We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Yang Lain arrow Sekolah di Amerika (and why do you homeschool?)
Sekolah di Amerika (and why do you homeschool?) E-mail
Pengirim: Ratu Vanda Wardani   
Rabu, 02 Agustus 2006

"Aduh, enak dong yah di Amerika, anak-anak jadi bisa bahasa Inggris dan bisa sekolah disana! Sudah kelas berapa sekarang sekolahnya?"

Pertanyaan diatas seringkali diajukan orang saat kami pulang ke Indonesia. Sebenarnya jawabannya pun mudah saja. Tapi, entah mengapa seringkali saya harus banyak pertimbangan untuk menjawabnya. Anak-anak saya (7, 5 dan 1 tahun) homeschool. Konsep homeschool sendiri masih asing di telinga orang Indonesia. Dan itu salah satu alasan saya mempertimbangkan jawaban pertanyaan tersebut. Karena kadang itu hanya sekedar pertanyaan basa-basi. Saya juga tidak mau membuat si penanya menjadi bosan.

Jadi saya akan menjawab dengan ramah,"Oh, kalau menurut umurnya sih, si sulung kelas 2 dan adiknya masih TK."

Menurut umur. Karena di negara bagian tempat saya tinggal (juga banyak di negara bagian lainnya), anak ditempatkan di kelas sesuai dengan umurnya. Jika kemampuan anak di atas atau di bawah standar umurnya maka mereka akan masuk kelas-kelas tambahan. Sementara untuk anak-anak saya, sulit menjawab dengan tepat. Karena kemampuan setiap anak menyerap pelajaran berbeda-berbeda.

Tetapi jika kelihatannya waktu memungkinkan, saya akan menjawab pertanyaan itu dengan jelas bahwa mereka tidak sekolah, tapi homeschool. Reaksi atas jawaban saya pun beragam:

"Homeschool? Bagaimana sih?", "Homeschool? Mengapa tidak sekolah saja supaya dia bisa bahasa Inggris?", "Homeschool? Punya teman, enggak?" "Apa enggak bosan di rumah terus seharian? Apa enggak kasihan anak-anak jadi kurang bergaulnya? Mereka sudah bisa apa? Kayaknya anak kamu perlu teman, deh!"

Sigh.

Seharusnya saya membuat brosur tentang homeschool yang bisa saya berikan untuk mereka yang bertanya tentang why in the Lord do you homeschool your children while you are in the United States? Dont you know that people from all over the world come here to study? WHAT ARE YOU DOING?

Tapi, saya lalu jadi berpikir. Iya, ya, kenapa saya homeschool? Mengapa saya tidak memanfaatkan saja fasilitas yang ada? Disini untuk sekolah dari TK sampai level SMA itu gratis bahkan tanpa uang pangkal. Dan untuk karya wisata pun (seringkali) tanpa biaya. Belum lagi fasilitas sekolah yang canggih, buku-buku gratis dan antar jemput ke sekolah (jika tempat tinggal di dalam route bis). Selain itu juga ada nurse di sekolah, psikolog, theraphy, dll. Akhirnya dengan pertanyaan orang tersebut membuat saya bertanya ulang mengapa saya justru meninggalkan semua itu dan melakukan homeschool untuk anak-anak saya.

Sebelum menjawab pertanyaan Why. Perlu saya tulis What is homeschooling dahulu. Didalam benak banyak orang, homeschooling seringkali diartikan sebagai school-at-home, sekolah di rumah. Artinya si ibu akan mengajar anak di salah satu ruangan di rumah, sementara si anak duduk dengan rapi di meja makan mendengarkan instruksi ibunya yang menjadi guru. Kegiatan ini berlangsung dari pagi sampai sore setiap harinya, kemudian ibu itu akan mengajar dari mulai Aljabar sampai Sejarah Dunia. Pertanyaan yang akan muncul adalah: memang ibunya lulusan mana? . Bila saya diperkenankan bertanya pada diri sendiri, maka saya juga akan menanyakan: itu si ibu apa nantinya tidak senewen,ya?

Homeschooling adalah alternatif pendidikan lain dari organisasi sekolah. Anak belajar dibawah pengawasan orang tuanya. Anak dan orangtuanya yang akan menentukan isi atau materi pelajaran mereka. Mereka pun memiliki kontrol penuh akan isi pelajarannya. Perlu ditekankan, homeschool bukanlah memindahkan sekolah ke rumah. Kegiatan belajar mengajar agak berbeda dengan di sekolah. Orang tua pun tidak perlu selalu menjadi guru tetapi orang tua lebih berperan sebagai fasilitator. Tujuan pendidikan untuk anak adalah agar membuat anak love to learn, cinta belajar, bukan demi menciptakan anak jenius yang menguasai semua bahan yang diajarkan.

Lalu, mengapa saya melakukan homeschool? Inilah jawabannya:

* To take direct responsility & direct involvement for raising and educating my children.

* Attachment: melanjutkan hubungan yang dekat dengan anak. Jika kita ingat betapa bahagianya melihat anak bisa duduk pertama kalinya, bayangkan jika kita bisa duduk bersama dan mengajarnya membaca sampai dia bisa menyelesaikan sendiri buku pertamanya? Mengapa kita biarkan orang asing mengambil itu dari kita?

* Materi pelajaran. Orang tua lebih punya kontrol terhadap apa dan bagaimana satu materi dipelajari . Kurikulum disesuaikan dengan anak-anak, bukan one size fits all tapi tailor made. Di Amerika, untuk higher grade diwajibkan mempelajari Sex Education, salah satunya adalah dengan cara menonton video. Sementara kita tahu bahwa standar norma setiap orang berbeda dalam hal ini, apalagi untuk kita yang orang timur. Akankah kita biarkan orang asing mengajarkan anak kita tentang the bird, the bee and the bun in the oven*?

* Learning styles. Saya lebih bisa menyesuaikan gaya mengajar dengan cara belajar anak-anak. Setiap orang memiliki cara berbeda untuk menerima pelajaran. Dengan HS saya bisa sesuaikan dengan gaya belajar anak-anak.

* Flexibility. Homeschooling memungkinkan keluarga kami melakukan perjalanan kapan saja dan berapa lama saja tanpa terikat dengan absensi atau ijin sekolah. Bahkan perjalanan pun dapat menjadi ajang belajar kami.

* Agama. Dalam homeschool group yang pernah saya ikuti, bukan hanya keluarga muslim saja tetapi juga orang-orang Kristen, Yahudi, Hindu dan penganut agama lain yang tidak setuju dengan pendidikan sekular di Amerika. Salah satu contoh adalah teori inteligent design (bahwa alam semesta diciptakan Tuhan) dilarang diajarkan di sekolah. Dengan HS waktu untuk mempelajari agama kami lebih leluasa.

* Safety. Dengan HS saya tidak perlu khawatir dengan bully di sekolah, antar jemput dan satu lagi: berdiri di pagi buta menunggu bus sekolah menjemput. Mereka bisa bangun kapan saja dan saya tidak perlu tergesa menyiapkan bekal sekolah. Saya tidak perlu bahas tentang school shooting atau kejahatan extreem lainnya disini.

* Standards and goals. Saya yang menentukan standar dan tujuan belajar sesuai dengan kesepakatan keluarga kami dan tidak harus mengikuti standar dan tujuan yang ditetapkan oleh orang lain (state's).

Ada banyak lagi alasan lain mengapa saya melakukan HS, tapi dari semua itu alasan utama saya adalah karena saya mencintai anak-anak saya. Saya ingin memberi yang terbaik untuk mereka. Saya rela mengorbankan waktu dan tenaga saya untuk dapat memberi semua itu bagi mereka. InshaAllah.

Allah telah mempercayakan mereka kepada saya. Maka adalah kewajiban saya untuk mendidik mereka dengan baik.

May Allah makes it easy on us and may He brings us mercy and forgiveness for our shortcoming

note:

*-the bird and the bee: istilah yang dipakai untuk menjelaskan tentang kelamin

-bun in the oven: istilah untuk hamil

Ratu Vanda Wardani, a homeschooler mother of three

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement