|
Halaman 1 dari 2 Pernikahan adalah negeri pelangi? Demikian indahkah? Bukankah dalam kehidupan nyata, pernikahan tak seperti jalan bertabur bunga?
Rutinitas kehidupan sehari-hari memang bukan kisah dalam negeri dongeng. Selalu ada hujan-badai yang menerpa setelah bulan madu berlalu. Ada masalah ekonomi, masalah keluarga besar, anak, pekerjaan dan lain sebagainya. Bayangkan bila istri sedang uring-uringan karena post-menstruation-syndrome, suami juga emosional karena kurang tidur disebabkan oleh kerja lembur yang bertumpuk. Rumah berantakan tapi malah kedatangan tamu. Duh!
Sementara itu, pakaian kotor rasanya baru saja dicuci. Ternyata sudah menggunung lagi! Piring kotor bertumpuk belum sempat dibereskan. Kemudian ditambah pula dengan anak sakit pada saat yang sama. Sungguh keseharian yang membuat kepala senut-senut. Rasa jenuh pun memuncak sampai ke ubun-ubun! Kalau semua hura-hara ini datang satu per satu, mungkin masih mudah untuk dihadapi. Seringnya, semua menimpa kita bersamaan, tanpa kompromi!
Melihat sederet kejadian ini, masihkah pernikahan kita seperti negeri pelangi? Apakah pernikahan kita masih seindah saat pertama kita memimpikannya?
Berikut tujuh langkah yang mungkin bisa kita terapkan agar pernikahan serasa bagai melayari negeri pelangi.
1. Tetap konsisten memperjuangan tujuan pernikahan
Ketika memutuskan untuk menikah, setiap kita tentu mempunyai tujuan yang ingin diraih. Kebahagiaan adalah tujuan pernikahan yang umumnya diinginkan banyak orang. Bahagia itu sendiri memiliki definisi yang berbeda bagi setiap orang. Bahagia bisa diperoleh dari kehadiran buah hati, rasa cinta dan saling percaya, merasa aman secara finansial, dan lain sebagainya.
Teruslah berjuang meraih tujuan yang belum kita raih. Tetaplah bersyukur dan menikmati semua anugrah yang sudah berada dalam genggaman kita.
2. Memakai “kacamata bahagia” ala-Nya
Seringkali, pelangi terlihat jauh lebih indah di atas kepala orang lain. Keindahan yang membuat kita terpaku, sehingga kita sering terlupa pada pelangi indah yang kita miliki bersama suami tercinta. Misalnya, kita mendengar ada teman yang berulang tahun, lalu mendapat kado kejutan dan kiriman bunga dari suami tercinta. Namun pada saat kita berulang tahun, suami melupakannya begitu saja.
Marah? Tentu saja! Kecewa? Pasti! Tapi tentu saja kita harus menyikapi kemarahan dan kekecawaan ini dengan bijaksana. Jangan sampai mengurangi rasa cinta dan sayang dalam perkawinan. Bukankah saat kita memilih menikah dengan sang suami/istri tersayang, ada sekian banyak “kelebihan” yang dia miliki?
Memandang kebahagiaan dengan “kaca-mata” yang tepat, akan menghadirkan rasa syukur yang lebih mendalam pada-Nya. Kita akan sibuk menghitung nikmat dan karunia yang kita miliki, sehingga mampu berlapang dada menerima setiap “kekurangan” pasangan kita. Begitu juga sebaliknya.
<< Mulai < Sebelum 1 2 Berikut > Terakhir >>
|