We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Buah Hati arrow Gosip si Kecil
Gosip si Kecil E-mail
Pengirim: Dina Sulaeman   
Selasa, 20 Juni 2006

Umumnya orangtua menganggap bahwa gosip adalah kegiatan gadis remaja saja. Namun sesunguhnya, anak berusia lima tahun pun telah menyukai pekejaan menggosip ini. Yang mengejutkan, para psikolog menyatakan bahwa gosip memiliki pengaruh positif bagi perkembangan sosialisasi anak.

Gosip memberitahukan apa saja perilaku yang disukai teman-temannya dan apa perilaku yang dibenci mereka," kata Dr. Gary Fine, seorang profesor sosiologi di AS. Apabila anak-anak saling menggosip dengan nada kesal tentang teman mereka yang suka tertidur di kelas, Anda boleh bertaruh bahwa anak-anak yang sedang menggosip itu tidak akan melakukan hal yang sama (tidur) di dalam kelas.

Namun demikian, kita harus tetap waspada terhadap kegiatan menggosip anak kita. Anak-anak umumnya suka menggosip tentang hal-hal material, misalnya siapa yang mmiliki boneka lebih banyak atau siapa yang mempunyai playstation versi terbaru. Dr. Fine berkata, "Anak kecil memahami status sosial. Biasanya anak yang lebih banyak punya mainan lebih disukai oleh anak-anak lainya."

Hal ini tentu saja bukan hal yang positif. Anak harus memahami bahwa dalam hidup, kita memilih teman bukan karena kekayaaannya, melainkan karena kesalehannya. Kita harus mengajarkan anak bahwa materi bukanlah segalanya. Cara yang paling efektif untuk menanamkan sikap antimaterialistis adalah kita pun sebagai orangtua jangan melulu membicarakan masalah materi (baju baru, mebel baru, perhiasan, dll) ketika sedang mengobrol dengan teman-teman.

Meskipun sikap-sikap seperti picik, pelit, atau cemburuan adalah tabiat yang wajar dimiliki anak kecil, gosip yang jahil' perlu diwaspadai. Misalnya, anak Anda menggosip tentang kejelekan temannya, "Mama, si Amir jorok deh, bajunya kotor dan bau." Katakan padanya bahwa julukan 'jorok' akan menyakiti hati temannya itu. Anda juga harus menanamkan sikap huznudzan (baik sangka) kepada anak. Misalnya, "Oh..mungkin Amir bajunya kotor karena ibunya sedang sakit sehingga tidak bisa mencucikan bajunya." Juga, tanamkan sikap empati, "Bagaimana perasaanmu bila ada temanmu menyebutmu 'anak jorok'? Kamu pasti sedih kan?"

Kebiasaan anak menggosip ada kalanya merupakan tanda bahwa si anak merasa bahwa agar dia disukai lingkungannya, dia harus 'menjatuhkan' orang lain terlebih dahulu. (Hal yang sama juga sering terjadi di tengah orang dewasa. Ada orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain dengan tujuan agar dirinya dianggap lebih baik.) Seringkali, sikap orangtua justru mendukung hal ini.

Misalnya, dalam kasus anak yang menggosip tentang baju baunya si Amir tadi, orangtua yang tidak bijaksana akan menanggapi, "Oya? Ih..kok gak malu tuh anak, pakai baju bau dan kotor?! Kalau kamu sih enggak ya... bajumu selalu wangi dan bersih." Tanggapan seperti ini akan membuat anak berpikir bahwa untuk meraih pujian, dia harus terlebih dahulu mencela orang lain.

Salah satu cara untuk menghilangkan keegoisan anak (sikap ingin dipuji dengan cara mencela orang lain) adalah dengan mengalihkan hobi gosipnya itu dengan kegiatan bercerita. Pada dasarnya, gosip adalah bercerita, bukan? Misalnya ketika anak mulai menggosip tentang temannya yang bajunya bau, alihkan ceritanya tentang kegiatannya di sekolah hari itu.

Namun, jangan menyuruh anak untuk tidak menggosip sama sekali. Kalau anak tidak (atau takut) menggosip di depan Anda, ada kemungkinan informasi penting tidak sampai kepada Anda. Misalnya, ada teman si Anak mengkonsumsi rokok atau narkotika. Bila gosip ini Anda dengar, Anda tentu bisa mengambil tindakan-tindakan untuk mencegah anak Anda terpengaruh oleh temannya itu. Sebaliknya, bila gosip itu tidak Anda dengar, bisa jadi anak Anda malah ikut-ikutan temannya itu.

Juga, anak yang sama sekali tidak suka menggosip (artinya, tidak suka kumpul-kumpul dan mengobrol dengan teman-temannya) justru akan menjadi asing di lingkungannya dan akibatnya, nanti malah dia yang akan menjadi korban lidah tajam orang lain.

(Diadaptasi dari artikel Little Gossip karya William Tenango, dari majalah Parenting edisi Maret 1998)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement