|
Sebenarnya menjadi seorang Indonesia di negara seperti Amerika Serikat itu mudah. Karena kalau tinggalnya di kota-kota besar, maka akan ada orang Indonesia lain yang bisa dijadikan kawan. Dan karena wajah orang Indonesia rata-rata serupa dengan wajah bangsa Asia yang lain seperti Thailand, Philipina dan China, orang asing jarang menyangka seorang Indonesia itu adalah orang Indonesia. Bahkan saya sendiri lebih sering disangka seorang Hispanic atau orang Amerika Latin ketimbang seorang Asia.
Hal seperti di atas itu sebenarnya yang suka membawa masalah. Karena penilaian orang-orang Amerika terutama kulit putihnya tentang orang-orang Hispanic membuat orang-orang Indonesia suka dipandang remeh. Jadi jangan heran kalau Anda ditegur sebagai “your people” oleh seorang kulit putih. Kedengarannya rasis memang, tapi begitulah keadaannya. Terutama kalau Anda bekerja di bidang yang mengharuskan Anda bertemu dengan banyak kalangan terutama orang Amerika kulit putihnya.
Tapi menjadi seorang Indonesia seperti saya yang bekerja di bidang pelayanan jasa di sebuah pompa pengisian bahan bakar, kadang lebih baik menyembunyikan diri sebagai orang Indonesia. Suatu hari sewaktu saya baru saja mulai bekerja, seorang bapak tua kulit putih bertanya,”Where do you come from?” Dan dengan lugunya saya menjawab,”Indonesia.” Tahu apa yang selanjutnya dia bilang? “Oh, your people kill and shoot people just like that, huh?” itu katanya. Katanya lagi,”It happened a lot, huh?” Bisa dimaklumi sebenarnya kalau si bapak itu berkata demikian karena dia membaca berita-berita simpang-siur tentang Indonesia waktu itu. Tapi dengan tenang Saya jawab,”Well, Sir, if you go to New York, some people can shoot you also, just like that.” Bapak itu langsung diam, dan pergi sambil ngedumel.
Sejak kejadian itu, kalau ada orang bertanya asal saya, saya akan jawab,”I’m from Asia.” Kalau mereka mendesak, saya akan bilang,”Guess.” Dan dari sekian banyak jawaban, tak ada satu pun menyinggung Indonesia. Sedih sebenarnya, karena rasa nasionalisme saya seperti diuji. Karena beberapa kali, menjadi Indonesia itu membanggakan dan juga diperhatikan. Terutama saat bencana tsunami melanda, banyak pelanggan setia saya menyampaikan bela sungkawa.
Tapi, menjadi orang Indonesia di Amerika Serikat yang paling sulit adalah mempertahankan bahasa asli kita, bahasa Indonesia. Selama hampir 9 tahun saya tinggal di sini, beberapa kali saya menemui orang tua Indonesia, yang ayah-ibunya Indonesia, mengajak anaknya bicara selalu dalam bahasa Inggris. Terkadang ada perasaan sedih dan ingin memprotes mereka. Kenapa, saya pikir, harus menggunakan bahasa Inggris yang bukan bahasa mereka. Alasanya menurut mereka, supaya si anak lancar berbahasa Inggris. Saya pikir itu kurang tepat. Karena kalau si anak sudah bersekolah, di sekolahnya dia akan berbahasa Inggris, melulu.
Kalau menurut kawan saya, supaya kedengaran keren, kan lebih ok pakai bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Dibandingkan dengan bangsa Asia lain seperti China, India, Pakistan, Thailand, bahkan Vietnam, mereka lebih menggunakan bahasa mereka sendiri dalam berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Anak-anak mereka juga lahir di Amerika Serikat, tak ada bedanya dengan anak-anak Indonesia yang juga lahir di sini. Bahkan beberapa dari mereka saya perhatikan kalau bicara dengan orang tua mereka, menggunakan bahasa mereka sendiri dan bukan bahasa Inggris. Dan dibandingkan dengan bangsa Amerika Latin, bangsa Indonesia kalah soal kesetiaan pemakaian bahasa.
Sebagai contoh buat lelucon yang pernah saya saksikan sewaktu berkunjung ke rumah makan Indonesia di New York. Dua orang muda-mudi datang ke rumah makan tersebut dan membaca-baca menu makanan yang ada di dinding. Si pemuda menghampiri penjaga rumah makan dan bertanya memakai bahasa Inggris tentang menunya. Dan sebagai pelayanan pelanggan yang baik, si penjaga menerangkannya dengan bahasa Inggris juga. Tapi kemudian yang terjadi sesudah itu yang membuat kami yang ada di situ mengernyitkan dahi. Si pemuda bertanya dan menerangkan menunya ke si pemudi memakai bahasa Indonesia. Lalu memesan makanannya memakai lagi-lagi bahasa Inggris.
