We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Buah Hati arrow Bukan Hak Milik
Bukan Hak Milik E-mail
Pengirim: Dian Mahdi   
Rabu, 04 Oktober 2006

Orang tua adalah sebuah peran mulia yang dijalani oleh banyak pria dan wanita di dunia. Disadari atau tidak, mereka begitu beruntung dipercaya oleh-Nya untuk memegang amanah terindah dalam kehidupan ini, yaitu dikaruniahi buah hati. Bukankah dalam suratan-Nya yang penuh rahasia, tidak semua orang "bermandikan" berkah dan rahmat yang sama? Karena menjadi ibu dan ayah adalah menjadi orang tua sekaligus pendidik bagi kedua anaknya. Dua peran yang sangat mulia.

Bagaimana rasanya menjadi orang tua sekaligus guru? Duh! Aku terbelenggu oleh “hak memiliki” yang demikian besar. Rasa yang membuatku merasa punya wewenang untuk “memaksa” dan “menetapkan” sesuatu atas mereka. Seringkali aku lupa bahwa anak sebenarnya bukan milik. Mereka adalah amanah, titipan dari-Nya.

Hatiku juga dipenuhi pengharapan yang melambung tinggi. Mereka harus begini dan begitu. Banyak sekali standarisasi dan pencapaian yang menumpuk di batinku. Padahal dalam berbagai hal yang diajarkan pada anak, proses belajarnya seringkali jauh lebih penting dari pada hasil gemilang yang mereka raih. Aku selalu berdalih,  “Orang tua mana yang tidak menginginkan anaknya menjadi anak paling pintar, baik hati dan santun?” Alhasil, pengharapanku pada anak-anak malah terbiar semakin tinggi.

Rasa memiliki yang bercampur dengan pengharapan  tinggi ini kerap memicu "perang" ketika aku harus menjadi ibu sekaligus guru bagi anak-anakku. Aku sering kehilangan kesabaran ketika berhadapan dengan mereka. Misalnya ketika mengajarkan mereka IQRA.

Aku nyaris frustasi ketika si bungsu membutuhkan waktu hampir setahun untuk menamatkan IQRA jilid empatnya. Sungguh berbeda dengan sukses yang kuraih lewat abang dan kakaknya.
Suatu minggu, sebuah pengalaman baru memberiku sudut pandang yang berbeda. Hari Minggu itu aku menjadi relawan di madrasah untuk membantu mengajarkan IQRA pada anak yang seusia dengan anakku. Anak ini baru belajar membaca huruf hijaiyyah untuk yang pertama kalinya.

Saat itu si bungsu duduk di sebelah kiri dan anak itu duduk di sebelah kanan. Si Adek, demikian aku memanggilnya, mulai lagi lupa mana huruf "LA" dan mana huruf "ALIF" ketika kedua huruf hijaiyyah ini ditulis bersambung. Dia juga "terlihat" tidak berusaha mengingat ilmu tajwid yang sudah dia kuasai.

Nafasku mulai memburu, disusul dengan suaraku yang perlahan meninggi. Tapi ketika aku berbalik ke sebelah kananku mengajarkan anak orang lain, aku bisa demikian rapi mengatur emosiku. Dengan sabar aku mengajari anak itu "A", "BA" dan "TA". Tiga huruf yang selama setengah jam masih keliru dan tertukar-tukar dia ucapkan. Dia juga kerap berhenti, mengeluh penat, dan terakhir dia ingin istirahat karena merasa lapar dan ingin memakan snack yang dibawanya dari rumah.

Sepuluh menit kubiarkan dia makan, kemudian dengan manis aku mengajaknya kembali membaca. Aku berusaha membangun suasana yang menyenangkan. Bukankah kalau anak sudah senang, pasti mereka dengan hati riang akan tertarik untuk belajar?

Tiba-tiba sebuah rasa demikian kuat menyodok ulu hatiku. Hey! Aku tahu apa masalah kami selama ini! Ternyata aku menderita amnesia akut! Selama ini aku banyak belajar tentang  teori “mengajar”. Aku juga mudah saja mengajar anak orang lain, karena pendekatan "senang dulu : baru belajar" selalu kuutamakan. Tapi mengapa segala teori itu menguap ketika aku berhadapan dengan buah hatiku sendiri? Kemana perginya sikap “manis” itu? Hilang ditelan rasa “berhak”-ku terhadap mereka?

Aku pun bertekad memposisikan diriku pada tempat yang berbeda. Sore berikutnya kami mulai belajar IQRA. Kutekan segala rasa memiliki dan pengharapanku yang berlebihan pada anakku. Aku mencoba tidak menjadi “ibu” ketika menjadi “guru” baginya. Aku juga bersimulasi bahwa aku sedang mengajar anak orang lain, sehingga “hak mencubit” dan “hak meninggikan suara” tidak tertulis dalam deretan hakku sebagai guru.

Persiapan  sore itu pun sudah kumulai sejak pagi tadi. Rumah sudah rapi, makan malam sudah tersedia, pe-er kedua anakku yang lain sudah kuperiksa, dan mereka semua sudah mandi. Kami punya waktu satu jam sebelum makan malam. Waktu yang cukup panjang untuk mengantisipasi aneka “selingan” yang mungkin terjadi.

Seperti biasa, anakku memulai dengan tawaran mengenai berapa baris dia harus membaca. Aku menuruti kemauannya. Biarlah empat baris, asal dia konsentrasi. Pasti lebih bermanfaat daripada kupaksakan membaca satu halaman.
Baru satu baris membaca, dia mulai dengan "aksi"-nya seperti biasa. Mengeluh capek, tidak tahu/lupa tajwid dan sebutan huruf, ingin minum, harus ke kamar mandi dan lain sebagainya. Kali ini aku meladeninya tanpa "nyanyian panjang".

Kami kembali duduk dan mulai membaca. Aku mulai menerapkan metode “senang dulu : baru belajar”. Tidak ada lagi kalimat “mengapa abang dan kakak bisa?” Semuanya kukondisikan untuk membangun rasa senang di hatinya. Setiap kali sabarku mulai “low-battery”, kuteriakkan pada diriku…”Anak bukan milik, mereka cuma titipan…”. Sabarku pun di-recharge, “full-battery” kembali.

Setelah anakku berhasil menyelesaikan baris kedua, aku memuji kemampuannya. Dia sudah lebih lancar dari sebelumnya. Dia tampak bersemangat. Terlebih ketika dia berhasil membaca baris ke-empat tanpa bantuanku sama sekali. Dia pun memutuskan untuk menambah jumlah baris bacaannya. Yes! Satu halaman selesai tanpa air mata dan pertengkaran.

Pada saat makan malam, dia bercerita dengan bangga pada ayahnya apa yang terjadi sore itu. Wajahnya tampak senang ketika Ayah, Abang dan Kakaknya ikut memuji prestasinya sore itu. Hatiku dipenuhi kegembiraan yang meluap.
Apakah setelah sore itu prosesku menjadi guru untuk anakku berubah menjadi “jalan tol”? Tentu saja tidak! Tapi kesadaran bahwa “mereka bukan milik” selalu membantuku menghilangkan semua tekanan yang mempengaruhi emosi, ketika harus menjadi guru bagi buah hatiku.

Ithaca, awal musim gugur 2006.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement