|
Menempuh hidup dalam ikatan pernikahan sungguh merupakan hal sangat membahagiakan kami, aku dan suamiku. Setelah melalui masa pacaran lebih dari 4 tahun, setelah melewati berbagai macam cobaan, sungguh indah rasanya ketika kami dapat bersatu dalam pernikahan ini. Dengan rasa cinta yang mendalam, kami berdua bertekad untuk akan selalu menjaga pernikahan dan keluarga kami dalam kebahagiaan.
Sebagai seorang istri, aku memilih untuk menjadi ibu rumah tangga kepenuhnya. Tidak melanjutkan pekerjaanku, tidak lagi mengejar karir, agar aku dapat melaksanakan tugasku sebagai istri dan ibu dengan baik. Lagipula, dari segi meteri kebutuhan kami telah tercukupi dengan penghasilan suamiku. Sadar sepenuhnya dengan beban menghidupi keluarga yang sepenuhnya ditanggung oleh suamiku, aku berusaha sedapat mungkin tidak mengganggunya dengan masalah rumah.
Ketika anak pertama lahir, kami menyambutnya dengan penuh suka cita. Aku asuh dan rawat buah hati kami dengan sepenuh hati dan tenagaku, sedangkan suamiku semakin giat bekerja agar segala kebutuhan anak kami terpenuhi. Kukerjakan seluruh pekerjaan rumah dan tugas mengasuh anak seorang diri, hampir tak pernah merepotkan suamiku dengan sekedar minta tolong mengambilkan popok anak kami. Aku tak ingin mengganggu suamiku dengan pekerjaan rumah, karena semakin hari beban pekerjaannya semakin banyak. Selain pekerjaan rutinnya di kantor suamiku juga mengerjakan beberapa proyek penelitian dan sering pekerjaan itu diselesaikan di rumah. Sehingga dia sudah cukup lelah tanpa dibebani dengan tugas-tugas lain.
Ketika anak kedua kami lahir, aku masih teguh dengan kesadaranku bahwa tugas rumah tangga termasuk mengasuh anak sepenuhnya adalah tanggung jawabku. Namun akhirnya aku tak mampu lagi untuk membagi waktu antara menyelesaikan pekerjaan rumah dan mengasuh kedua anakku, akhirnya kami putuskan untuk mengambil jasa asisten rumah tangga. Alhamdulillah, kami mendapatkan asisten yang baik dan cocok dengan keluarga kami.
Semakin hari anak-anak tumbuh semakin besar, suamiku semakin giat dengan pekerjaan kantor dan proyek-proyek penelitiannya, kesejahteraan keluarga kami juga semakin membaik. Alhamdulillah hubungan kami juga selalu harmonis. Dalam beberapa hari liburnya, suamiku menyempatkan diri untuk bersama-sama dengan aku dan anak-anak, rekreasi ke luar kota atau hanya sekedar makan luar bersama. Hari-hari kami sungguh bahagia. Mungkin kesejahteraan dan kebahagiaan ini juga yang membuat perut suamiku semakin lama semakin buncit. Pipinya pun semakin tembam dari hari ke hari. Pernah aku ingatkan dia untuk menyempatkan diri berolahraga dan menjaga menu makannya, iya..iya.. jawabnya saat itu, namun tak kunjung ada realisasinya. Ketika beberapa kali aku ingatkan lagi hal itu namun sepertinya suamiku tidak berkenan, maka aku berhenti mengomelinya, aku tak mau membuat kesal suamiku karena aku sangat mencintainya.
Di suatu saat, sempat muncul keinginanku agar suamiku melanjutkan jenjang studinya, karena dalam lingkup pekerjaannya, tingkat pendidikan sangat menentukan jenjang karir. Hal ini aku sampaikan pada suamiku dan ditanggapinya dengan baik walaupun aku kurang melihat semangatnya. Maka aku mulai membantu mencari informasi-informasi beasiswa, baik dari koran, mailing list ataupun informasi dari kedutaan asing, semua informasi aku forward ke suamiku. Namun setelah beberapa lama tak ada tanggapan dari suamiku. Akhirnya perlahan-lahan keinginan itu hilang dan aku kembali tenggelam dalam kedamaian dan kebahagiaan keluarga kami.