Sewaktu muda-mudi itu pergi, kami langsung berceloteh. Kami mentertawai mereka, yang sepertinya sombong sekali dengan menggunakan bahasa Inggris di depan kami yang mestinya kelihatan seperti orang Indonesia. Menurut si penjaga warung, mereka malu barangkali menjadi orang Indonesia. Kenapa mesti malu mempergunakan bahasa Indonesia? Apakah bahasa Indonesia lebih rendah nilainya dibanding bahasa lainnya? Apakah bahasa Indonesia lebih sulit dipelajari oleh seorang anak turunan Indonesia yang lahir dan besar di Amerika?
Saya jadi ingat ada 2 atau 3 kawan saya yang baru memiliki anak bertanya bahasa apa yang pertama kali saya pakai untuk berkomunikasi dengan anak-anak Saya. Bahasa Indonesia tentunya dan dicampur bahasa Jawa, karena saya orang Jawa. Mereka sempat kuatir kalau anak-anak mereka tidak diajarkan bahasa Inggris dari awal, bisa mendapatkan kesulitan. Saya bilang, anak-anak itu punya daya tangkap yang baik soal bahasa. Suatu saatnya nanti sewaktu anak-anak mulai sekolah, mereka akan belajar berbahasa Inggris. Dan 100% dari acara anak-anak yang si anak saksikan bukankah sudah dalam bahasa Inggris? Mereka sudah ada latihannya dari menonton, mendengar dan melihat sekeliling mereka, itu keterangan saya.
Di keluarga kami sendiri, saya dan suami hanya berbahasa Indonesia kepada anak-anak. Kalau mereka malas menjawab atau bicara dalam bahasa Indonesia, kami protes mereka dan kami tunggu sampai mereka berbicara dalam bahasa Indonesia kepada kami. Seorang kenalan di sini sempat menegur kenapa sampai begitu aturan kami. Saya jawab, yang membedakan mereka dari bangsa lain adalah bahasa Indonesia. Mereka memang Asian-American, tapi mereka pertama-tama adalah Indonesian-American. Lalu dia bilang apa nanti anak tidak akan bingung. Saya jawab lagi, kenapa anak-anak Latino, China, India dll tidak bingung memakai 2 bahasa? Kenapa anak Indonesia mesti bingung? Kebanyakan orang tua Indonesia yang saya kenal beranggapan pemakaian bahasa Inggris lebih praktris ketimbang bahasa Indonesia. Bahkan ada yang bilang, dia tidak bisa mempergunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jadi tidak diajarkan ke anak-anak mereka. Saya yang bingung kenapa harus mematok bahasa Indonesia yang baik dan benar baru bisa mengajarkannya kepada anak-anaknya. Saya sendiri tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, lebih bercampur dengan bahasa Jakarta dan Jawa Timur. Tapi sebagai rasa nasionalisme dan kecintaan saya pada Indonesia, saya ajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anak saya.
Pengalaman saya dengan bahasa Indonesia di Amerika Serikat biasanya berhubungan dengan sekolah anak-anak. Sewaktu anak sulung saya masuk preschool, gurunya minta saya ajarkan bahasa Indonesia. Katanya, karena anak masih mengenal dan menggunakan bahasa pertama mereka. Sehingga mereka juga ingin mengetahui dan mempelajarinya kalau-kalau si anak cuma bisa mengemukakan sesuatu dalam bahasa mereka di rumah. Jadilah saya tuliskan beberapa kata Indonesia dengan terjemahannya dalam bahasa Inggris untuk guru anak saya. Beberapa kata yang gurunya anggap penting seperti makan, minum, mau ke belakang, tidur dll. Pengalaman lainnya ketika ada acara Hari Internasional di sekolah anak saya yang merupakan acara tahunan. Anak saya hadir memakai kebaya lengkap dengan jarignya, membawa bendera merah-putih dan menyapa semua kawan-kawannya dan penonton,”Hallo dari Indonesia!” Sebagai seorang Indonesia, saat-saat seperti inilah yang membuat saya bangga menjadi orang Indonesia.
Tujuh belas Agustus kemarin Indonesia berulang tahun ke-61. Sebagai warga negara Indonesia, saya dan beberapa kawan di sini ingin merayakannya semeriah sewaktu di Indonesia, dengan perlombaan, upacara bendera, bazaar dll. Tapi alangkah baiknya rasa nasionalisme itu disalurkan ke hal yang lebih penting: mengajarkan anak-anak kita berbahasa Indonesia. Karena kenalan saya yang lebih lama tinggal di Amerika Serikat menyesal tidak mengajarkan anak-anak mereka bahasa Indonesia. Kata mereka ketika berkunjung ke Indonesia, anak-anak mereka seperti orang asing, meskipun mereka di tengah-tengah saudara dan keluarga. Ya, kenapa tidak menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari dengan anak-anak kita? Sebagai seorang Indonesia, bahasa Indonesia adalah jati diri kita. Lestarikan sebaik-baiknya! |