We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Anak arrow Usia Ideal Anak Menghafal Doa Sholat
Usia Ideal Anak Menghafal Doa Sholat E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Selasa, 10 Oktober 2006

Pertanyaan dari salah seorang Ibu kepada Forum: Usia berapa  idealnya anak diajarkan menghafalan doa sholat ?  Berapa  usia ideal anak diharapkan untuk hafal doa sholat keseluruhan?

Sharing pendapat Ibu Pertama:
Anakku mulai sejak kecil sudah dibiasakan berdoa sebelum melakukan sesuatu (makan, tidur, ect) tapi yang bacain doa ya kita orang tua'nya. Lama-kelamaan anakku jadi hafal, tiap aku baca doa dia bisa ngikutin. Lalu sejak usia 5,5 tahun aku masukkan ke TPA nah disitu dia lebih intens belajar doa-doa dan sholat. Jadwal ngajinya Senin-Kamis, jam 17.30-19.10 nah disitu dia sholat Maghrib dan Isya berjamaah di Mushola.

Jadi idealnya [menurut ibu tersebut] anak mulai menghafal doa sholat menurutku ketika dia TK B -Kelas 1 SD (5-6 tahun)

Sharing Pendapat Ibu Kedua:
Setiap anak pasti punya kemampuan beda-beda dalam menangkap sesuatu jadi kita ngak bisa patokan umur berapa siapnya anak tersebut dan itu pasti terkait dengan lingkungan dia juga.

Berdasarkan pengalamanku..anakku mulai bisa menghafal doa sembahyang umur 5 tahun. Tapi pure itu bukan paksaan ku. Karena dia [anakku] aku titipkan disekolah etang (seperti daycare) untuk umur 4-6 tahun yang berbasis pendidikan agama dimana setiap hari anak-anak harus shalat ashar bersama dengan gurunya membaca doa-doa secara keras tiap hari. Jika anak itu cepat menangkap dia akan lebih cepat ingat bahkan nanti dia disuruh menjadi imam untuk memimpin kawan-kawan yang lain. Kami dirumah cuma melatih aja dia ikut sembahyang bersama juga kami suruh dia membaca secara keras-keras jadi kita tahu dimana dia belum pas.

Alhamdulillah aku tidak pernah memaksa anak dalam menekuni sesuatu, karena aku pikir usianya masih terlalu dini untuk terlalu dipaksakan. Begitu juga dengan mengaji. Dia mengaji hanya 30 menit setiap hari itupun karena aku lihat respons dia dalam memahami buku Iqra lumayan bagus akhirnya ada teman yang memang menerima anak belajar mengaji tapi sitem dia mengajar setiap anak diberi waktu 20-30 menit setiap Senin-Jumat. Ternyata cara demikian aku lihat juga hasilnya lebih nyata sianak tidak merasa bosan kaena cuma 20 menit tapi ibu gurunya fokus dengan dia Alhamdulillah, sekarang udah masuk juzz 2. Jadi tidak ada salahnya kita bekalkan dengan ilmu agama yang juga lebih awal, dengan kunci juga tanpa paksaan.  Tapi juga aku yakin lingkungan sangat berperan, jika teman-teman berada dilingkungan pendidikan yang tidak mendukung hal demikian mungkin kreatifitas teman-teman yang bisa menerapkan hal demikian dan pasti terasa lebih sukar.

Sharing Pendapat Ibu Ketiga:
Di usia 6 tahun, anak dimasukkan ke Al Azhar, yang pelan-pelan dari pihak sekolah membimbing anak-anak kelas 1 SD untuk menghafal bacaan sholat
dan suart-surat pendek. Alhamdulilah di usia 6 tahun, san Anak sudah hafal.

Tapi untuk anak-anak yang sudah mulai masuk TPA dari usia TK tentunya akan lebih banyak lagi hafalan doa-doa, bacaan sholat dan surat-surat yang agak panjang.

Ibu ini membenarkan pendapat ibu ke dua bahwa, dan menambahkan selain kemampuan setiap anak yang berbeda, lingkungan juga turut berperan serta pada topik ini. Lingkungan dalam artian, jenis sekolah kemudian kegiatan ekstra diluar sekolah. Jika anak-anak yang aktif mengaji, tentunya akan lebih cepat lagi.

Sharing Pendapat Ibu ke Empat:
Ibu ini mengajarkan anak-anak sejak bayi. Dari umur 6 bulan sebelum tidur beliau  membiasakan bacain al-fatihah keras-keras, yang dicicil dengan surat-surat pendek. Ketika anak Ibu tersebut berumur 3 tahun.  Ibu ini membelikanVCD "belajar sholat bersama Raihan". Tiap hari diputar sambil anak-anak main-main. Yah, kebetulan juga di sekolahnya ada juga sehari dalam seminggu belajar sholat. Sekarang anak-anak umur 5 tahun  dan 6 tahun, yah... sudah pada hafal sih hampir keseluruhan bacaan sholat termasuk doa setelah wudhunya. Cuma yang kecil (5 tahun) masih suka ada ayat yang ketinggalan waktu duduk diantara 2 sujud.
Menurut ibu tersebut, doa-doa perlu diajarkan setiap malam tanpa paksaan yang akan dapat membantu untuk menghapal doa-doa sholat.

Sharing Pendapat Ibu ke Lima (ibu ini tinggal di luar Indonesia):
Walau beliau tinggal di rantau, ibu tersebut mengajarkan anak-anaknya doa-doa dan bacaan sholat sejak dini. Sejak dini, anak-anaknya diajarkan sambil bermain, sehingga mereka lebih cepat menangkap pelajarannya. Untuk bacaan sholat, diajarkan anaknya setahap demi setahap. Bila step pertama sudah dihafalnya, ibu tersebut melanjutkan ke tahap selanjutnya. Setiap hari, anak-anak diajak sholat bersama keluarga. Menurut ibu tersebut, semakin dini anak diajarkan, semakin mudah anak mengerti.

Ibu tersebut juga mengingatkan bahwa kondisi sang ibu harus sedang suasana hati senang. Bila ibu sedang suasana hati tidak enak, jangan mengajar, karena anak menjadi tidak menyukai suasana pelajaran.

Sharing Pendapat Ibu ke enam
Ibu tersebut belum mempunyai pengalaman yang bisa disharing, tetapi ibu ini berbagi apa yang dibacanya di suatu majalah Islam, dimana seorang ustadz menjawab sebagai berikut:
Rasululloh SAW bersabda, "Perintahkan anak-anakmu untuk sholat pada usia tujuh tahun. Dan pukullah mereka karena meninggalkan sholat pada usia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka (laki-laki dan perempuan)"( HR Abu Daud).

Pukulan yang dimaksud tentunya bukanlah pukulan yang mencederai ataupun pukulan luapan emosi karena anak nggak mau sholat, tapi sebagai bentuk perintah yang lebih tegas kepada anak untuk sholat. Dari kalimat pada usia tujuh tahun bisa kita ambil pelajaran mengajari anak sholat dengan tertib (apalagi di masjid) baru terasa efektif jika anak berusia tujuh tahun, meskipun ada anak yang sudah bisa tertib s ejak balita, tapi kenyataannya, umumnya balita masih belum dapat diajarkan untuk berdisiplin atas hal-hal serius seperti sholat.

Sedangkan pada usia 7-10 thn anak-anak mulai bisa diarahkan dengan baik. Pengarahan yang dimaksud bukan semata-mata sholat saja, tetapi juga adab sopan santun di masjid, nggak boleh melintas di depan orang yang sedang sholat, tidak boleh berisik dan apapun bentuk menganggu orang sholat.

Jika pelajaran itu diberikan pada balita, masih banyak kesulitan bagi balita untuk menyerap ataupun melaksanakannya, karena mereka belum mencapai usia tamyiz; yaitu usia di mana anak sudah terfokus untuk membedakan mana yang baik dan buruk.

