|
Naomi Shihab Nye bukan tipikal penyair yang menelantarkan pembacanya di sebuah sudut; termangu, merasa bodoh, namun tak berani bertanya. Nye bukan penyair yang enggan membagi puisinya dengan pembaca, membiarkan mereka menebak-nebak makna dan maksudnya. Puisi-puisi Nye menyapa pembaca dengan akrab, lalu mengajak ngobrol. Bahkan bekasnya pun betah singgah agak lama, di dada. Dengan kesantunan seperti itu, puisi Nye tak hanya indah, namun juga ramah dan menggugah.
Kelima puluh sembilan puisi ini ditulis Nye jauh sebelum sebelas September 2001, ketika orang beramai-ramai melongok negara Timur Tengah. Nye menghidupkan benda-benda mati jadi puisi; warung kopi, topi, buku alamat, karpet, juga debu kelabu di sepatu. Sebelum atau sesudah September sebelas, banyak hal tak berubah ternyata; mereka yang bungkam, menyaksikan gejolak peristiwa diam-diam. Ada harapan yang marjinal, mimpi tentang perdamaian yang tak terekam. Nye menghadirkan kesaksian bisu – mereka yang tersingkir media itu – dengan tutur sederhana.
Tumbuh sebagai non-muslim di Amerika dari keturunan Amerika dan Arab-Palestina tak menghalangi Nye untuk berbicara dengan bahasa kulturnya. Membaca puisi-puisinya Anda akan tahu betapa Nye sangat memahami kegelisahan dan harapan bahkan yang tersembunyi di gelap malam. Seperti dia bukan penyair saja, melainkan penutur kisah yang berbicara sambil merangkai bunga warna-warni dengan piawai. Ironi, humor, dan tragika dijalinnya dengan komposisi rapi sehinggak kita tak tahu apakah harus menggigit getir, tersenyum, atau mengenang luka. Dia tak sedang berceramah saya kira, namun membiarkan Palestina berkisah sebagaimana adanya.
Little Sister Ibtisam, our sleep flounders, our sleep tugs the cord of your name. Dead at 13, for staring through the window into a gun barrel which did not know you wanted to be a doctor.
I would smooth your life in my hands, pull you back. Had I stayed in your land, I might have been dead too, for something simple like staring or shouting what was true and getting kicked out of school. I wandered stony afternoons owning all their vastness.
Now I would give them to you, Guiltily, you, not me. Throwing this ragged grief into the street, scissoring news stories free from the page but they live on my desk with letters, not cries.
How do we carry the endless surprise of all our deaths? Becoming doctors for one another, Arab, Jew, instead of guarding tumors of pain as if they hold us upright? |