|
Pembahasan masalah persamaan gender masih sangat sulit untuk dituntaskan, pro dan kontra selalu bermunculan, masih banyak masalah yang melingkupinya dan masih banyak factor yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Masyarakat mulai menyadari akan pentingnya pendidikan tanpa membedakan antara anak laki-laki dan anak wanita. Persamaan dalam dunia pendidikan itu akan berjalan dengan berimbang sampai akhirnya sang wanita memutuskan untuk menikah.
Persoalan akan muncul ketika seorang wanita menyelesaikan pendidikannya, bekerja dan akhirnya saat untuk menikah. Tidak sama dengan laki-laki yang dapat dengan mudah menentukan arah hidupnya dan memutuskan bekerja dimana saja sesuai kemampuannya dan mengaktualisasikan kemampuan ilmunya dalam dunia kerja.
Wanita harus menentukan pilihan, bekerja di luar rumah atau menjadi ibu rumah tangga saja atau membagi keduanya, antara dunia kerja dan rumah tangga. Sebuah pilihan yang tidak mudah, terkadang harus menahan impian dan cita-cita yang didambakan.
Seorang wanita pandai dan cerdas bermimpi tentang keinginan yang dapat diraih untuk meneruskan pendidikan setinggi mungkin, atau setelah selesai kuliah bekerja secara profesional di luar rumah. Mengharapkan meraih cita-cita dan mengaktualisasikan dirinya di di dunia kerja. Wanita itu mempunyai kemampuan untuk meraih cita-citanya dan dia juga mempunyai kemauan untuk berusaha meraih cita-cita dan impian tersebut.
Setelah menikah, timbul kebimbangan. Rasa resah di hati pun makin mengganggu, apalagi saat si kecil sudah mulai hadir di tengah keluarga. Sebuah pilihan sulit ada di depan matanya. Meraih cita-cita dan impian yang pernah melintas di pikirannya, atau rela dengan terpaksa menerima sebuah kenyataan yang tak pernah diimpikan.
Disaat gundah gulana memikirkan cita-cita dan impian, muncul pula kebimbangan yang semakin mengganggu ketika mendapatkan kenyataan harus memilih ikut suami bertugas di luar negeri. Pilihan sulit untuk diri sendiri dan untuk sebuah kelanggengan rumah tangga.
Akhirnya buyarlah impian indah sang wanita, memilih mengikuti suami dan menunda peluang untuk impian diri sendiri. Sedikit demi sedikit dirintis perubahan hidup yang menuju arah yang tak pernah ada dalam impiannya. Walau untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi dia tidak perlu bekerja keras untuk keperluan rumahtangganya karena semua tersedia tapi secara batin mungkin dia terperosok lemah pada sisi yang tak pernah ada dalam cita-cita dan impiannya selama ini.
Gambaran di atas merupakan kisah cerita yang banyak bermunculan dalam kehidupan kaum wanita cerdas. Pilihannya karena keterpaksaan untuk menjadi ibu rumah tangga.
Ada sebagian wanita cerdas dapat meneruskan impiannya bekerja di kantor dan meniti karir dengan gemilang karena merupakan sebuah kebutuhannya untuk mengaktualisasikan diri atau pun karena sebuah keharusan untuk memperkuat persoalan perekonomian yang ada di keluarganya.
Bagi wanita cerdas yang memilih bekerja di luar rumah setelah mengenyam pendidikan tinggi dianggap memiliki status, memiliki sebuah nilai diri sebagai seorang karier yang profesional. Banyak yang membicarakan keberhasilan wanita tersebut.
Di samping itu masih banyak pula pandangan sebagian masyarakat bila seorang tidak bekerja dianggap tidak memiliki status. Bagi wanita yang memilih mendidik anak, keluarga, atau hanya bekerja paruh waktu dari rumah, seolah adalah wanita kelas dua yang tidak memiliki status yang sekelas dibandingkan profesional wanita yang sukses di pekerjaan kantorannya.
Banyak wanita yang benar-benar rela hanya menjadi ibu rumah tangga dengan tujuan agar dapat lebih berkonsentrasi mengikuti perkembangan anak dan mendidik langsung sang anak-anak untuk mempersiapkan masa depan mereka. Banyak persepsi pada sebagian masyarakat, bahwa untuk menjadi seorang ibu rumah tangga tidak memerlukan pendidikan tinggi karena hanya akan mengurusi pekerjaan yang tidak memerlukan ilmu yang tinggi pula. Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak canggih dan tidak memerlukan teknologi dan pengetahuan luas untuk berpikir yang rumit. Sehingga bila ada wanita berpendidikan dan cerdas memilih menjadi ibu rumah tangga akan dinilai percuma sekolah susah-susah kalau cuma di rumah mengurus anak saja.
Pendapat ini didasarkan pada pemikiran banyak orang tua dahulu yang merasa untuk dapat menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi memerlukan perjuangan keras, mereka pun berharap pendidikan tersebut bisa memberikan hasil kedudukan dan imbalan secara ekonomi yang lebih baik. Pendidikan dianggap sebagai cara untuk mendapatkan pekerjaan dan status sosial yang lebih baik.
Dalam sebuah kehidupan kita perlu memilih, dan setiap pilihan yang kita buat ada konsekuensinya. Sebuah pilihan sulit bagi wanita.
Munich, Juli 2006 Nieza Graha |