Bukan berarti sebelum tujuh tahun anak nggak diajarkan sholat sama sekali, tapi perlu juga bagi balita untuk dibiasakan ikut ke masjid, atau dalam kasus kita di perantauan begini selalu mengajak anak untuk sholat. Ini juga ada contoh dari Rasululloh yang sering mengajak cucunya Hasan dan Husein ke masjid. Bahkan dalam suatu Hadist beliau sholat sambil nggendong cucunya, Umamah binti Zainab, binti Rasululloh SAW. Apabila beliau berdiri beliau menggendongnya dan bila beliau ruku' dan sujud beliau meletakannya. Dan untuk bacaan doa-doa juga sholat bisa juga diajarkan sejak dini sedikit demi sedikit, agar pas usia 7-10 tahun lebih cepat proses mengajarkan sholat secara penuhnya....

Sharing Pendapat Ibu ke Tujuh:
Ibu ini berpandapat menurutnya kalau anak sejak dari balita sudah menyenangi suasana pengajaran dan suasana lingkungan mendukung, semua ini sangat membantu anak untuk mempelajari semua ini. Tapi sebaliknya bila tidak menyukai dan tidak ada lingkungan yang mendukung, sebaiknya orang tua tidak memaksa. Ibu tersebut mengingatkan contoh soal yang didapatnya ketika melakukan pelatihan buah hati oleh Ibu Elly Rusman. Dimana Ibu Elly Rusman menceritakan seorang anak yang selalu dipaksa oleh orang tuanya untuk melakukan sholat, anak tersebut menjadi stress dan membunuh orang tuanya.  Ibu Elly menasihatkan sebaiknya pengajaran sholat disesuaikan dengan usia tumbuh kembangnya anak. Juga dipentingkan untuk anak melakukan sholat karena cinta melakukan sholat bukan karena terpaksa.

Sharing Pendapat Ibu ke Delapan (yang juga beliau tidak tinggal di Indonesia):
Beliau menceritakan pengalaman anaknya yang bisa diberikan pengertian oleh ayahnya untuk sholat yang benar, ketika terlalu banyak bermain. Dimana keesokkan harinya anaknya mengajak temannya untuk menonton, ketika anaknya sholat. Ibu ini mengakui beratnya perjuangan mengajarkan sholat di negeri orang.

Sharing Pendapat Ibu ke Sembilan (yang juga tinggal di luar negeri)
Menurut san Ibu memang kalau bisa sewaktu kita mengandung sebaiknya kita sering-sering membaca Alqur'an karena baby yang didalam itu juga ikut merasakan dan mendengarkan, sama saja kan kalau katanya sering-sering kita berdua bacain buku cerita, apalagi kalau sering-sering kita bacain alqur'an. Kalau pengalaman saya sih, suami dan saya sesering mungkin sholat berjamaah. Anak akan melihat
dan mendengar, walaupun kelihatannya dia bermain tapi dia memperhatikan. Kita orang tua sebagai contoh, sulit rasanya kalau kita ajak anak sholat ta kan lebih contoh rumah jarang dilihatnya. Sebaiknya umur yg baik sekitar 4-,5th, dari kecil diajarkan lebih bagus sekali, karena anak-anak akan cepat menangkap dan menghafal. Sekitar umur 7-8 tinggal membaguskan bacaannya dan menambah surat-surat yang agak panjang.

Sharing Pendapat Ibu ke Sepuluh
Menurut ibu ini, untuk mengajarkan sholat dll itu kepada anak memerlukan kesabaran/telaten, teladan, dan usaha yang keras. kita sebagai orang tua seharusnya menyadari bahwa urusan mendidik anak adalah hukumnya wajib dan karena itu bersedia berkorban untuk itu

Menurutnya lagi tidak ada batasan tertentu ya, bergantung kepada anaknya. yang penting pembiasaan yang kontinyu. ini bisa kita lakukan dari rumah saja, lewat memutarkan CD belajar shalat misalnya atau dengan praktek bareng-bareng.
Menurut pengalamannya, memutarkan cd ini sangat efektif sekali loh, anak-anaknya cepat menghafal bacaan sholat bahkan doa-doa harian dengan cara ini. Alhamdulillah anak-anak saya yang umur 3 dan 4 tahun udah banyak hafal doa harian dengan cara ini dan tentu saja harus langsung dipraktekkan setiap hari.

