|
Halaman 1 dari 3 Seiring dengan kemajuan komunikasi global yang memungkinkan banyak orang di penjuru dunia untuk mengetahui mengenai banyak hal di berbagai belahan dunia yang lain, menyebar pula berbagai produk negara-negara maju yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Sebut saja dari berbagai perlengkapan bayi, mainan bayi dan anak, hingga berbagai formula dan makanan bayipun sudah mulai menjadi keseharian di berbagai kota besar di Indonesia.
Semakin tingginya tingkat kesadaran para ibu di Indonesia, membuat mereka selalu berusaha memperbarui pengetahuan dan teknik dalam perawatan anak dan keluarga. Fenomena yang sangat baik bagi pengembangan budi daya para perempuan sebagai individu, istri dan ibu ini terlihat berkembang pesat memasuki abad ke 21 ini.
Sayangnya, banyak pula di antara para ibu yang mengadaptasi berbagai cara merawat anak dan keluarga dari banyak negara maju tanpa berusaha ‘bersusah-payah’ untuk terus mengevaluasi, memperbarui dan memikirkan secara dalam apakah cara ‘parenting’ yang diadaptasinya sekarang ini merupakan cara yang terbaik bagi dirinya dan keluarganya.
Kenyataan di Indonesia dengan berbagai kesibukan di dalam bekerja dan mengelola rumah-tangga, seringkali hanya meluangkan sedikit sekali waktu yang tersisa untuk diri pribadi merenungkan dan mengevaluasi apa yang ada di sekitar kita. Apalagi bila di sekitar kita dipenuhi dengan berbagai tuntutan materialisme, sehingga segala sesuatu akan kita kembalikan kepada standar pemenuhan materialisme sebagai prioritas utama.
Parenting a la Indonesia
Apa sih sebenarnya parenting ala Indonesia? Ada parenting a la tradisional yang dilakukan dengan meneruskan apa yang diperoleh dari ibu,nenek maupun sekitarnya. Ada parenting ala Barat yang mengadaptasi ilmu parenting ala belahan Eropa dan Amerika. Ada sekarang menjadi trend, parenting ala ‘relijius’ yang mengadopsi nilai-nilai keagamaan. Juga mulai kelihatan trend parenting ala ‘spartan’ yang berusaha menjadikan anak ‘sukses dan berhasil di dalam studi dan hidup’.
Berkaca dari sekitar, masyarakat Indonesia yang mulai bertransisi memasuki gaya hidup masyarakat di negara-negara industri. Ini dapat kita lihat dari kenyataan sbb: suami istri bekerja, semakin sedikitnya jumlah anak, semakin kuat pengaruh keluarga inti daripada pengaruh keluarga besar, semakin kurang campur tangan orang lain di dalam urusan domestik keluarga, semakin berkurang waktu keluarga, semakin individual hubungan antar manusia.
Belakangan ini, bukan hal aneh lagi di kota-kota besar Indonesia untuk banyak mengadopsi cara parenting ala Barat. Dari segala teori dan pengetahuan ‘parenting’ sampai ke produk perawatan anak dan keluarga yang mengadopsi produk perawatan anak dan keluarga ala Barat juga menyebar luas.
Bila diaper dulu bahkan hanya dikonsumsi oleh ekspatriat yang tinggal di Jakarta, kini pemakaian diaper sudah mulai merata di kalangan ibu-ibu muda. Fenomena pemilihan kelahiran dengan C-section/Bedah Caesar bagi banyak ibu-ibu, pemilihan tak menyusui dan memberikan susu formula bagi bayi kesayangan, menimbulkan pertanyaan bagi saya. Apa sebenarnya dasar pemikiran para ibu-ibu dalam menentukan cara parenting yang mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari?
Apakah masih parenting cara tradisional, sekedar meneruskan tradisi yang ada meskipun tanpa menggali apa makna yang ada di dalam cara parenting tersebut? Apakah hanya melihat segi fungsional dan efisiensi, seperti pada pengadopsian pemakaian diaper pada bayi dan balita. Ataukah melihat segi kecantikan dan mitos kepuasaan biologis, seperti pada pengadopsian pemberian susu formula dan kelahiran dengan bedah Caesar, meskipun tak ada kondisi yang mengancam jiwa ibu bila tak dilakukan.
<< Mulai < Sebelum 1 2 3 Berikut > Terakhir >> |