We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Rumah Tangga arrow Menghadapi Adik Ipar
Menghadapi Adik Ipar E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Rabu, 18 Oktober 2006

Salah satu mom di milist wrm-indonesia menanyakan tentang masalah batas sikap menolong pada adik adik iparnya. Sebagai prolog, ia menceritakan bahwa dirinya sejak kuliah malam hari terbiasa biasa bekerja. Ia menikah di usia muda (20 th). Enam bulan berikutnya ia hamil dan kini telah memiliki putri usia 6 bulan.

Sebelum menikah ia telah memberitahukan ke calon suaminya bahwa dirinya tidak biasa ditumpangi oleh siapapun. Awalnya sang calon suami setuju. Selang dua bulan menikah, adik suami, sebut saja si A(perempuan, 24 thn), berhenti dari kerjaannya dan memohon untuk dapat menumpang di rumah. Si A beralasan tak memiliki uang sepeserpun untuk biaya kos. Saat itu ia masih senang hati menerima kehadiran si A. Di awal kehidupan si A di rumahnya, si A masih berlaku sopan. Namun lama kelamaan, si adik ipar sering kali keluar masuk kamar dan menggunakan seluruh kosmetik dan parfum miliknya. 

Mengetahui hal tersebut, ia telah berusaha mengatakan dengan sangat sopan, tapi entah si A tetap mempertahankan kebiasaan keluar masuk kamarnya. Akhirnya kamar ia kunci dan kunci diserahkan pada pembantu. Situasi panas memuncak hingga si A bersikeras akan kabur dari rumah dengan alasan kakak iparnya tidak pernah rela memberikan biaya padanya. Padahal ia selaku kakak iparnya telah banyak mengeluarkan biaya untuk biaya transport usaha pencarian kerja si A. Itupun tak berhenti begitu saja karena pun si A telah memiliki pekerjaan, si A tetap meminta uang transport padanya.

Si A juga mengatakan pada suami bahwa ia (sang kakak ipar) seringkali berpura-pura manis di hadapan suami terhadap A, tapi bila suaminya tidak ada, ia galak. Banyak sekali hal-hal lain yang benar-benar menusuk perasaan dirinya. Ia merasa difitnah, padahal dirinya tulus, ikhlas membantu si A. Sampai-sampai si A juga mengadukan hal yang sama pada orang tuanya. Sekarang si A
sudah mendapat pekerjaan baru dan tidak tinggal lagi bersama keluarganya.

Berikutnya, adik ipar laki-laki, sebut saja si B, menumpang di rumah dengan alasan pindah kerja dan lebih dekat dari rumah mereka. Saat itu, si B berniat membeli motor, ia berikan sejumlah uang untuk DP dan si B tinggal melanjutkan cicilannya. Beberapa bulan kemudian, si B sering mampir ke rumah omnya dan menceritakan bahwa makanan di rumah kami tidak enak. Rasa malu, bingung, sedih, kesal, marah bercampur aduk menjadi satu di dirinya hingga akhirnya sang suami memberikan teguran keras pada si B.

Berikutnya, untuk menyambut kelahiran anak pertamanya & cucu pertama dari orang tua sang suami, mertua sang mom datang ke Jakarta bersama satu adik perempuannya. Sebut saja si C (Usia 26 tahun). Dengan alasan tidak ada yang mengawasi si bayi, maka si C tinggal dirumahnya hingga saat ini.

Kemudian, karena berhasrat ingin mencari uang di Jakarta, satu lagi adik laki-laki dari suami, sebut saja si D (20 tahun), datang ke Jakarta, dengan bermodalkan ijazah SMP. Si D datang ke Jakarta, minta ini dan itu, tapi ia bersikeras untuk tidak memberikannya. Sampai sekarang si D menjadi supir angkutan umum, dan tinggal bersama tante dari suami, yang rumahnya dekat sekali dengan rumah kami. Si D sesekali datang ke rumah kami untuk meminta uang. Kemungkinan, si D akan kembali pindah ke rumahnya.

Dapat dibayangkan, betapa muaknya sang mom dengan keadaan ini. Di saat mereka membutuhkan biaya banyak untuk pertumbuhan si kecil dan pendidikannya kelak, ia malah merasa sudah seperti beranak empat. Terkadang ada prasangka buruk dihatinya, apakah sang mertua sudah merasa kami sangat amat berkecukupan, sehingga
hampir seluruh anaknya ditampung dirumah sang mom?. Terkadang ia juga merasa bersalah, setiap kali pikiran tersebut muncul.


