We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Buah Hati arrow Game Berlatih Berbagi
Game Berlatih Berbagi E-mail
Pengirim: Tuntas Margi Hartini   
Rabu, 18 Oktober 2006

Saya sering berpikir, bagaimana caranya mengajari anak untuk berbagi. Agar tidak terus-terusan rebutan mainan. Memang rebutan mainan atau barang apapun itu, sudah menjadi trademark-nya anak-anak. Namun jika tidak dilatih sejak dini untuk berbagi, takutnya anak-anak akan susah berempati pada sesama dan lingkungannya. Dia bisa saja menjadi orang yang selalu ingin menang sendiri dan tak mau mengalah demi kebaikan bersama.

Pernah saya temui dua orang kakak beradik. Mereka beda umur sekitar 2 tahunan. Si kakak, yang sudah hampir masuk SD- punya inisiatif sendiri dalam memilih jenis barang yang akan dimainkannya. Sementara si adik yang masih duduk di bangku TK, terbiasa mencontoh apa yang akan dan sedang dimainkan oleh kakaknya.

Masalah terjadi ketika mereka ingin memainkan barang yang sama, tapi jumlahnya barangnya hanya satu buah. Lagian orangtuanya tentu tak mungkin selalu membeli dua buah barang yang sama, hanya untuk melayani mereka berdua.
Biasanya masalah akan selesai jika sang kakak mau mengalah. Tapi jika sang kakak sedang "ngebet" ingin bermain barang pilihannya, walhasil sering terjadilah rebutan mainan, yang pada akhirnya mengakibatkan salah satu dari mereka menangis.

Oleh orangtua si anak, sang kakak dilatih untuk selalu bisa mengalah pada adiknya. Kelihatannya solusi itu oke kan? Di saat-saat tertentu saya katakan YA.  Tapi ternyata hal itu menimbulkan dampak negatif juga pada si adik. Ia yang terbiasa diberi kebaikan, merasa selalu bisa "menang“ dari kakaknya. Hal itu menjadikannya sering ngotot kalau sedang ingin sesuatu. Sulit untuk mengatakan padanya: "Tunggu sebentar ya, nak. Kakakmu juga sedang ingin bermain.“  Kalau ia sedang mau sesuatu, ya harus dituruti saat itu juga. Kalau tidak, akan memberontak dan menangislah dia. Cakar-cakaran dan cubit-cubitan pun acapkali terjadi dalam pertengkaran mereka.

Susahnya lagi, kebiasaan "menang sendiri“ yang dilakukan oleh si adik ini, dibawanya juga saat sedang bermain di rumah temannya. Intinya, karena seringnya ia merasa "menang“, di mana pun ia bermain dan menginginkan sesuatu, ya saat itulah ia harus mendapatkannya.

Hmm, hal itu benar-benar membuat saya makin berpikir. Bagaimana caranya supaya sang kakak tidak bete karena harus selalu mengalah, sedangkan si adik pun bersedia menunggu beberapa saat untuk mengantri mainan yang diinginkannya. Alhamdulillah, tanpa sengaja saya menemukan salah satu permainan untuk melatih mereka berdua berbagi. Sederhana sekali caranya.

Ceritanya sat saya sedang mengajari seorang teman untuk merenda. Teman saya pegang hakpen dan benang, saya pun begitu. Eh, si kakak ternyata tertarik dengan hakpen dan benang tersebut. Ia lalu meminjam kedua benda tersebut untuk dimainkannya. Ok, tak masalah kok, sayang.

Selanjutnya seperti yang biasa terjadi, si adik pun ikut-ikutan tertarik memainkan hakpen dan benang, persis dengan yang sedang dilakukan oleh kakaknya. Dia pun meminta-minta pada kakaknya untuk dibolehkan memainkan kedua benda itu. Saya pun meminta dengan halus pada si kakak untuk menuruti keinginan sang adik. Sang kakak menolak.

Rupanya ia masih merasa takjub dengan “permainan” hakpen dan benang yang baru pernah dilihatnya itu. Duh…, si adik sudah mulai mau nangis nih. Bagaimana caranya supaya mereka bisa sama-sama main ya? Masak mau minta hakpen dan benang yang sedang digunakan oleh teman saya sih. Dia kan sedang ingin berlatih merenda. Apalagi dia jarang berjumpa dengan saya. Kasihan kalau waktu berlatihnya harus terganggu dengan ulah dua sahabat kecil saya itu.

Akhirnya saya ajak mereka untuk membuat game sederhana. Caranya: saya minta sang adik untuk memegang hakpen dan benang. Saat ia "merenda“ itu, kami bertiga sama-sama menghitung dari angka 1 sampai dengan 10. Sesudah angka 10 disebutkan, saya minta hakpen dan benang itu diberikan ke si kakak. Lalu kami menghitung lagi dari 1 sampai dengan 10. Setelahnya si adik boleh bermain lagi selama dalam hitungan itu. Begitu seterusnya bergantian. Alhamdulillah, ternyata it works! Duh, seneng saya.

Besok-besok kalau mereka rebutan mainan lagi, saya akan kembali mengajak mereka untuk memainkan game tersebut. Hitungan bisa dimodifikasi dengan menyebut urutan huruf atau menyanyikan sebuah lagu pendek. Lihatlah bagaimana cerianya mereka saat sedang jeda waktu pergantian pemegang mainan. Membuat saya makin cinta dengan anak-anak dan berdoa semoga cinta pada mereka tetap ada. Sampai kapan pun.

Dresden, 1. Oktober 2006
Tuntas Margi Hartini
http://taschan.multiply.com

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement