, kadang dapat ikan dua tiga ekor sampai dirumah langsung dibakar. Atau sekedar menyusuri tepi pantai yang berawa saat air surut bersama orang-orang pencari kerang. Betapa senangnya belajar dari mereka mengenali lubang-lubang persembunyian kerang dan sangat puas bila berhasil mengumpulkan kerang cukup banyak. Meskipun untuk permainan yang satu ini ibuku kurang suka, takut kalau saya main ke laut, takut saya tenggelam katanya.

***

Tidak bisa dipungkiri zaman sudah berubah, tetapi kita seharusnya tidak melupakan aktivitas bermain ini bagi anak-anak kita yang dulu juga sangat kita gemari. Selain lahan bermain yang semakin kurang juga faktor keamanan membuat anak-anak kita tidak bisa keluar bebas bermain. Saya sendiri mengakui, untuk melepas anak-anak keluar bermain tanpa ditemani membuat saya ketar-ketir. Terbayang macam-macam dalam benak saya, takut inilah, takut itulah. Tapi kekhawatiran ini sangat rasional, karena tinggal di kota besar dengan macam-macam manusia yang tidak dikenal membuat segala sesuatu sangat mungkin terjadi. Karena itu anak-anak tidak pernah bisa bermain tanpa pengawasan orang tuanya. Karena itu pilihannya hanya dua membiarkan anak-anak bermain dalam rumah (resikonya rumah berantakan) atau keluar bermain bersama mereka (dengan mengorbankan waktu kita).

Jika pilihan pertama yang di ambil berarti harus siap-siap dengan kondisi rumah yang bak kapal pecah. Saya tahu pilihan inipun sebenarnya tidak mudah, mengingat tinggal di luar negri tanpa pembantu tapi standar kebersihannya yang cukup tinggi, membuat saya dan suami pontang panting setiap hari dengan masalah kebersihan ini. Sehingga yang sering terjadi adalah tawar menawar dengan anak tentang kapan dan di mana boleh main.

"Mainnya nanti saja lagi ya sayang. Mama baru... saja beresin rumah" atau,
"Mainnya jangan di sini ya nak, di kamar kakak saja"
 
Atau pilihan kedua, mengajak mereka bermain keluar. Masalahnya sekarang, maukah kita meluangkan waktu kita untuk itu? Maukah kita berhenti sejenak dari kesibukan kita atau mengatasi keengganan kita beranjak dari depan komputer karena tuntutan pekerjaan atau asyik ngeblog atau chatting dengan teman, atau lagi asyik di depan TV karena sinetron kesukaan kita sedang seru-serunya ?.

Kalau kita mau jujur, perubahan zaman ini ada juga baiknya untuk anak, asal saja kita orang tua memahami kebutuhan anak dan mau sedikit berkorban untuk itu. Tuntutan keadaan memaksa orang tua untuk banyak terlibat dalam urusan anak, akan tetapi ini akan mendatangkan hal positif bagi orang tua dan anak. Karena ternyata dengan meluangkan waktu bermain bersama dengan anak atau sekedar mengawasi, orangtua akan dapat semakin mengenal anak dengan mengamati ketika mereka bermain. Bahkan lewat permainan  orangtua juga dapat menemukan kesan-kesan dan harapan anak terhadap orangtuanya dan keluarganya terutama ketika bermain pura-pura/role-playing). Bermain pura-pura menggambarkan pemahamannya tentang dunia dimana ia berada. Lewat bermain bersama dengan anak, kita juga bisa sekalian mengajarkan pada anak kita, bagaimana mengerjakan segala sesuatu dengan rapi sekaligus mengajarkan anak tentang disiplin, kapan anak boleh bermain, kapan waktu belajar, waktu makan ataupun waktu tidur. Kita pun bisa sekalian mengajarkan pada anak kita tentang tanggung jawab, dimana bila sudah selesai mengerjakan sesuatu, kita pun harus membereskannya kembali.

Banyak orang tua menganggap bermain itu tak ada gunanya dan hanya membuang-buang waktu saja. Seringkali terdengar orang tua berkata begini: ‘Ayolah, nak, jangan main melulu. Pergilah membaca, belajar atau mengarang!’. Padahal, seperti kata Wassilios E. Ftenakis (pakar pendidikan anak di universitas Bozen), bermain bagi anak-anak adalah belajar dan anak-anak harus bermain, setiap hari tanpa mengira tingkatan umur anak.

Bagi anak-anak, bermain adalah kebutuhan pokok yang harus dipenuhi seperti halnya makan dan minum. Bermain membantu anak mengembangkan semua aspek kepribadiannya, dari  fisik-motorik, emosional, sosial, dan moral hingga mental-intelektual dan perkembangan kreatifitasnya. Dengan bermain anak dapat memenuhi rasa keingintahuannya dan mengembangkan keinginannya untuk bereksplorasi. Bermain dengan teman atau saudaranya melatih anak untuk bisa sabar, toleran dan pengertian terhadap orang lain.

Menurut Anne Gordon, untuk anak-anak di bawah umur tiga tahun permainan paling sesuai ialah yang mengenalkan jenis-jenis binatang, buku bergambar, lagu anak-anak dari CD, puzzle berukuran besar, blok (mega block), boneka-boneka binatang, mobil-mobilan atau kuda-kudaan. Untuk usia taman kanak-kanak (3 – 6 thn) sebaiknya diberikan permainan yang memerlukan banyak gerak, seperti main bola, sepeda (roda tiga), scooter (roller), perosotan, atau Go-Kart atau jenis-jenis permainan di luar rumah lainnya. Sedang untuk permainan dalam rumah misalnya mewarnai/menggambar, bongkar-pasang (lego), bermain dough (kneten) atau membuat prakarya (basteln). Main masak-masakan, main rumah-rumahan atau main dokter-dokteran. Buku bergambar, mendengar cerita/bercerita, bermain tebak-tebakan atau bermain musik juga sesuai untuk usia ini. Untuk anak usia sekolah (7 tahun ke atas) permainan yang dianjurkan seperti bermain sepeda, meluncur, menulis atau membuat buku, bermain computer, atau permaianan yang menuntut ketangkasan dan menang-kalah, membuat prakarya dan konstruksi bangunan. (Lihat artikelnya: ‘Spiel, Kindchen, Spiel’ dalam majalah Kinder edisi November 2006).

Pic: images dot com

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement