We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Anak arrow Diaper dan Mertua
Diaper dan Mertua E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Kamis, 28 September 2006

Untuk mendukung proses toilet training sang buah hati (12 bulan), si kecil hanya dipakaikan celana dalam selama sang ibu bekerja di luar rumah. Saat siang hari, si kecil dititipkan pada ibu mertuanya. Sayangnya, toilet traning tidak dapat dilakukan oleh sang ibu mertua. Tak heran tiap kali sang ibu menjemput si kecil di sore hari, perlengkapan pampers masih lengkap dikenakan.

Ternyata si ibu mertua tetap memakaikan pampers saat si kecil dititipkan di rumahnya. Pampersnya pun tak diambil dari persedian diapers yang memang terkunci di rumahnya melainkan sang mertua membeli sendiri diapers yang diperlukan si kecil. Si ibu tentu merasa kecewa, marah dan tersinggung karena program toilet traning tidak dapat berjalan seperti rencananya semula. Namun ia pun tidak tahu apa yang harus disampaikan pada ibu mertuanya agar sang mertua mendukung upaya belajar pipis yang sedang berlangsung. Sharing mommies di milist wrm-indonesia? Ikuti yuk rangkumannya berikut ini.

"Mungkin sang mertua merasa capek dan lelah kalau harus selalu membersihkan dan mengganti celana si kecil. Jadi beliau pikir, dengan menggunakan pampers, beliau bisa terbantu. Sebenarnya si kecil dititipkan di tempat ibu mertua dengan disertai pengasuh yang lain juga tidak ya? Atau hanya ibu mertua saja yang mengasuhnya?

Kalau ada pengasuh, mungkin bisa meminta bantuan agar memantau proses belajar pipisnya dan mengurangi pemakaian diapers. Tapi kalau hanya ibu mertua yang menjaga dan ternyata juga sudah pernah di ajak bicara tentang program toilet traning si kecil, namun masih begitu juga, mungkin beliau juga merasa capek harus menganti-ganti dan membersihkan si kecil terus menerus. Kasihan
juga kalau beliau sudah tua dan merasa capek. Jadi ya itu salah satu resiko menitipkan anak di orang tua."

" Bagaimana kalo latihan intensifnya dibuat di sabtu-minggu, hari-hari libur atau saat sang ibu  tidak bekerja?

" Kalau menurut saya, yang damai-damai saja mungkin ya dengan mertua. Mungkin biarkan saja si kecil tetap diberikan diapers agar memudahkan kerja ibu mertua. Mungkin juga mertua agak 'capek' bila harus selalu menjaga si kecil agar tidak mengompol.

Nah saat di rumah sendiri, baru dilakukan latihan toilet trainingnya. Memang mungkin akan membingungkan anak, tapi anak anak itu lebih pintar lho daripada kita. Ia nanti bisa juga mengerti bahwa saat bersama ibu-bapak ia harus tak lagi menggunakan diapers, namun di eyangnya masih ditoleransi. Si kecil juga masih satu tahun, akan masih banyak waktu tersedia untuk melakukan toilet training hingga si kecil siap."

"Saya hanya cerita pengalaman saya saja ya moms, semoga bisa diambil hikmahnya :). Menurut saya yang pernah menemeni tiga anak toilet training, proses itu memerlukan ekstra tenaga dan kesabaran pelakunya, ya anaknya, ya yang mengajarkannya. Dua duanya harus telaten dan bersedia mengorbankan waktu, tenaga dan perasaan.

Saat anak pertama saya berumur satu tahun, saya masih menggunakan cara indonesia, toilet training dilakukan dengan cara "tatur". Mungkin memang saat anak pertama cara ini tidak efektif, yang ada saya malah stress: harus persekian jam membawanya ke kamar mandi. Malah bila kebobolan mana harus membersihkan karpetnya. Pokoknya sepertinya lebih banyak dukanya dibanding sukanya. Walhasil toilet training gagal, karena memang sebenarnya sulung saya dahulu saat pelaksaanaan latihan tersebut belum mau melakukan latihan pipis, bahkan terang-terangan mengatakan tidak mau. Akhirnya, ia benar benar lepas diapers menjelang usianya ke tiga tahun.Pelajaran yang saya ambil: saya tidak mau "natur" lagi kalau anaknya merasa terpaksa dan belum siap. Apalagi kalau ritual menunggui sang anak di toilet.

Untuk anak kedua, saya rubah strategi. Mulai usia satu tahun, saya tawarkan apakah ia mau pipis di potty nya atau tidak. saya tidak menjalankan "tatur" karena takut ia (dan saya) stress, dan jangan jangan bahkan tak berhasil seperti halnya pengalaman kakaknya pertamanya. Ia masih bilang tidak mau sampai
usianya menjelang dua tahun. Namun saat satu hari ia katakan setuju akan latihan, proses yang ia butuhkan untuk "lepas" diapers hanya satu minggu saja. Hingga usia 2 th 3 bulan, siang selalu kering, malam masih saya pakaikan diapers karena untuk prosesi mencuci sepre saat winter amat merepotkan. Belum lagi saya tak punya pengering.

Sesekali ia masih mengompol pada malam hari, cuma lebih banyak keringnya . Tepat di usianya 2 tahun 3 bulan, ia benar benar tidak memerlukan diapers lagi. Pelajaran yang saya ambil: ternyata bener ya, anak akan cepat lepas diapers bila ia siap. Kesiapan dirinya salah satunya ditunjukkan dengan kesediannya bekerjasama melewati proses belajar pipis ini.

Untuk anak ketiga, saya masih pakai strategi yang dilakukan buat anak kedua. Sementara teman temannya di usia 2,5 th sudah ada yang lepas diapers (plus tetap deh omongan kanan kiri: lhoo kok perempuan sudah besar masih pakai diapers?:D), ia masih sama sekali tidak mau melakukan tawaran untuk pipis di pottynya. Berhubung sudah bisa bicara, ia suka katakan "tidaaak..aku tidak mau pipis di potty..." tiap kali saya tawarkan untuk berhajat kecil di pottynya. Hingga satu hari pertanyaan saya dijawab dengan "aku mau belajar pipi!". Dua hari ia kayanya berusaha mengenal mekanisme bagaimana rasanya mau pipis. Dua hari kadang berhasil , kadang sudah "tumpah". Namun saat hari ke tiga, ia benar benar berhasil mengenal signal kapan ia akan pipis. Sudah deh, jadinya untuk si bungsu, belajarnya butuh 3 hari saja :). Malam pun ia kering. Pelajaran yang saya ambil: ternyata benar sekali, kesiapan si anak akan menentukan keberhasilan ia lepas dari diapers.

Dari sini saya mengambil kesimpulan, begini sepertinya metode yang akan saya pilih untuk mengajarkan anak-anak saya selanjutnya (insya allah bila masih diamanahkan) agar ia lepas dari diapers: belajar toilet traning tanpa stress dan terpaksa :)."

" Aku ikutan kasih pendapat ya. Sama seperti moms lain yang sudah memberikan, aku sependapat bahwa toilet training dapat diajarkan tergantung kesiapan si anak tsb. Di mana kesiapan tiap anak itu berbeda-beda.

Pengalamanku dalam hal toilet training untuk dua anakku pun berbeda-beda. Anak pertamaku baru benar benar lepas dari diapers saat usianya hampir 4 tahun. Sempat khawatir pula kalau kalau aku mungkin telat mengajarkan toilet training. Tapi karena anaknya belum siap, jadi belajarnya bertahap.

Untuk anak kedua lebih cepat lepas diapers (yang dipakai hanya saat tidur malam saja) saat usianya hampir 3 tahun. Ini pun atas permintaan si kecil sendiri serta melihat contoh dari si abangnya.

Perihal ibu mertua yang memakaikan diapers buat si kecil, sebaiknya mom dapat lebih memahami karena fisik orang tua kita kan sudah tidak segesit seperti kita. Mungkin beliau capek direpotkan dengan urusan bolak-balik ke kamar mandi.Toh dengan menggunakan diapers, bila si kecil pipis atau pup, maka hanya tinggal diganti.

Lebih baik seperti usul moms yang lain, mom dapat mencarikan pengasuh untuk menjaga dan mengajarkan si kecil toilet training, sehingga ibu mertua tinggal mengawasi pelaksanaannya saja. Mom juga dapat memberikan pengarahan pada si pengasuh tentang hal-hal apa yang ingin diterapkan pada si kecil."

"Kebetulan selama sembilan bulan kemarin ibu saya tinggal bersama saya,membantu mengurus si bungsu. Banyak sekali hal yang bertentangan soal mengurus anak. Tapi saya selalu kembali pada satu hal : ibu hanya membantu. Kalau saya tidak suka cara ibu, ya kerjakan saja sendiri. Misal soal makanan bayi. Kami bersitegang karena ibu saya selalu memberi makanan bayi yang airnya sedikit (jadi cenderung padat). Memang sih kalau terlalu cair jadi susah menyuapkan ke mulut si kecil, tumpah kemana-mana. Padahal kalau kurang cair (terlalu padat), si kecil suka konstipasi. Kalau habis makan dikasih air putih, si kecil 'ogah' karena sudah kenyang. Ya sudah, namanya juga beliu hanya membantu. Soal caranya, ya akhirnya suka-suka beliau deh:)." (DaI/WRM)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement