|

Sebagai bungsu di keluarga, sejak kecil saya menikmati perhatian kakak-kakak saya. Ketika mulai dewasa tidak saya sadari awalnya, perhatian saya dulu selalu tersedot oleh sulung-sulung. Padahal, saya sendiri tak pernah bertanya-tanya terlebih dahulu saat berkenalan dengan seseorang, terlebih menanyakan posisi anak ke berapa dalam keluarga. Jadi bisa ditebak, suami saya tersayang juga ternyata putra sulung di keluarganya.
Tidak jarang ada yang berkomentar tentang status keluarga kami sebagai kombinasi yang ideal. Si Bungsu yang butuh perhatian dan si Sulung yang senang mengatur dan memberi perhatian. Tapi benarkah terdapat hubungan antara status keluarga dengan sikap dan kepribadian? Apakah memang benar adanya bahwa si bungsu selalu butuh perlindungan, manja dan tidak mandiri, sedangkan si sulung senang memberi perlindungan dan cenderung memposisikan dirinya sebagai pengatur?.
Kalau saya perhatikan anak anak kami, sang putri sebagai yang terlebih dahulu dilahirkan memang terlihat lebih dewasa dan mandiri. Ia cenderung lebih bisa bermain sendiri dan tidak rewel. Sebaliknya, putra saya akan cepat merasa "kehilangan" bila sang mbak sedang tidak berada di rumah. Ia juga lebih santai, mudah bergaul, lebih manja dan senang membuat orang tertawa. Tidak jarang memang perbedaan sifat ini saling melengkapi, tapi tentu saja sering pula membuat letupan ketidakpuasan di kedua belah pihak, terutama di pihak putri saya atas tindakan seenaknya dari sang adik.
Sebelumnya saya memang tidak terlalu memikirkan adanya hubungan antara urutan lahir dan sikap seseorang, hingga saat saya melihat banyaknya kebenaran yang saya lihat di diri anak-anak saya dan karakter umum saya serta suami.
Ada catatan kecil di bawah ini untuk memudahkan saya mendidik Sulung dan Bungsu saya di rumah. Semoga juga dapat bermanfaat bagi teman-teman untuk dapat mengenal sifat umum anak sulung dan anak bungsu serta cara mendidiknya. Sayangnya referensi asli tulisan berikut dalam bahasa Jerman. Bagi yang tertarik untuk mengetahui artikel aslinya, silakan klik di link berikut ini.
Si Sulung
* Lebih khawatir dan lebih tidak puas dengan diri sendiri sehingga cenderung mengarah ke Perfektionisme
* Tidak terlalu senang konflik, lebih menyukai situasi yang terduga dan jelas
* Memiliki karakter yang kuat, penuh tanggung jawab, sangat berambisi dan berlaku benar.
Si Bungsu
* Lebih santai dan tidak terlalu merasa bertanggung jawab dan seringkali tidak berbelit-belit dan tidak rapih, tapi baik hati dan lucu, bahkan seringkali sangat romantis atau senang membuat orang tertawa
* Dibandingkan saudaranya, bersifat fleksibel, egois tapi juga pasif, mudah menyerah, tidak mandiri dan ambil jarak.
Si Sulung pertama-tama mendapatkan perhatian yang tidak terbagi dari orang tuanya, tapi kemudian sangat merasa shock dengan kelahiran adiknya. Menurut psikolog yang berbeda hal ini menyebabkan „patahnya“ kepercayaan yang dibangun oleh si Sulung dengan adanya pertandingan perhatian ini.
Dibandingkan saudara- saudaranya, si Sulung lebih berhati-hati dan senang menggunakan kelebihannya, tapi mereka seringkali sangat bertanggung jawab. Khususnya sulung perempuan tidak jarang "dipaksa" untuk sebagai pengawas adik-adiknya.
Tips Mendidik Anak Sulung
* Yang perlu diperhatikan adalah kecenderungan akan Perfektionismus tidak diperkuat. Harap jangan dibetulkan, jika anak anda melakukan sesuatu sendiri atau mengusulkan sesuatu.
* Jangan beri si Sulung dengan tumpukan tugas dan kewajiban, ajaklah si Bungsu juga melakukan sesuatu dan jangan terlalu sering meminta si Sulung untuk mengawasi adiknya.
* Berikan kelebihan untuk si Sulung misalnya dengan waktu tidur yang lebih malam, dan lakukanlah dengan konsekuen. Walaupun mungkin untuk anda ini tidak penting untuk si Sulung sangat penting!
* Habiskan waktu anda dengan si sulung. Hal ini akan menghasilkan hal positif bila si Sulung bersama dengan orang dewasa.
Si Bungsu lebih sering dimanja dan lebih mendapat perhatian dari orang tuanya, sehingga membuat si Sulung cemburu. Hal ini seringkali membuat hidup si Bungsu menjadi sulit. Sehingga untuk mendapat apresiasi dari si Sulung, maka ia berusaha membuatnya tertawa dengan begitu ia tumbuh menjadi badut. Bila jarak si Bungsu dan si Sulung jauh, maka biasanya ia akan tumbuh menjadi raja atau ratu kecil. Tidak jarang dia akan tumbuh terus menjadi „bayi“, yang tidak mau mengurus apa-apa dan mengharapkan orang lain yang mengurus sesuatu untuknya.
Tips mendidik anak bungsu
* Usahakan bahwa si Bungsu juga memiliki tugas di rumah tangga dan memiliki tanggung jawab.
* Si Bungsu juga harus mengikuti aturan keluarga dan mentaatinya.
* Bantulah selalu si Bungsu karena biasanya si Bungsu tidak terlalu berambisi.
* Seperti anak tengah si Bungsu butuh diperlakukan agar mereka merasa dibutuhkan dan spesial. Misalnya dengan menghargaihasil yang dilakukannya dengan memajang hasil prakarya atau lukisannya.
Semoga bermanfaat!. |