|

Teman kerja saya termenung di mejanya setelah menelepon istrinya di rumah. Sepertinya dia cukup kaget dengan apa yang dia dengar dari istrinya. Mau tanya "Ada apa?" saya takut mengganggu. Akhirnya dia bercerita. Di telepon tadi istrinya bercerita kalau putri bungsu mereka yang duduk di bangkukelas 1 SD sepulangnya dari menginap di rumah sepupu membawa cerita yang mengejutkan.
Sang putri bercerita kalau dia diajak main oleh sepupunya yang juga perempuan dan berumur sama. Tapi permainannya aneh, oleh sepupunya dia diminta membuka kaosnya sampai terlihat pusarnya. Diajak main "perkosa-perkosaan" begitu katanya. Kontan istri teman saya menelpon ke rumah saudaranya untuk mengingatkan orangtua si keponakan dan kemudian melarang Lisa menginap disana lagi.
Saya terpaku, sedih! Sering sekali mendengar berita seperti ini dari media massa, namun baru kali ini saya mendengar secara langsung dari orang yang mengalaminya. Sampai di rumah saya bercerita kepada Ibu. Ibu justru menambahkan cerita serupa. Cucu tetangga yang baru berusia 4 tahun beberapa hari yang lalu datang. Lalu dia mengajak anak-anak kecil di tempat kami untuk main pacar-pacaran, manten-mantenan dan tindih-tindihan.
Saya semakin sedih... Dulu saat kecil, saya dan teman-teman juga sering bermain manten-mantenan. Ada sepasang anak yang kami jadikan pengantin. Didandani, disuruh berjalan berdampingan sambil kami iringi dengan gamelan mulut. Ketika pengantin duduk ada yang mengipasi, ada juga yang pura-pura jadi tamu sambil membawa kado-kadoan. Sudah! Hanya itu. Sekedar menirukan upacara dan resepsi pernikahan yang sering kami saksikan. Tidak ada tambahan pacar-pacaran,apalagi tindih- tindihan.
Dari mana mereka mengetahui itu semua? Saya langsung menyalahkan TV. Pasti dari TV lah mereka mengetahui hal-hal itu. Karena TV saat ini banyak sekali menayangkan berita-berita kriminal yang memuat kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual lainnya. Selain itu juga ditayangkan sinetron-sinetron dan program TV untuk orang dewasa yang lain dimana jam tayang program-program tersebut tidak mengenal pembedaan waktu. Pagi -siang- sore- malam selalu ada.
Tapi kemudian saya berpikir lagi. Tak ada gunanya menyalahkan TV. Mereka hanya mengikuti tren yang diminati pemirsa saja. Kalau saat ini tayangan seperti itu yang banyak disiarkan ya karena pemirsa TV menggemarinya. Masih banyak hal lain yang memberikan pengetahuan kepada anak. Koran, majalah, internet, VCD yang semuanya hanya mementingkan besarnya keuntungan penjualan saja. Selain itu faktor lingkungan, baik di sekolah maupun di rumah juga membawa pengaruh yang sangat besar.
Akhirnya memang semua harus kembali pada diri kita masing-masing. Orang tualah yang harus memegang peranan penting dalam pendidikan anak.
1. Terus dampingi anak saat mereka menonton acara TV. Beri pengertian dan penjelasan yang tepat saat tontonan yang tidak diinginkan tak dapat dihindarkan.
2. Bantu anak memilih tontonan ataupun bacaan yang sesuai dengan usia dan berguna bagi mereka. Bahkan kalau perlu jauhkan mereka dari program TV komersial dan suguhkan sendiri tontonan-tontonan video yang mendidik.
3. Batasi fasilitas mereka. Kunci internet dari situs-situs dewasa, berikan handphone dengan fitur standar dan tentukan jam mainnya.
4. Kenali lingkungan pergaulan anak kita. Jadikan teman mereka sebagai teman kita juga, sehingga kita tahu dengan orang seperti apa anak kita bergaul.
5. Berhati-hati dalam tindakan kita. Siapa tahu bahwa sebetulnya anak mendapatkan penggalan gambaran tentang seks justru dari orang tua yang tidak berhati-hati? Baik saat berbicara dengan sesama orang dewasa atau pada saat melakukan hubungan suami istri.
6. Jika anak bertanya seputar seks jangan sampai kita menjawab “Ah sudahlah, kamu tidak usah tahu, belum waktunya.” Hal ini hanya akan membuat mereka mencari jawabannya di luar dan ini memungkinkan mereka mendapatkan informasi yang tidak utuh atau tidak benar. Cobalah memberi jawaban yang universal, masuk akal dan mudah dimengerti.
Kalau bukan kita sendiri yang menjaga mereka, siapa lagi? |