Namun ternyata kebahagiaan tidak dapat selalu bersama kami, Gusti Allah memberikan cobaan kepada kami melalui suamiku. Pada suatu siang, suamiku terkena serangan jantung di kantornya dan segera dilarikan ke rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan dokter kemudian kami ketahui, bahwa selain karena faktor keturunan (ayah suamiku juga penderita penyakit jantung), pola makan yang salah dan tak pernah berolahragalah yang membuat jantung suamiku tidak berfungsi dengan baik.
Aku tersentak! Segala rasa bersalah menghampiriku. Seharusnya ini tidak perlu terjadi. Seharusnya aku terus-menerus mengingatkan suamiku agar berpola hidup sehat sehingga dia tidak perlu berbaring tak berdaya di rumah sakit seperti ini. Seharusnya aku tidak perlu khawatir dengan kekesalan suamiku karena kecerewetanku, karena semua itu karena rasa cintaku padanya. Ya Tuhan, ternyata selama ini aku tidak benar-benar mencintai suamiku. Aku tenggelam dalam kebahagiaan dan ketenangan sesaat tanpa memikirkan akibat jangka panjangnya.
Pikiranku jadi melayang pada hal-hal lain. Berusaha mengintrospeksi diri. Dan kesadaran ini semakin mencekamku. Baru saat ini aku sadar, bahwa selama ini aku memang tidak benar-benar mencintai suamiku. Aku telah salah memformulasikan arti kata cinta. Teringat bagaimana hubungan antara suamiku dengan anak-anak, walaupun mereka saling menyayangi, namun hubungan batin mereka tidak dekat. Anak-anak tak pernah merindukannya, walaupun ayahnya pergi dinas keluar kota berhari-hari. Berbeda jika aku yang pergi, walaupun hanya sehari, anak-anak pasti selalu menelpon, menanyakan keadaanku dan menyampaikan kerinduan mereka. Aku baru sadar, aku yang menciptakan jarak antara mereka. Kalau saja aku memberi ruang pada suamiku untuk ikut mengasuh anak-anak, tidak sekedar memberikan nafkah materi dan mengajak jalan-jalan saja, pasti hubungan mereka akan lebih dekat.
Dari rumah pikiranku melayang ke kantor suamiku. Disana, tempat suamiku mengabdi selama dua puluh tahun lebih, tidak kudapati tangga yang bisa membawa suamiku ke jenjang karir yang lebih tinggi. Ya, tak ada! Karena kendala minimnya tingkat pendidikan suamiku. Padahal jika aku dulu terus-menerus menyemangatinya untuk melanjutkan sekolahnya, pasti saat ini suamiku bisa mencapai karir yang lebih tinggi.
Ternyata memang aku tak mencintai suamiku lagi. Berbeda dengan saat pacaran dulu, dengan rasa cinta kami yang dalam,kami saling memberikan semangat untuk menyelesaikan sekolah, mencari pekerjaan, menyelesaikan masalah dengan orang tua, dan masih banyak hal lagi yang kami hadapi bersama. Aku telah terlena dengan ketenangan dan kebahagiaan sesaat yang aku ciptakan. Aku pikir totalitas pengabdianku pada keluarga, tidak banyak menyita waktu suamiku untuk mengurus rumah dan anak adalah wujud rasa cintaku. Aku pikir dengan melakukan apa saja asal suamiku tidak marah dan kesal adalah penyaluran cinta yang tepat. Ternyata aku salah!
Duh Gusti Allah..... Berikanlah kesempatan padaku untuk memperbaiki diri. Berikanlah kesempatan padaku agar aku bisa mewujudkan rasa cintaku dengan benar kepada suamiku. Untuk kebahagiaan kami sekeluarga. (Wiwit Wijayanti) |