Untuk surah-surat pendek, saya biasakan sebagai pengantar tidur saya bacakan surah-surat pendek sampai anak-anak tertidur. Untuk sulung saya, saya udah wajibkan hafal sendiri dan antara ibu dan ayah akan mengecek penghafalan doa itu, enggak harus setiap hari sih tergantung banyak tidaknya PR dari sekolah, ya... minimal 1 surah satu minggu.

Karena ibu tersebut FTM-Full Time Mother, jadi dia insya Allah 5 mempunyai waktu luang untuk sholat saya di rumah. Ibu ini mengupayakan 5 waktu itu dilakukan berjamaah dengan anak-anak setiap hari. Masalah yang paling sering saya alami setiap kali mau sholat, anak biladiingatkan udah waktunya sholat pasti reaksinya cemberut dan malas-malasa. Terus kalau kita cuman nyuruh ambil wudhu, waoo... ini pasti memerlukan waktu yang lama, baru siapnya bahkan kadang-kadang harus mengomel.

Akhirnya Ia ubah cara, pertama saya perhatikan dulu, si anak sedang sibuk tidak (biasanya selalu sibuk ya, ada aja kegiatan si anak) terus saya kasi warning dulu, "udah masuk waktu sholat loh kak. berapa lama lagi kakak siap mainnya?" pasti dia akan jawab sekian menit lagi:) ok..., habis itu udah gak ngomong lagi langsung saya rangkul dan ajak sama-sama ambil wudhu. Ajaib loh mom, gak ada acara nunggu lama dan ngomel-ngomel lagi. otomatis yang kecilpun pada rame-rame ikutan (kalau yang kecil-kecil ini tidak perlu disuruh lagi emang senang sekali 'main air'.

Sharing Pendapat Ibu ke  Sebelas
Ibu ini menanyakan dalil dan keterangan apakah boleh mengajarkan sholat dengan mengeraskan bacaan sholat? sebab anaknya yang berusia 4.5 tahun relatif lebih cepat mengikuti dan menghafal kalau aku praktekin sekalian (daripada hanya melihat VCD atau menghafal doa).

Sharing Pendapat Ibu ke tujuh lagi
Menjawab pertanyaan ibu ke sebelas itu, dengan berbagi pengalaman, karena anak-anaknya pun gampang menyerap yang kebetulan sering dilakukan ibu tersebut dan sang ayah..

Sharing Pendapat Ibu ke Enam lagi
Ibu ini menanyain ke ustadz dan jawaban beliau adalah tidak boleh, karena Rasululloh SAW tidak pernah mencontohkannya.

Ustadz ini memberi solusi kalau memang cara itu adalah yang paling cespleng buat Ibu ke sebelas, waktu ngajarin anak itu boleh mengeraskan semua bacaan sholat. Tapi itu adalah pura-pura aja sholatnya, sedangkan untuk sholat sesungguhnya tetap dengan cara yang telah Rasululloh contohkan.

Ibu ini menemukan buku risalah Sholat Nabi:
Mengeraskan dan mengecilkan bacaan :
1.Bacaan dikeraskan pada saat sholat subuh, jum'atdua sholat Ied, sholat istisqo, khusuf dan dua raka'at pertama dari sholat Maghrib dan Isya'.
2. Boleh bagi imam mengeraskan ayat pada sholat-sholat sir (yang tidak dikeraskan).
3.Adapun sholat witir dan Lail kadang tidak dikeraskan kadang dikeraskan.

Karena kami bukan milis Agamamis, maka kami hanya merangkumkan diskusi, solusi dan jawaban bisa di dapat di buku Agama yang diawasi oleh Departement Agama. (Pungki)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement