|
Halaman 1 dari 2 Rasa sayang dan cinta akan mendorong seorang ibu untuk memenuhi segala kebutuhan dan melayani semua keinginan si kecil. Namun, ketika usia si buah hati mencapai usia sekitar 4 atau 5 tahun, sikap ibu yang selalu melayani agaknya sudah tidak tepat lagi. Apalagi, ketika anak kedua --yang menuntut perhatian lebih-- telah hadir, melayani si kakak habis-habisan hanya akan membuat lelah ibu. Karena itu, sikap mandiri sudah harus ditanamkan kepada anak sejak dini.
Di satu sisi, kemandirian anak akan memperingan pekerjaan ibu, dan di sisi lain, "Mempelajari bagaimana cara mengatasi masalah akan menumbuhkan perasaan aku bisa melakukannya sendiri yang akan diterapkan anak di berbagai bidang kehidupannya, termasuk sekolah," kata Doktor Fred Rothbaum dari Massachussetts.
Langkah-langkah untuk mengajar anak mandiri adalah sebagai berikut.
1. Tekad Kuat
Menumbuhkan kemandirian pada anak dibutuhkan tekad dari dalam diri si ibu terlebih dahulu, karena, pekerjaan yang dilakukan anak seringkali tidak sesuai dengan selera si ibu dan lebih lambat selesai. Tanpa tekad bulat, si ibu akan cenderung tidak sabar dan memilih untuk melakukannya sendiri. Ibu akan merasa lebih mudah bila ia yang mengerjakan sendiri segala sesuatunya. Daripada menunggu anak setengah jam baru selesai membereskan kamar tidurnya, itupun dengan hasil yang sama sekali tidak rapi, si ibu mungkin lebih suka bila ia sendiri yang melakukannya: 10 menit dengan hasil memuaskan. Namun, dengan cara itu, usaha untuk mengajar anak mandiri akan membentur kegagalan.
2. Sadarilah Potensi Anak
Seringkali kita merasa bahwa ada beberapa pekerjaan yang belum mampu dikerjakan si kecil, misalnya mengambil sendiri gelas di dapur, lalu mengambil susu di kulkas, dan menuangkannya ke gelas. Berbagai kekhawatiran akan menghantui: nanti gelasnya pecah, nanti susunya tumpah. Padahal, jika dicoba, kita akan takjub melihat betapa si kecil ternyata sudah mampu melakukan semua itu. Mungkin awalnya susu akan tumpah, tapi itulah proses latihan, biarkan saja. Juga, untuk menghindari gelas pecah, sediakan gelas-gelas plastic khusus untuknya. Melatih anak menuang sendiri susu ke gelas, akan menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian anak, serta melatihnya mengatur keseimbangan dan konsentrasi.
3. Jangan Berharap Terlalu Tinggi
Bagaimanapun, kemampuan seorang anak kecil pastilah terbatas. Misalnya, bila kita meminta si kecil membereskan mainannya, tidak mungkin ia akan merapikan secara sistematis dan menaruhnya di laci sesuai aturan' kita. Ia hanya akan menunmpukkan begitu saja mainannya di laci. Dalam hal ini, kita harus mengajarkan dengan perlahan, misalnya "Nak, alat-alat gambarmu harus masuk ke laci sebelah atas dan alat-alat memasakmu masuk ke laci ke dua." Atau, bila kita memintanya memakai baju sendiri, jangan berharap dia akan langsung bisa memasang kancingnya dengan benar. Biarkan dia memasang kancing sampai selesai, setelah itu tunjukkan dimana letak kesalahannya dan baru dipasang ulang.
4. Berilah Tugas Sesuai Kemampuan si Anak
Perhatikan perlengkapan rumah Anda. Bila susu disimpan di bagian atas rak kulkas, tentu berlebihan bila Anda meminta anak mengambil sendiri susunya. Karena itu, letakkan susu atau buah-buahan yang sudah dicuci di bagian rak tengah yang terjangkau oleh tangan si anak. Dengan demikian, ia bisa mengambil sendiri susu atau buah bila ia menginginkannya. Juga, letakkan gelas di tempat yang bisa dijangkaunya.
<< Mulai < Sebelum 1 2 Berikut > Terakhir >> |