We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Goresan Pena arrow Resensi Musik arrow Saving Fish from Drowning
Saving Fish from Drowning E-mail
Rabu, 08 November 2006

Amy Tan adalah salah satu penulis yang semua karyanya saya baca. Beberapa di antaranya, seperti Bonesetter’s Daughter dan Kitchen’s God Wife bahkan saya baca dua kali. Karenanya, menemukan novel barunya seperti menjumpai seorang sahabat lama. Saya tak sabar ingin menyimak kisah yang dibawanya. 

Namun membaca beberapa halaman awal, terus-terang saya kehilangan selera. Tak ada suspense yang biasanya memikat saya di halaman pertama, bahkan naratornya (ini yang paling saya tak suka) adalah seseorang yang sudah meninggal. Apa yang bisa Anda harapkan dari seseorang yang sudah tahu segalanya? Saya seperti sedang bertopang dagu, menahan kantuk, mendengarkan seseorang bercerita kilas balik dengan nada datar, tanpa emosi. Teknik bercerita seperti ini memang tak baru. The Five People You Meet in Heaven dan The Secret Life of Bees juga menggunakan narator orang yang sudah meninggal. Saya harap Amy Tan bukan sekadar ikut arus. Karena saat membaca novel baru ini, saya seperti mengenali Amy Tan sebagai sahabat lama yang bukan dirinya. Namun apa saja harus dilakukan untuk seorang ‘sahabat lama’ bukan? Maka saya mencoba memendam bosan, hingga suspense yang saya tunggu-tunggu itu akhirnya muncul di penggalan tengah buku setebal 496 halaman itu!

Saving fish from drowning yang menjadi judul novel ini adalah metafor tentang kenaifan nelayan Burma. Mereka menangkap ikan untuk menyelamatkannya (yang tentu saja, sang ikan tak tertolong) lalu menjualnya di pasar. Metafor ini, uniknya, bukan menertawakan keterbelakangan masyarakat Burma seperti yang saya kira, namun menyentil wacana modernitas yang diusung dua belas turis Amerika, yang ketika berhadapan dengan Suku Karen yang teraniaya di pedalaman hutan Burma, menjadi salah tingkah.

Kedua belas turis ini memang sudah menemui kebetulan-kebetulan aneh sejak awal cerita. Pemimpin rombongan mereka, Bibi Chen, meninggal secara misterius beberapa hari sebelum keberangkatan, saat semua rencana sudah matang dan tak mungkin digagalkan. Menyeberang dari Cina ke Burma, salah satu turis membuat kesalahan fatal di sebuah kuil yang berbuah kutuk bahwa perjalanan mereka pasti akan menghadang bahaya. Benar saja. Klimaks dari semua kesialan itu, mereka tertahan di tempat persembunyian Suku Karen yang sedang diperangi oleh junta militer Burma. Semua kejadian ini dituturkan oleh Bibi Chen, yang tentu saja, mampu melihat semuanya.

Saya setia kepada karya Amy Tan bukan dengan tanpa alasan. Amy memotret filosofi timur bukan dengan kamera turis, melainkan dengan penghayatan yang dalam. Di permukaan yang tampak mungkin adalah rentetan peristiwa mistis, namun di balik itu adalah kerendah-hatian kepada alam, dan kebodohan yang menyimpan keluhuran. Seperti yang biasa dilakukannya, Amy membingkai kelindan kultur barat dan timur bukan sebagai kontras yang tak padu, melainkan dialog yang dinamis (tentu saja, seperti dialog kultural yang membesarkannya).

Ada banyak alasan untuk setia kepada sahabat lama. Novel baru Amy ini mungkin tak bisa dianggap bagus dalam kaidah creative writing. Tokoh-tokohnya hadir sekelebat, seperti asing satu sama lain (selama ini, tokoh paling banyak dihadirkannya di Joy Luck Club, 8 orang). Delapan bab pertama dibiarkannya mengalun seperti intro yang terlalu panjang, sama sekali tanpa kejutan. Dengan narator tunggal, buku ini didominasi ‘telling’ (bukan ‘showing’). Ironisnya, di beberapa bagian narasi Bibi Chen tampak rancu, bercampur dengan sudut pandang penulis. Bagaimanapun, bukan Amy Tan kalau tak menyelipkan humor satir. Kecanggungan turis Amerika di negara berkembang tak hanya membuat mereka tampak konyol, namun kebijaksanaan ala barat yang biasa tampil klise dalam film Hollywood memang tak ubahnya seperti menyelamatkan ikan dari tenggelam dengan mengangkatnya dari air. Mungkin itu sebabnya, meskipun menggerutu diam-diam, saya tetap setia membaca karya-karya Amy Tan, yang sederhana tetapi kaya.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement