|
Suatu hari ketika sedang mengambil uang di dompet untuk membayar belanjaan saya dikejutkan oleh putri saya yang berkata “Mau uang, beli emen.” HAH?!?! Sejak kapan putri saya yang baru berusia 15 bulan ini mengerti uang untuk beli permen? Kami tidak pernah mengajarinya untuk tahu tentang uang, masih terlalu kecil menurut kami. Bahkan dia belum mengerti bentuk permen itu seperti apa. Selidik punya selidik ternyata dia mendengar kalimat itu dilontarkan oleh anak tetangga. Sejak saat itu setiap kali melihat uang, putri saya selalu memintanya untuk beli-beli.
Pertama kali mengetahui hal ini saya kesal karena pada awalnya saya berniat untuk tidak mengajarkan tentang uang pada anak sedini ini. Takut dia menjadi mata duitan atau konsumtif. Tapi sekarang sudah terlanjur, mau bagaimana lagi, harus dicari solusinya supaya pengetahuannya tentang uang terarah. Jadilah saya mencari masukan dari berbagai sumber. Syukurlah, dari hasil pencarian saya ternyata anak kecil mengenal uang itu bukan hal yang buruk. Bahkan sejak kecil pun anak sudah harus diajari tentang nilai uang. Idealnya, anak mulai diberi pengenalan tentang uang, besaran dan manajemennya dalah ketika ia telah mulai sekolah tanpa ditunggui oleh orang tua atau pengasuhnya.
Lalu bagaimana tipsnya agar anak yang telah mengenal uang tidak menjadi mata duitan dan konsumtif?
Atur Uang Sakunya
Ketika anak anak duduk di bangku TK dan SD, saat mereka baru belajar mandiri dalam mengatur keuangannya, berikan uang saku harian. Setelah masuk SMP kita bisa memberikan uang saku secara mingguan dan ketika anak telah duduk di bangku SMA serta perguruang tinggi berikan uang saku secara bulanan. Sedangkan untuk menentukan jumlah uang saku yang diperlukan pelajari kondisi sekolah mereka, barang apa saja yang dapat mereka konsumsi, dan seberapa banyak aktifitas mereka sehingga kita dapat memperkirakan jumlah uang saku yang diperlukan.
Ajari Anak Menabung
Beritahu anak kita, bahwa dengan menyisakan sebagian uang sakunya sampai terkumpul sejumlah uang yang cukup besar, dia dapat membeli barang yang dia idam-idamkan. Sepakati sejumlah uang yang harus disisakan setiap harinya agar anak tidak membelanjakan habis uangnya. Namun jika anak terlihat tidak bisa menyisakan uang sakunya, “paksa” mereka untuk menyisihkan uang sakunya sebelum berangkat sekolah atau pada saat mereka menerima uang saku itu dari kita. Untuk langkah selanjutnya kenalkan mereka dengan rekening bank.
Ajari Anak Berhemat
Buat anak kita menghargai uang.
Jangan sampai mereka mudah terpengaruh oleh iklan ataupun lingkungan untuk membeli ini-itu yang sebetulnya tidak mereka perlukan. Jangan hanya memberi nasihat kepada mereka. Strategi yang paling jitu adalah dengan memberi contoh dalam tindakan kita sehari-hari.
Ajari Anak Membuat Anggaran Sederhana
Ketika anak telah belajar Matematika, ajari mereka merencanakan pemasukan dan pengeluaran mereka. Dengan pengaturan ini mereka tidak akan kehabisan uang sebelum waktunya dan tetap bisa menabung.
Ajak Anak Menyumbang dan Berbuat Baik
Ketika ada acara pengumpulan dana, ajak anak untuk ikut menyumbang. Untuk pertama kali bisa memakai uang kita terlebih dahulu, setelah beberapa kali lihatlah apakah ia mau menggunakan uangnya sendiri. Jika iya, ini sangat bagus, tapi jika tidak doronglah anak untuk memahami arti menolong sesama.
Ajak Anak Bekerja
Tanamkan pada anak, bahwa orang tua bukanlah ATM berjalan. Perlu perjuangan dan waktu untuk mendapatkan uang. Ketika mereka telah cukup umur, doronglah mereka untuk mencari kerja sampingan. Dari sana mereka akan tahu bagaimana rasanya mencari uang. Tapi ingat, jangan sampai anak berpikir bahwa setiap kali bekerja/melakukan sesuatu ia akan mendapatkan uang. Ada pekerjaan rumah dan juga kegiatan-kegiatan sosial yang harus dikerjakan tanpa mendapatkan imbalan.
Dengan menerapkan hal-hal di atas, kita akan dapat memetik manfaat sebagai berikut :
Anak akan bisa menghargai usaha keras yang harus dilakukan untuk mendapatkan uang, sekaligus mengatur keuangan. Sehingga anak tidak akan menganggap orang tua sebagai ATM berjalan yang bisa dimintai uang kapan saja dia butuhkan.
Anak menjadi pandai dan giat mencari uang, karena dia tahu bagaimana besarnya kekuatan uang untuk memenuhi kebutuhannya dan mempertahankan hidupnya juga untuk meringankan beban sesama.
Anak akan tumbuh menjadi orang yang mandiri dan bertanggung jawab karena telah dibiasakan mengelola keuangan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
(dirangkum dari berbagai sumber)
Wiwit Wijayanti 15 Agustus 2006 |