Membiasakan diri mendongeng dan membacakan cerita untuk anak adalah salah satu upaya cinta buku yang saya coba terapkan di dalam keluarga. Awalnya memerlukan kerajinan dan kesabaran saya dan suami, namun belakangan ini menjadi satu hal yang tak dapat ditinggalkan berhubung si kecil akan protes berat bila kita berdua melewatkannya. Hingga satu hari...
Saya habis melewatkan hari dengan berbincang pertelpon dengan Ibu di Jakarta. Kami saling bertukar cerita, dan kabar. Sesekali dengan bertukar cerita mengenai tetangga, keluarga ataupun tentang teman keluarga yang kami kenal lama. Ibu baru saja kembali bertandang ke beberapa daerah, menengok teman dan sanak saudara. Banyak dari kemenakan Ibu yang sudah berkeluarga dan berputra. Pertemuan yang sangat menyenangkan bagi beliau. Diakhir perbincangan tercetus kesan Ibu sehabis bertemu dengan beberapa saudara dan teman keluarga, menurut beliau, sayang bertemu dengan para ibu muda yang kurang respek terhadap suami. Padahal mereka berpendidikan tinggi, ada juga yang berkarir, trendy dan mengikuti perkembangan pengetahuan. Namun, sayangnya respek terhadap suami mereka terkesan kurang, dan cenderung tak hormat terhadap suami dan keluarga suami.
Waktu saya tanyakan kepada Ibu saya mengapa beliau mempunyai kesan begitu, beliau menjawab, " Sepanjang waktu para istri menyuruh suami mereka mengerjakan ini-itu, di depan tamu. Yang paling ibu tak mengerti, bahkan mereka yang full ibu rumah tangga, dibantu oleh asisten dan babysitter sekalipun, sepulang suami dari bekerja, masih meminta suami mengerjakan ini-itu hingga membersihkan BAB anak, dan membuat susu anak,". Istri mereka bahkan tak mencium tangan ibu mertua lagi, masuk mobil mendahlui para orang tua, makan di luarpun hanya mementingkan diri sendiri tak lagi memprioritaskan para orang tua. Yang selalu keluar dari mulut hanyalah suruhan, meskipun diucapkan dari manis lembut hingga teriakan."
Wow, pikir saya, selama ini saya tak pernah mendengar Ibu saya mengeluh seperti ini. Bagaimana Ibu saya tak akan pusing? Ibu dan Bapak saya bersaudara, saya puji sangat telaten di dalam membesarkan anak-anak mereka. Sepupu saya laki-laki, tumbuh dewasa berhasil di dalam studi dan pekerjaan. Merekapun sangat santun dan trengginas, supel dan tak segan membantu siapapun. Pastinya ibu manapun tak akan sudi melihat anak lelaki mereka yang dibesarkan dengan kasih sayang menjadi kerbau dicucuk hidung yang selalu disuruh-suruh dan diperintah oleh istri tercintanya.
Masih terngiang cerita ibu mengenai gejala baru yang kerap Ibu temui selama perjalanan, dari Jakarta, Bandung hingga Jawa dan Kalimantan. Terbayang teman-teman laki-laki saya waktu kecil yang suka mengganggu anak perempuan, atau juga para sepupu saya yang santun. Sulit membayangkan mereka disuruh-suruh ini-itu, sementara sang istri selonjoran di sofa. Setiap hari suami yang bangun terlebih dulu, dan istri akhirnya hanya' sibuk memberi perintah asisten, baby-sitter dan suami kembali bila suami pulang kerja.
Diam-diam saya merasa sangat malu. Sementara Ibu saya menyimpan keluhan terhadap para istri yang'pemalas', saya di sini menjadi berkaca-kaca. Ya, Allah, jangan-jangan saya juga termasuk kategori ini?
Selama hidup berumah tangga, bisa dikatakan hidup saya leisure/santai sekali, berbeda dengan saat masih menjadi single. Dari biasa berada di luar rumah setiap hari, berangkat setelah subuh dan kembali menjelang tengah malam, kehidupan saya sekarang seperti bumi dan langit. Kini hari-hari penuh kerutinan, yang bila saya lihat dari kacamata saya dulu penuh dengan 'hidup santai'. Bagaimana tidak? Sehabis subuh, saya tak harus pontang-panting mengejar rush-hour. Suami berangkat bekerja jam 8 pagi, dan hanya sarapan cereal. Kesibukan saya pagi hari hanyalah mempersiapkan sarapan, lunch-box, mandi dan sarapan anak, dan mandi sendiri tentunya. Thok til. Selesai.
Pakaian dapat dicuci kapanpun, dan tak harus setiap hari seperti saat masih di Jakarta. Terima kasih kepada mesin cuci dan mesin pengering yang siap setiap saat. Mencuci piring? Ada mesin pencuci piring, sehingga tak harus bersusah payah membersihkan cucian setiap habis pakai. Membersihkan rumah? Ada vacum cleaner dan tinggal telpon perusahaan steam/pembersih karpet kapanpun juga. Kalau perlu dapat telpon perusahaan maid service yang akan datang kapanpun dan siap membersihkan seluruh rumah. Membersihkan kamar mandi? Tinggal semprot swish swish, scrub dan guyur dengan air. Pada kamar mandi kering, tinggal pakai mop khusus yang langsung buang setelah pakai. Praktis sekali.
Jadi, hampir tidak ada pekerjaaan yang berarti dan memakan waktu, kecuali untuk belanja dan memasak, mungkin. Ternyata belanjapun juga praktis, memasak? Nasi tinggal dimasak oleh rice-cooker. Segala makanan dapat dimasak di slow-cooker. Ikan dan ayam tinggal panggang di oven. Oh lalala, jadi apa sebenarnya
yang sulit?
Si kecil, sehabis dibacakan cerita mengenai Cinderella, dan Bawang Merah Bawang Putih berceloteh, " Mama, kalau aku besar aku pengen jadi pangeran, dan kawin dengan Cinderella. Aku nggak mau istri pemalas!" Berhubung di cerita dikatakan bahwa saudara tiri Cinderella semuanya pemalas, dan bawang merah juga seorang pemalas. Duh, anakku...
Waktu saya tanya padanya, apa sih pemalas itu? Si kecil berceloteh, pemalas itu tak pernah mengerjakan pekerjaan di rumahnya, tak pernah menyapu, tak pernah mengepel, tak pernah mencuci baju dan memasak, selalu menyuruh orang lain. Kalau mengerjakan juga tapi menyuruh orang lain bagaimana, tanya saya lagi ingin tahu. Aku tak suka orang yang suka suruh-suruh, mama,katanya polos.
Orang yang rajin itu bagaimana sih? Si kecil menjawab, orang yang setiap harinya selalu bebersih rumah dan mengerjakan pekerjaannya sendiri. Rumahnya akan bersih, mengkilat dan harum, seperti rumah Cinderella.
Waaak, maafkan mama sayang, saya mengeluh di dalam hati. Rumah kita tak mengkilat, tak harum, dan tak bebas debu. Apalagi karpet harus disteam, setelah
berulangkali diterjang tumpahan makanan, aneka juice dan tumpahan susu. Mamamu bahkan kerap hanya mengelap debu seadanya tak lagi setiap hari seperti dulu.
Mungkinkah Jakarta yang 'terpaksa' membuat saya rajin? Ataukah tinggal penuh fasilitas membuat diri menjadi malas secara sistematik?
Saya bersyukur sekali mendengar Ibu saya mengeluhkan trend baru para istri yang suka menyuruh suami. Kini, saya berusaha melihat diri saya di kaca mata suami, Ibu saya dan si kecil. Si kecil saja tak mau istri pemalas, pastinya ia tak mau mamanya menjadi istri pemalas yang suka menyuruh-nyuruh suami atau orang lain seperti saudara tiri Cinderella.
Yuk semua, kita berkaca diri. Jangan sampai kita terkena Bossy Lazy Controlling Wife Syndrome. Perlahan tapi pasti, sindrom ini selalu menanti kita di setiap detik dan relung waktu. Tanpa kita sadari kita akan berubah dari Sweet Witty Dilligent Wife menjadi Bossy Lazy Controlling Wife. Yuk bergerak, bergerak dan bekerja! Saya juga perlu berbenah! Sayapun ingin selalu menjadi istri yang rajin dan disayang suami dan anak dan keluarga selalu. Semoga... |