|
Dulu, di tahun-tahun pertama saya tinggal di Tokyo, saya pernah mengirim email kepada teman-teman Ashkaf, yang isinya tentang kekaguman saya terhadap budaya masyarakat Jepang yang begitu murah berkata maaf dan terimakasih. Namun salah seorang sahabat saya mengatakan bahwa, sebenarnya bangsa Indonesia pun jauh lebih santun lagi.
Bahwa budaya maaf dan terima kasih merupakan budaya yang mengakar pula di masyarakat kita. Karena saya tinggal jauh dari tanah air, saya pikir mungkin perkataan sahabat saya itu benar adanya, saya yang kurang bergaul sehingga kurang , menangkap ciri khas tersebut, dari orang-orang di sekitar saya saat di tanah air. Namun setelah sekitar enam tahun saya tinggal di Tokyo, dan sekarang saya kembali tinggal di tanah air. Saya sulit menangkap ciri khas tersebut. Rasanya orang masih seringkali enggan untuk meminta maaf kalo menyenggol orang sebelahnya, atau mengucapkan terima kasih kepada tukang parkir yang telah berusaha menahan laju mobil lain agar mobil yang diparkirkannya bisa kembali ke jalanan. Ada beberapa contoh, yang sempat terekam dalam ingatan saya, dan mungkin contoh-contoh kecil lainnya yang tidak lagi saya ingat. Beberapa diantaranya, saat saya mengajak anak-anak untuk jalan-jalan ke Bandung Super Mall, sekedar mencoba beberapa fasilitas permainan di sana. Saat akan pulang, di depan pintu keluar utama ada antrian anak-anak yang rupanya menunggu giliran untuk diberi balon yang dibentuk macam-macam oleh dua orang badut. Anak-anak saya tertarik untuk mendapatkannya, maka ikutlah antri, ada sekitar 6-8 orang anak di depan anak-anak saya. Iseng saya perhatikan dan menghitung berapa banyak anak-anak yang mengucapkan terima kasih setelah mereka mendapatkan balon tersebut. Dari 6 orang anak, hanya satu yang mengucapkan langusung rasa terima kasihnya, anak-anak yang lain langsung menuju ke orangtuanya, dan orang tuanya pun merasa tidak perlu menyatakan rasa terima kasihnya. Sedangkan dua orang lagi, orang tuanya lah yang mengucapkan terima kasih, sedangkan anak-anaknya terlalu asyik dengan balonnya. Sikap anak-anak tersebut bisa saja dimaklumi, namanya anak-anak yang sedang mendapatkan barnag baru, tapi bukankah tidak sulit bagi orang tuanya untuk mengingatkan anak-anak tersebut bahwa sesederhana apapun bentuk bantuan/kebaikan orang lain haruslah dihargai minimal hanya dengan mengucapkan terima kasih saja. Contoh kedua terjadi saat saya menggunakan kereta Parahyangan dari Jakarta menuju Bandung, naik kelas eksekutif. Anak saya yang pertama ketiban koper yang jatuh dari tempat penyimpanan barang diatas tempat duduk milik orang yang duduk dibelakangnya. Tentu saja kesakitan, koper je,..minimal beratnya 5-10 kilolah. Tentu saja anak saya menangis kesakitan, tapi apa lantas sang pemilik koper meminta maaf? Saya tunggu-tungu tidak juga keluar kata tersebut, minimal untuk anak saya. Pemilik hanya melihat apakah anak saya baik-baik saja, dan setelah dibujuk memang anak saya berhasil mengabaikan rasa sakitnya dan berhenti menangis. Saya agak bingung, menyuruh si pemilik koper untuk minta maaf? Bagaimana acaranya? Marah? Sindiran halus? Bagaimana seharusnya? Masih di kereta yang sama, tapi kejadiannya di depan kursi saya. Seorang ibu telah duduk dengan nyaman, tak lama kemudian datang seorang bapak dengan usia yang relatif sama dengan ibu tersebut (sekitar 35-40 tahun). Bapak tersebut menyatakan bahwa itu adalah nomor kursi miliknya, tapi sang ibu menyatakan bahwa nomor kursi si bapak ada di gerbong belakang. Dengan patuh si bapak pun mencari ke gerbong belakang. Tapi rupanya dia bertanya kepada kondektur sambil menunjukkan tiketnya. Lantas kondektur pun menunjuk kepada kursi si ibu. Ooo, rupanya si ibu tersebut salah gerbong, dia yang seharusnya ada di gerbong belakang dengan nomor yang sama. Tapi apa yang dia ucapkan saat si bapak menagih haknya?. “Ya sudah Pak,..gantian aja, kenapa sih?, daripada saya bolak balik “… Ye,… saya bengong melihat reaksi si ibu, tidak menyangka akan se-tidak-tahu diri seperti itu. Jelas si bapak marah, tapi dia berhasil menahannya, , setelah protes sedikit dia langsung kembali ke gerbong belakang untuk mencari tempat duduk. Terus terang, sebelum saya berangkat ke negeri sakura, bisa jadi saya pun kurang peka terhadap hal-hal sepele seputar maaf dan terima kasih. Tapi setelah sempat menyaksikan masyarakat di belahan bumi lain, kok ya rasanya malu sendiri. Awal-awal kedatangan saya di Tokyo, seringkali suami yang mengingatkan untuk segera mengucapkan maaf , walopun kesahalan saya hanyalah “sekedar” troli menghalangi jalan orang lain ketika sedang berbelanja di super market. Atau diingatkan untuk selalu mengucapkan terima kasih kepada kasir yang melayani saya. Arigatogozaimasta….kepada pegawai di jalan tol, kepada petugas kebersihan apartemen, kepada pegawai pemerintah di kantor kecamatan dst.Akhirnya kata-kata sumimasen dan arigato gozaimasta pun menjadi dua kata-kata jepang yang paling banyak diucapkan. Setelah bebarapa contoh tersebut dan contoh-contoh lainnya yang tidak saya tuliskan, rasanya bolehlah kalau saya mulai bertanya-tanya mengenai perilaku masyarakat kita. Dan mungkin bolehlah kalau saya sedikit khawatir tentang kepekaan untuk meminta maaf dan berterima kasih masyarakat kita termasuk saya semakin terkikis . Menurut saya efek kata-kata maaf dan terima kasih cukup besar. Seseorang yang mengatakan maaf akan terus dilatih untuk rendah hati, dan selalu introspeksi. Sedangkan dari kata-kata terima kasih akan muncul rasa menghargai orang lain sekecil apapun. Akan terwujud hubungan yang harmonis, saling menghargai dan menghormati hak dan kewajiban orang lain. Karena saling menghargai ini mungkin kita akan jauh lebih berhati-hati dalam berkendaraan di jalan. Kita tidak akan parkir mobil sembarangan karena bisa jadi membuat tidak nyaman pengguna jalan lainnya. Kita akan lebih patuh menataati peraturan, karena bila tidak, kita khawatir akan merugikan orang lain. Kita tidak lagi membuang sampah sembarangan karena lingkunga akan menjadi kotor karenanya. Kita akan suka rela antri dengan tertib, dst Mungkin di Indonesia sulit menyaksikan di media massa seorang pejabat atau pemerintah meminta maaf di depan publik secara resmi. Dimana hal ini sering saya temukan di negeri impian sana. Seorang politisi meminta maaf kepada rivalnya karena salah mengeluarkan statement tertentu, atau pihak pemerintah daerah meminta maaf secara resmi di media massa kepada masyarakatnya karena ada kasus meninggalnya seorang anak anak kecil yang tenggelam di kolam renang umum milik pemerintah daerah setempat. Bayangkan seorang anak kecil, satu orang dan anak kecil lagi! Dan kesalahan bukan pada soal kurangnya tenaga pengawas kolam renang, tapi karena ada pintu saluran yang tidak tertutup dengan baik, dan si anak iseng bermain-main dengan pintu tersebut sehingga tersedot masuk ke saluran. Padahal bila dilihat sekilas, sebenarnya bukan semata-mata kesalahan pemerintah daerah tersebut, tapi tetap pihak pemerintah daerah menyatakan rasa tanggung jawabnya atas kelalaian yang menyebabkan peristiwa tersebut. Untuk menghormati rasa duka keluarga korban dan menunjukkan rasa penyesalan yang mendalam, pemerintah daerah setempat membatalkan acara festival sakura yang biasa digelar setiap tahun oleh pemda, yang rencananya akan digelar tak lama setelah peristiwa tersebut, dimana acara tersebut biasanya telah dipersiapkan beberapa bulan sebelumnya. Bagi kita bisa jadi hal semcam itu terkesan berlebihan, tapi untuk standar masyarakat sana, mungkin sikap seperti itu pun masih dianggap kurang. Sampai sekrang pun saya seringkali kangen dengan suasana penyambutan para pelayan toko bila saya berbelanja, atau iringan ucapan terima kasih dari segenap penjuru bila saya telah meyelesaikan transaksi atau keluar dari toko/restoran. Bukan masalah soal pemujaannya tapi saya merasa begitu dihargai walopun hanya sekedar membeli permen . Sebentar lagi lebaran, seringkali momen tersebut digunakan untuk saling meminta maaf, dan memaafkan. Mudah-mudahan maaf-memaafkan ini tidak hanya di bulan syawal tapi juga di bulan-bulan berikutnya, dan terus merembet ke hal apapun dan siapapun. Bisa jadi kita sulit mendengar kata-kata maaf dari para orang tua kepada kita, anak-anaknya, seringkali mereka hanya memberi maaf. Hal ini karena memang bisa jadi kitalah yang begitu banyak kesalahannya kepada mereka. Tapi mungkin selain meminta maaf kepada orang tua kita, akan jauh lebih baik bila kita yang telah menjadi orang tua untuk memulai meminta maaf kepada anak-anak kita. Meminta maaf atas segala kesalahan-kesalahan baik yang kecil maupun besar selama proses pendidikan kita terhadap mereka. Dan berterima kasih kepada mereka atas segala pengertiannya terhadap kekurangan tersebut serta kesediaan memaafkan yang absolut dari mereka. Mudah-mudahan budaya saling memaafkan di saat Lebaran terus menjadi budaya yang konsisten kita jalankan, sehingga yang dikatakan ciri khas oleh sahabat saya itu pun memang akan terlihat dan kita rasakan. Wallahu’alam Hermin Wicaksono |