|
Salah seorang mom di wrm-indonesia menceritakan hasil bincang bincangnya dengan teman yang sedang menjalankan studi S2 education di tempat tinggalnya. Ia menuliskan bahwa terdapat studi penelitian di jepang yang menunjukkan bahwa anak-anak jepang yang dulunya terlalu di drill dan masa belajar di sekolahnya terlalu lama terbukti mengalami stress. Karenanya saat ini pemerintah Jepang sedang merubah sistem, sabtu menjadi hari libur dan jam sekolahnya dikurangi dua jam tiap harinya.
Dari dulu ia sebenarnya tidak begitu "cocok" dengan pelaksanaan full day school. Namun bila sang ibu bekerja, rasanya tidak ada pilihan lain: lebih baik di sekolah dengan pengawasan daripada di rumah tak karuan aktivitasnya. Menurut temannya pula, anak anak sebaiknya tidak disekolahkan di lembaga pendidikan yang full day school, karena bisa jadi mereka akan menderita stress.
Beliau sedang mencari perbandingan antara sekolah full day school vs sekolah reguler, apa kerugian dan keuntungannya. Selain itu ia juga menanyakan apakah pada sekolah full day school terdapat kegiatan tidur siang atau malah aktivitas setelah tengah hari sifatnya ekstrakurikuler? Serta sampai jam berapakah sekolah yang menerapkan sistem full day school?. Simak yuk sharing para mommies di wrm-indonesia tentang tema ini.
"Kalau buatku, selama anaknya menikmati sekolah satu hari, rasanya tidak apa apa. Kalau anaknya merasa berat, baru mungkin harus dipertimbangkan. Indikasi capek,loyo,lesu, raut muka sedih setelah pulang sekolah mungkin merupakan beberapa ciri yang perlu diwaspadai.
Aku kemarin baru melihat video anakku yang dikirim gurunya,selama dia di sekolah. Aku lihat anak-anak di kelas tersebut menikmati saja sistem full day school yang ada. Mereka membaca sambil tiduran. Ada yang gambar, ada yang main komputer, ada yang duduk di kemah-kemahan. Kelihatan tidak terbebani. Malah kalau aku baca di milis HS, katanya anak-anak ini terlalu santai di sekolah, karena pada HS.
Anakku pergi sekolah jam 07.30 am sampai rumah jam 03.30 pm, naik bis sekolah. Dia masih saja jumpalitan, lari sana-sini, main sepeda, berantem juga dengan adiknya. Tenaganya masih saja ada. Padahal di sekolah ada pelajaran olahraga tiap hari.
Bila aku tidak menemukan sekolah yang cocok buat anak-anak, ya HS saja. Tetapi kemarin saat melihat keceriaan anak-anak di video tersebut, rasanya tidak tega melakukan HS pada anakku."
" Aku jadi berpikir, mungkin tidak ya konsep full day school di indonesia dan di luar indonesia berbeda?. Aku hanya mengamati bahwa program-program full day school di sini, biasanya aktivitas mayoritasnya setelah tengah hari bukan berupa belajar formal, tapi hanya berupa kegiatan pengawasan aktivitas yang diminati anak.".
"Kata kakakku (dia mengelola sekolah mulai dari TK sampai SMP), tidak ada sekolah yang cocok untuk semua anak. Sebaliknya tidak semua anak akan cocok dengan satu sekolah. Maksudnya setiap sekolah akan ada kekurangan dan kelebihannya. Tinggal kita menilai, kebutuhan anak seperti apa dan juga kebutuhan serta kemampuan kita sebagai orang tua.
Anakku masuk SD Salman al Farisi. Itu memang sekolah full day. Aku sendiri belum punya pengalaman karena masa tahun ajaran belum dimulai. Tapi minimal dari penjabaran gurunya, yang aku lihat sebagai berikut: Anak SD masuk jam 7.30 dan pulang pukul 16.00 kecuali jumat jam 14.00. Kalo TK masuk jam 8.00 pulang sama dengan anak SD.
