We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2009 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Ekonomi Keluarga arrow Renungan tentang Perkawinan
Renungan tentang Perkawinan E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Rabu, 21 Juni 2006

Perkawinan adalah sebuah ikatan perjalinan hidup antara 2 makhluk Tuhan. Seperti sebuah kehidupan, suatu perkawinan penuh dengan perjuangan. Kadang ada perkawinan yang kita idamkan akan menjadi perkawinan yang langgeng ternyata perkawinan itu tidak berjalan mulus. Tidak semua perkawinan berjalan dengan mulus, sebagian perkawinan dipenuhi dengan kendala-kendala , tantangan-tantangan, dan perbedaan-perbedaan. Seorang ibu memulai suatu diskusi dengan bertanya, dan bercermin. apakah begitu mudahnya kita membubarkan sebuah ikatan RT yang nota bene ketika kita bentuk dulu ...

Ketika kapan kita harus realistis merasa hubungan perkawinan kita memang sudah
tidak bisa dipertahankan..???
dan ketika kapan kita merasa bahwa [Perpisahan] itu sudah merupakan takdir hidup kita....??

Ia mendapat pelajaran dari ibunya tentang pernikahan mereka yang bisa langgeng bahwa "kita [ bila seseorang itu hendaknya] mengambil keputusan untuk menikahi seseorang.[hendaknya].kita harus siap dengan segala sikap negatif dan sikap positifnya..dan kita harus sadar bahwa kita dilahirkan dan dibesarkan dari latar belakang yang berbeda....Nah jadi sudah pasti saja kita punya perbedaan prinsip dalam menanggapi suatu situasi....Dan kita harus ikhlas jika menghadapi suatu sikap yagn menurut kita tidak sesuai dengan kata hati kita, dan jangan pernah merasa kita paling malang dan kita paling sedih ketika menghadapi suatu persoalan dalam RT karena setiap RT tidak mungkin tanpa masalah...namun ingat kita harus bijak dalam berkomunikasi sehingga suami harus tau apa yang ada dihati kita, kita sedang tersinggung, sedih atau marah, dan kita harus piawai dalam mengungkapkan isi hati kita...maksudnya pilihlah saat dan waktu yang tepat untuk itu...."

Ia menyadari bahwa "Keikhlasan kuncinya....tapi apakah itu cukup....hanya hati kita yang dapat menjawabnya." atas kesuksesan suatu perkawinan.

Ibu WRM yang kedua mengemukakan pendapatnya bahwa, "bahwa perceraian itu sering kali memang merupakan jalan keluar. Itu sebabnya perceraian itu walau pun jelek, tetap saja halal.

Karena manusia itu bisa berubah. Yang tadinya cocok bisa saja sekarang jadi sebaliknya.

Dan perkawinan itu tidak hanya antara 2 orang, tapi ada anak. Kalau Ibu Bapaknya udah saling sebel, sering tidak bisa menyembunyikan kesebelannya itu dari anak kan ? Justru kasihan si anak kalau mesti liat Ibu Bapaknya saling berantem."

Di akhir tulisan, Ibu itu menambahkan suatu kutipan yang bagus tentang perkawinan, yaitu: "Marriage is supposed to bring out the best in each person. If it brings out the worst, .. would you stay married and be the worst person you can be ?"

Ibu WRM yang ketiga setuju dengan pendapat di atas, akan adanya suatu percerian dalam perkawinan "karena manusia berubah dan kadang-kadang berubahnya 180 derajat. Kalau sudah begini dan malah bikin sakit anak dan istri untuk apa dipertahankan."

Ibu WRM keempat teringat akan pendapat suaminya tentang perkawinan, bahwa "Bahwa pernikahan itu adalah perjanjian suci yang disahkan oleh Allah. Jodoh kita pada saat itu sudah ditentukan dan kita sebagai pelaksananya semata-mata hanyalah pelaksananya.

Jadi pernikahan adalah rangkaian ibadah seperti ibadah-ibadah kita lainnya. Dan kunci dari ibadah adalah ikhlas, jadi seperti apapun pasangan kita, kita harus ikhlas.
Selain itu cuma Dia yang menumbuhkan rasa cinta dan sayang dikeduanya. Kalau Dia berkehendak, maka detik inipun rasa cinta dan sayang itu akan musnah.

Karena itu jangan pernah lupa untuk meminta pada-Nya agar selalu memelihara rasa itu diantara keduanya, semata karena kecintaan kita yang sangat besar juga pada-Nya.

Takdir bisa dikatakan takdir kalau semua sudah terjadi , jadi sebelum kejadian (perceraian misalnya) itu, maka namanya bukan takdir. Alias kita wajib mengatasinya dulu, tapi kalau memang semua beban sudah tidak bisa kita tanggung dan kita sudah berusaha maksimal (termasuk segala doa), yah.. tinggalnya kita menunggu takdir-Nya. Mungkin yang berbeda ditiap orang adalah seberapa kuat dia menahan bebannya
"

Demikian perbincangan dan diskusi Ibu-Ibu WRM, tentu saja tidak ada jawaban yang benar dan tidak ada jawaban yang salah, sebelum kita memutuskan sesuatu akan arti dan makna perkawinan kita, mari kita serahkan hati nurani pembaca masing-masing dan Allah sang Pencipta akan artinya Perkawinan itu.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement