|
Halaman 1 dari 3 Berapa % kah jumlah ideal tabungan dari pendapatan (bersama)? Benarkah angka % ideal dan fakta yang terjadi kadang berbeda jauh? Dalam keadaan merantau dengan living cost yang tinggi, berapa % tabungan dari pendapatan rutin yang rasional dapat dialokasikan?. Ingin tahu jawabnya? Baca rangkuman tema terkait dari diskusi di milist wrm-indonesia berikut ini.
I. 50% Konsumsi, 50% Tabungan, Investasi, Proteksi*
Pendapatan harus teralokasi untuk empat hal: konsumsi, tabungan, proteksi dan investasi. Ini berlaku untuk siapa saja dengan pendapatan berapa pun. Jadi, keliru bila ada yang beranggapan pendapatannya hanya cukup untuk konsumsi. Yang ada adalah ketidakdisiplinan menerapkan perencanaan keuangan.Kalau persentasenya, idealnya, maksimum 50 % untuk konsumsi , 50% lagi untuk tabungan, investasi dan proteksi.
II. Mulai Menabung atau .....: The Frequently Asked Question**
"Saya sekarang sedang mulai cicilan rumah, uang saya banyak tersedot ke sana ..."
"Pengeluaran gue lagi gak teratur nih, nanti kalau sudah mulai stabil gue pasti mulai nabung..."
"Gaji saya terlalu kecil buat menabung. Mana bisa saya menabung, untuk hidup saja sudah pas-pasan"
Pada artikel pertama dulu kita berbicara mengenai 'Tidak ada Alasan untuk Tidak Menabung', permasalahannya adalah kapan kita akan mulai menabung...? Apakah kita harus menunggu sampai ketiga hal di atas tidak lagi terjadi, yaitu :
1. Menunggu sampai cicilan rumah selesai 2. Menunggu sampai pengeluaran menjadi stabil, atau; 3. Menunggu sampai gaji naik
Seseorang menabung bukan karena besarnya penghasilan dibanding orang lain. Amir yang bergaji 1 juta dapat menabung 50 ribu secara rutin setiap bulan, sementara Budi yang bergaji 2 juta sebulan tidak dapat menabung sama sekali. Di sini ditunjukkan bahwa gaya hidup Amir lebih memungkinkan dia untuk menabung dibandingkan Budi. Amir lebih memprioritaskan menabung daripada Budi.
Bagaimana Hal ini Dapat Terjadi ? Jika Mas Bambang mengalami hal yang sama seperti Budi sehingga tidak dapat menabung, permasalahannya adalah:
1. Mas Bambang bukan orang pertama yang menikmati dan menerima gaji setiap bulannya (lho, kok bisa?)
2. Mas Bambang bukan prioritas utama bagi Mas Bambang sendiri
Bagaimana Mungkin? Mas Bambang mungkin berpikir," Ah, gimana mungkin...ya jelas aja gw orang pertama yang menikmati gaji gw sendiri." Tapi...Apa yang sebenarnya terjadi...?
<< Mulai < Sebelum 1 2 3 Berikut > Terakhir >> |