Kegiatannya kalau anak SD, pagi ada istirahat sebentar dan nanti makan siang. KBM dimulai pukul 8.30 sampai makan siang dipotong istirahat pagi. Setelah makan siang dan sholat baru mulai lagi belajar yang sifatnya lebih relaks dan sesuai minat anak. Jam 15-16 persiapan sholat dan pulang.
Kalau anak TK jam 14-15 ada tidur siang, berikutnya sama dengan anak SD. Pagi harinya, anak TK baru belajar efektif dari jam 10-12 siang saja.Jadi efektifnya hanya 2 jam, selebihnya cuman main saja.
Kalau aku mempertimbangkan anak sekolah di full day, karena tadinya aku mau sekolah di bagian yang sibuk sekali. Tapi berikutnya itu semua berubah total. Dan saat ini aku ambil bagian yang lumayan santai, jadi sebenarnya anakku sekolah di sekolah biasa mungkin juga tak masalah. Namun mengingat sudah daftar dan sudah bayar, ya tidak ada salahnya dicoba dahulu.
Tapi aku sih tidak menyesal karena aku sudah berusaha mempertimbangkan dengan sematang mungkin segala kemungkinannya. Jadi saat kuputuskan memilih full day untuk anakku, insya allah sudah dengan penuh pertimbangan, bukan semata-mata ingin "menitipkan" anak dan berlepas tangan demi ketenangan.
Selain itu, ketika aku memilih sekolah, aku juga melihat banyak hal, mulai dari stabilitas sekolah, kemapanan sistim yang dimiliki sekolah. Aku masih belum berani menyekolahkan anak di sekolah yang baru berdiri. Juga tidak mau kalau sekolah itu hanya sekedar "menempelkan" unsur agama hanya untuk menunjukkan sebagai sekolah islam. Setelah penelusuran yang cukup panjang, mudah-mudahan pilihanku tidak salah.
Tapi semuanya proses dan semuanya sudah aku usahakan dengan maksimal. Tentang hasil, aku hanya berserah diri saja. Yang pasti niatku ketika menyekolahkan anakku di sekolah full day, bukan untuk berlepas tangan dan berharap menerima anak, tahu beres aja.
Aku memposisikan diri siap menjadi partner bagi guru-guru di sekolah anakku untuk bersama-sama mendidik anak-anakku. Bahwa tetap tanggung jawab pendidikan anak adalah tanggung jawabku sebagai orang tuanya, bukan menyerahkan begitu saja kepada sekolah dan menerima hasil begitu saja.
Selain itu, sebenarnya anakku sudah biasa sekolah sampai sore, karena saat di Tokyo dahulu, untuk satu tahun pertama, sang anak berada di sekolah dari jam 9.00-15.30 sampai di rumah. Tahun berikutnya karena pindah rumah jadinya dari jam 8.30-14.30. Jadi kalau perkara waktu sih sebenarnya tidak terlalu signifikan perbedaannya dengan aktifitas anakku sebelumnya.
Soal anak didrill atau tidak tergantung soal bobot materi dan cara penyampaian. Setahuku anak SD di jepang pulang ke rumah sekitar pukul 3 sore buat anak kelas satu dan anak kelas 3 keatas pulang sampai jam 4 sore. Tapi bobot materi tidak lebih berat daripada materi anak SD negeri di Indonesia.Tahu sendiri moms, di Indonesia, anak SD kelas satu sudah bisa membaca, padahal di Jepang baru belajar hiragana, satu huruf-satu huruf dan angka.
Jadi ya,kembali ke soal kebutuhan dan kemampuan anak. Juga kita sebagai orang tua. Karena bagaimana pun mereka kan yang akan bersekolah, bukan orang tuanya :)."
" Anakku umurnya sudah hampir 6 tahun. Sejak usia 2 tahun, aku masukkan dia ke daycare yang fullday dari pk 9 pagi hingga pk 5 sore. Kami tidak punya pilihan lain karena kami tidak dibenarkan memiliki pembantu sedangkan aku dan suami punya kegiatan yang sama. Ketika hal itu mula-mula aku lakukan, rasanya aku ingin menangis, kok aku tega yah. Tapi pilihan itu harus aku jalani.
Sebelum aku tinggalkan anakku sepenuhnya, aku buat survey dan melatih dia selama 1 minggu. Aku amati apa saja kegiatannya selama seharian, ternyata servis dan pendidikan yang dilakukan di sekolah itu membuat aku membuka mata bahwa ternyata saat di sekolah, ia bukan hanya sekedar "dititip" tapi banyak mendapat latihan-latihan keseharian yang tidak mungkin aku lakukan bila ia hanya di rumah. Pendekatan sekolahnya yang berupa metode belajar sambil bermain malah mendatangkan hasil positif. Salah satunya, saat anakku berusia 3 tahun, ia sudah hafal berbagai doa-doa keseharian.
Aku juga pernah melihat bagaimana cara gurunya mengajar menghafal doa. Rupanya gurunya tidak pernah memaksa,tapi setiap kegiatan gurunya membaca doa secara kera-keras dan anak-anak hanya mengikuti sebisanya. Tapi karena dilakukan setiap hari, lama kelamaan mereka hafal. Intinya, aku merasa lega sekali. Komunikasi dengan guru pun juga terbuka, jadi sebelum anak kita pulang melaporkan bahwa dia dimarahi guru, sang ibu guru telah menyampaikannya terlebih dahulu alasan mengapa ia dimarahi saat kita menjemput sang anak di sekolah.
Saat umur anakku 4 tahun, aku masukkan ia ke TK yang mau tak mau harus full day. Di sekolah ini , pagi dari pk 9 sampai 12 mereka berada didalam kelas seperti kegiatan TK umumnya, tentu dengan kegiatan yang lebih beragam dari daycare.. Program kegiatan selama 1 tahun sudah diberikan oleh gurunya di awal tahun ajaran. Pk 12 mereka pindah di kelas petang (siang) pada gedung yang sama tapi ruangan kelasnya lebih rileks tanpa bangku dan kursi. Di sana mereka makan siang, lalu istirahat siang (tidur). Pukul 3 bangun, mandi, belajar fardhu ain (mengaji, sembahyang dll) diselingi aktifitas santai misalnya berenang, berkebun dll. Paling akhir, pukul 5.30 kita boleh menjemput anak dari sekolah.
Nah, biasanya setelah pulang sekolah, aku tidak pernah membebani dengan pelajaran-pelajaran. Cukup ia bermain dan melakukan aktivitas yang ringan-ringan, misalnya menonton film kartun dll. Demikian juga saat akhir minggu, aku tidak pernah memaksa dia belajar karena aku berpikir ia sudah terlalu jenuh dengan pelajaran- pelajaran.
Alhamdulillah sampai saat ini, dia sangat enjoy di sekolah. Aku juga merasa lega karena sekolah tersebut juga ikut membantu dalam pendidikan agamanya. Mungkin satu hal yang menarik bagi kami student, bahwa sekolah tersebut memang berada di tengah kampus dan dikelola oleh koperasi pegawai kampus serta khusus dibentuk untuk staf dan karyawan kampus termasuk dosen dan pegawai TU kampus,juga anak dari student. Tapi senangnya anak student mendapat discount. Jadi warga kampus tidak perlu keluar untuk menjemput dan mengantar anaknya. Apalagi untuk anak batita yang masih membutuhkan ASI, si ibu bisa dengan mudah datang ke sekolah tersebut karena masih dalam satu kampus.
Intinya bagi aku,asal kita bisa memilih sekolah fullday yang memang mampu menerapkan sistem belajar sambil bermain, tidak ada salahnya kita masukkan anak kita di sana. Yang penting, jangan sampai anak merasa tertekan di sekolah tersebut.Itu mungkin akan membuat mereka depresi, kenapa aku ditinggalkan sepanjang hari di sekolah." (DaI/WRM)
|