" Saya mohon saran mommies, karena beberapa kali saya benar-benar muak dengan keadaan ini, dimana suami tidak mau mengerti perasaan saya. Sampai kadang-kadang saya benar-benar menyerah dan malas tinggal dirumah. Saya takut, satu hari saya akan menyerah dan melakukan sesuatu di luar akal sehat " demikian tutup sang mom mengakhiri e mailnya. Sharing dari para moms di milist wrm-indonesia? Simak yuk sharingnya di bawah ini.

"Kasusnya hampir sama dengan apa yang aku alami beberapa saat yang lalu, sama-sama terbeban dengan keluarga suami.Btw, puji Tuhan masalah yang aku hadapi pelan-pelam mulai clear dan mulai ada kebaikan. Awalnya aku yang semula hanya dapat pasrah dan berdoa, mulai bisa bicara dengan suami untuk membicarakan semua kebetean dan kejenuhan yang aku alami. Terutama masalah beban biaya keluarga suami yang harus kami tanggung.

Kebetulan saat ini aku juga sedang hamil lagi, sehingga sedikit agak memanfaatkan kehamilan kali ini :). Aku jujur katakan pada suami bahwa kini kami memang tidak dapat terus menerus membantu banyak-banyak secara materi ke keluarga suami. Akhirnya dengan pertolongan Tuhan, semuanya bisa mengerti termasuk keluarga suamiku. Walau masih ada pula yang sedikit-sedikit tetap "merecoki" dan kami masih juga dapat membantu semampu kami.

Aku cuma ingin support saja, kalau semuanya pasti dapat diselesaikan dengan komunikasi. Coba bicara jujur dengan suami dengan membicarakan semua kejenuhan yang ada. Memang tak mudah untuk bicara jujur dengan suami, apalagi menyangkut keluarga suami. Jangan lupa berdoa juga dan pasrah pada Tuhan. Yakinlah Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan umatnya.".

"Kasus seperti ini sering terjadi di budaya kita ya. Kebetulan di keluarga saya sudah ditanamkan sejak kecil :  dilarang bergantung kepada kakak/adik. Sebagai konsekuensi, bapak/ibu saya memberi peluang yang sama untuk masalah pendidikan. Karena kondisi keuangan ortu cepak, konsekuensinya : harus kuliah di PT Negeri. Semua peraturan dan konsekuensi itu benar-benar harus dijalankan apapun yang terjadi, dan dibina sejak kecil. Akibatnya sampai sekarang tidak ada acara "ikut kakak" dsb. Bahkan gengsi rasanya kalau bergantung kepada orang lain, saudara sendiri sekalipun. Saat belum menikah, saya tinggal sekota dengan kakak pun, saya ke rumah kakak hanya untuk main (padahal saya disediakan kamar tersendiri oleh kakak, yang kalau tak ada saya, ya kosong saja).

Sekarang saya meniru langkah pendidikan itu untuk anak-anak saya (saya tidak bilang bahwa pendidikan cara orang tua saya paling baik,  always say : no parent is perfect:)). Apalagi secara kebetulan kok ya saat ini saya hidup di lingkungan budaya yang menerapkan "kalau sudah dewasa ya harus mandiri".

Seringkali kondisi "kakak mengurusi adik" dimulai/dikondisikan oleh orang tuanya sejak mereka kecil. Sering saya lihat orang tua yang menyuruh sang kakak mengurus adiknya. Bahkan ada yang bangga, berhubung anaknya banyak, maka sang kakak mengawasi adik yang ada di bawahnya dst.

Kalau hanya sesekali untuk menumbuhkan keakraban/kedekatan antara kakak  dan adik sih saya setuju. Tapi kalau sudah menjurus kepada peraturan "kakak harus mengurus adiknya" (memandikan, nyuapin, ngajak main, mengganti popok, mengawasi belajar, membersihkan mainan mereka, dsb) entah mengapa saya sangat keberatan. Yang memutuskan punya banyak anak kan orang tuanya, kok bebannya diberikan ke anaknya. That's not fair. Mengurus adik adalah volunteer, bukan kewajiban si kakak. Saya setuju dengan pendapat seorang American mother yang  kebetulanpunya banyak anak (beberapa diantaranya dari adopsi), bahwa ,"Saya tidak ingin menjadikan anak-anak saya teen parents, dengan membebani sang kakak mengurus adik-adiknya".

Sering saya lihat anak-anak yang dengan sedih melihat temannya bermain sementara dia harus menjaga adiknya yang bayi. Orang tuanya? They're busy too. Hal seperti itu terjadi juga di US lho meskipun sebagian besar dilakukan oleh orang non-American. (DaI/WRM)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement