|
Mungkin, sebagian besar orangtua pernah merasakan saat-saat ketika kemarahan naik ke ubun-ubun menghadapi ulah anak-anak. Ketika rasa marah menerpa, seringkali, yang paling ingin dilakukan adalah mengeluarkan teriakan atau bentakan keras untuk melampiaskan kemarahan itu.
Marah kepada anak adalah hal yang alami, bahkan tidak mungkin terelakkan. Namun harus diwaspadai bahwa kehilangan kontrol atas rasa marah itu justru merupakan sebuah hal yang akan merusak anak. Lebih jauh lagi, ketidakmampuan mengontrol rasa marah akan menghambat Anda untuk menanamkan kedisiplinan pada anak-anak.
Matthew McKay, PhD, telah menghabiskan waktu dua tahun untuk meneliti perilaku marah orangtua dan efeknya terhadap anak-anak. Dia menemukan bahwa 2/3 orangtua (dari 285 orang tua yang diteliti) mengungkapkan rasa marah kepada anak dengan berteriak dan membentak rata-rata 5 kali seminggu. Artinya, hampir setiap hari anak-anak itu menerima bentakan dari orangtuanya. McKay mengatakan, "Bila Anda membentak anak hampir setiap hari, anak akan terluka hatinya. Bila hanya sekali dalam seminggu atau sebulan, anak tidak akan merasakan adanya serangan psikis pada dirinya."
Anak-anak yang memiliki orangtua yang pemarah cenderung lebih agresif dan menjauh dari orang tuanya. Ketika mereka dewasa, mereka akan kesulitan dalam masalah akademis, sosial, dan emosional. Sebagian dari mereka bahkan menderita depresi. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kemarahan akan mengalami kesulitan dalam karir, hubungan sosial, dan kesehatan mental.
Efek yang paling cepat dirasakan akibat kemarahan orangtua yang tidak terkontrol adalah anak semakin sulit untuk diajar disiplin. "Sebabnya, orangtua yang sering membentak menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang tidak konsisten dan tidak bisa diduga. Kedisiplinan adalah kekonsistenan. Bagaimana mungkin orangtua yang tidak konsisten bisa mengajarkan kedisiplinan pada anaknya," kata Dr. John Krawczyk, seorang psikiater anak dari Chicago.
Dr. Krawczyk juga menyatakan, "Anak-anak biasanya selalu ingin menyenangkan hati orangtua mereka. Tetapi bila mereka merasa terancam atau tidak aman (karena sering dibentak), mereka akan berhenti mencoba (untuk menyenangkan hati orangtuanya)."
Bagaimana Rasa Marah Timbul?
Menurut Dr. McKay, rasa marah timbul karena adanya "pemicu rasa marah" yang muncul di benak orangtua. Pemicu rasa marah itu terbagi tiga:
- Anggapan adanya kesengajaan ("Anakku melakukan hal itu karena sengaja.")
- Melebih-lebihkan situasi ("Anak ini tidak pernah mau mendengar kata-kataku")
- Pelabelan/memberi cap tertentu pada anak ("Anak ini memang nakal.")
Pikiran-pikiran buruk itulah yang memicu kemarahan, dan orangtua yang lepas kontrol akan segera membentak anaknya. Misalnya, ketika si anak memecahkan gelas, orangtua membentak, "Kau ini memang nakal!" Dengan kata lain, rasa marah sesungguhnya bukan timbul karena gelas yang pecah, melainkan karena pikiran buruk orangtua terhadap anaknya.
Bagaimana Cara Menahan Marah Agar Tidak Keluar Bentakan?
Langkah pertama: tahan perasaan Anda selama beberapa saat untuk menyadari bahwa sesungguhnya marah karena adanya pemicu rasa marah'.
Langkah Kedua: tenangkan diri Anda dengan kata-kata yang menguatkan diri sendiri, misalnya "Sabar...sabar..."
Langkah Ketiga: ubahlah pikiran emosional Anda dengan pikiran yang realistis. Misalnya, ketika anak menumpahkan susu coklatnya di karpet yang baru Anda cuci, mungkin Anda langsung berpikir, "Anak ini senagaja melakukannya. Dia tahu aku baru capek mencuci karpet" atau "Anak ini benar-benar nakal!"
Pikiran negatif inilah yang akan memicu munculnya bentakan, "Kamu ini nakal sekali! Kenapa sih kamu selalu membuat Mama repot?!"
Seharusnya, dalam kondisi seperti ini, yang Anda lakukan adalah berpikir positif, "Oh, anakku tangannya masih belum kuat, sehingga gelas itu lepas dari tangannya," atau, "Dia memang sedang ingin mencoba segala sesuatu, termasuk menumpahkan susu."
Perlu kita camkan dalam benak kita sendiri bahwa sesungguhnya, anak selalu ingin menyenangkan hati orangtuanya. Jika Anda membentaknya, dampaknya adalah: perasaan anak Anda terluka dan Anda telah mendorongnya untuk menjadi "nakal", sebagaimana yang Anda ucapkan ketika membentaknya. Dengan kata lain, anak Anda sesungguhnya tidak nakal, namun label dari Anda akan mendorongnya untuk menjadi anak nakal.
Bagaimana Cara Marah yang Benar?
Menahan diri untuk membentak anak bukan berarti membiarkan anak berbuat apa saja semaunya. "Rasa marah adalah emosi manusia yang sehat," menurut Dr. Feldman, seorang dokter anak. Anda tidak perlu menutup-nutupi rasa marah atau ketidaksukaan Anda terhadap perbuatan anak Anda. Menurut Dr. Feldman, langkah yang harus dilakukan adalah:
- Tumbuhkan hubungan kasih sayang yang kuat antara Anda dan anak. Bila kasih sayang sudah terjalin kuat, jika sekali-sekali Anda lepas kontrol dan membentak anak, efeknya tidak terlalu banyak. Anak mungkin akan terluka hatinya sebentar, namun segera pulih, karena dia tahu pasti bahwa Anda cinta padanya. Sebaliknya, bila hubungan kasih sayang antara Anda dan anak tidak terlalu dalam, kemarahan kecil pun sudah cukup untuk membuatnya hati anak terluka dan dia akan berpikir bahwa Anda membencinya.
- Bila memang perilaku anak Anda tidak benar, katakan terus-terang, "Mama tidak suka kamu melakukan itu." Anda bisa saja mengatakan kalimat itu dengan suara keras, tetap semakin lembut, semakin baik.
- Bila Anda lepas kontrol dan membentak Anak dengan kalimat buruk, "Kamu nakal!" atau "Kamu memang tidak pernah mau menurut kepada Mama!", segeralah peluk anak Anda dan mintalah maaf. Katakan bahwa sesungguhnya dia tidak seperti itu (tidak nakal). Katakan padanya bahwa Anda marah karena tidak suka kepada perbuatannya, bukan karena membencinya.
Diadaptasi dari artikel "Blowing Up" karya Liza N. Burry, majalah Parents terbitan Februari 1998. |