We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Goresan Pena arrow Cerita Pendek arrow Permen Abdullah
Permen Abdullah E-mail
Pengirim: Andi Sri Suriati Amal   
Selasa, 07 November 2006
"Cukuplah Maria, jangan bawa-bawa Abdullah. Dia masih terlalu kecil untuk mengenal huruf-huruf Arab itu."

"Kamu tau sendiri kan, di Jerman ini umur tujuh tahun baru anak-anak diajarkan membaca" kilah Hans ketika Maria mengajarkan Iqra' kepada Abdullah yang kini berusia 6 tahun.

Tak pelak lagi, perselisihan pendapat pun sering terjadi. Hans bukan hanya menolak untuk sholat bersama, malah selalu menolak segala yang dilakukan oleh Maria. Semua dianggapnya salah dan keterlaluan. Maria mencoba bersabar, dia tau sangat sulit buat Hans menerima segala sesuatu yang tentu saja masih sangat baru buatnya. Bila ada kesempatan dijelaskannya pelan-pelan dan tak lupa dipanjatkannya doa khusus agar suaminya juga bisa mendapat hidayah seperti dirinya.
 
Syukur kini Hans bisa menerima penampilan barunya dengan baju muslimah dan mau berbelanja di toko-toko yang menjual daging halal meskipun masih menolak untuk sholat dan puasa. Yang jelas kini Maria bisa melaksanakan ibadah dengan baik dan mengajarkan anaknya dengan berbagai ilmu agama. Abdullah dimasukkannya kekelas iqra' yang diadakan di mesjid Arab. Hans pun tidak banyak kometar lagi tentang hal ini.

Hingga pada suatu sore ketika Abdullah dan ayahnya baru pulang, Maria melihat anaknya mengunyah sesuatu. Ia sangat terkejut bila mengetahui permen yang dimakan Abdullah mengandung gelatin yang bahan dasarnya dari lemak babi.
 
Spontan Maria merampas permen itu dari tangan anaknya. Abdullah seketika kaget terus berteriak dan menangis,

"Mama..." teriak Abdullah.
"Itu permen Abdullah. Ibu guru yang kasih tadi di sekolah" Abdullah mulai menangis.
"Tidak sayang, ini tidak boleh. Permen ini haram Abdullah" Maria mencoba membujuk Abdullah.

"Papa, lihat itu mama. Abdullah mau permen itu" Abdullah segera berlari mengadu ke papanya.

"Maafkan saya Hans, tapi permen ini haram" Maria mencoba menjelaskan. Tangis Abdullah makin keras. Pokoknya dia mau permen yang kini ada di tangan Maria. Hans yang memang masih cape' tidak bisa menahan marah lagi.
 
"Apa-apaan ini Maria. Semuanya haram, permen pun haram. Saya tidak bisa terima lagi. Cukup..., saya tidak tahan lagi di rumah ini" suara Hans menggelegar yang diikuti suara pintu dibanting.

“Duh, salah lagi ..,” jerit Maria dalam hati. Abdullah mendengar teriakan papanya langsung berhenti menangis dan menghambur ke arah mamanya.

Maria hanya bisa menangis sambil memeluk erat putra satu-satunya, harapannya. Sepanjang jalan di dalam kereta (S-Bahn) menuju rumah, Maria mencoba merenungi kembali langkah demi langkah yang dilaluinya selama ini. Ah, dia tidak boleh menyalahkan Hans. Walau bagaimana pun, tetap banyak yang harus disyukurinya. Hans cukup sering mengalah dan mengikuti segala keinginannya. Mungkin caraku yang agak keterlaluan. Tentu saja, aku tidak boleh langsung memaksakan semua keinginanku kepada Hans dan anakku. Pikirnya. Bukankah dakwah Nabi juga bertahap?
 
Satu tekad kini yang dipegangnya. Dia tidak boleh menyerah. Maria akan terus berjuang agar keluarga samara yang diidamkannya dapat terwujud. Bersama Hans, suaminya dan Abdullah anaknya. Ya Allah, izinkan aku terus bersamanya dalam ridho-Mu. Pintanya dalam hati.

Frankfurt, 8 Juni 2006



 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement