We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Goresan Pena arrow Resensi Musik arrow V for Vendetta (2006)
V for Vendetta (2006) E-mail
Pengirim: Dharwiyanti   
Kamis, 08 Juni 2006

People should not be afraid of their governments, governments should be afraid of their people.

Film karya James McTeigue yang skenarionya digarap oleh Larry dan Andy Wachowski (trilogi “Matrix”) berdasarkan komik (graphic novel) karya Alan Moore ini ide ceritanya nendang banget, pas banget buat keadaan di Indonesia dan dunia pada saat ini: pemerintahan yg manipulatif dan totaliter sekaligus sok religius sesuai slogan Strength through unity, unity through faith”. Maka membabat habis penganut kepercayaan dan ideologi lain, para homoseksual, bahkan berbagai karya seni, atas nama agama. Sensor yang ketat. Propaganda-propaganda pemerintah dan rekayasa berita di media. Polisi yang “pagar makan tanaman”.

Pengekangan seperti jam malam berkedok keselamatan rakyat. Teror-teror dan intimidasi terhadap rakyat untuk memperkokoh posisi pemerintah sebagai “penyelamat” dari kekacauan, wabah penyakit, dan kemiskinan. V for Vendetta Film berdurasi lebih dari dua jam ini mengambil setting Inggris abad ke-22 di bawah rezim totaliter kanselir Adam Sutler (John Hurt) yang penampilannya mengingatkan pada Adolf Hitler. Seseorang yang menyebut dirinya V (Hugo Weaving), yang selalu mengenakan kostum dan topeng ala Guy Fawkes mulai melancarkan teror kepada pemerintah sekaligus berpropaganda mengingatkan rakyatnya untuk melawan.

Pada malam di mana ia bertemu Evey (Natalie Portman), seorang pegawai stasiun televisi yang melanggar jam malam, V melakukan terornya yang pertama, meledakkan pengadilan kriminal London, Old Baley. V lalu memberikan ancamannya untuk meledakkan gedung parlemen Inggris yang terkenal dengan Big Ben-nya itu pada malam tanggal 5 November, seperti yang direncanakan Guy Fawkes berabad2 sebelumnya. Itu berarti para Fingerman, polisi khusus bentukan rezim yang dipimpin Finch (Stephen Rea), punya waktu hampir setahun untuk menangkap V.

Sementara itu V pun punya misi pribadi, membalas dendam kepada sejumlah orang dari masa lalunya. Vendetta, revenge. Evey yang orangtuanya menjadi korban pemusnahan penguasa juga mendapatkan kesempatan untuk membalaskan dendamnya sendiri. Bahkan pada akhirnya ia menjadi tangan kanan sekaligus penerus perjuangan V. V berjuang untuk revolusi, mengembalikan demokrasi. Anarkis, tapi somehow secara puitis dan romantis. Dilihat dari sisi itu memang kelihatan banget kalo film ini adalah re-interpretasi dari komik yang dibuat Moore dalam dekade delapanpuluhan dan benafaskan semangat anti-Thatcher. Dan anarkisme adalah salah satu hal yang bisa diinterpretasikan secara negatif dalam film ini. Apakah film ini mentolerir terorisme untuk memperjuangkan sebuah ideologi? Selintas cara V tak jauh beda dengan peristiwa 9/11 atau peledakan bom Bali. Walaupun yang diperjuangkan V adalah sebuah “kebenaran”, bukankah “kebenaran” juga menjadi relatif? Saya terus terang menunggu2 momen V membuka topengnya. As a little spoiler, hal itu nggak pernah terjadi. Tapi toh nggak penting, karena seperti kalimatnya sendiri, V lebih dari sekedar daging di balik topengnya. Di balik topeng Guy Fawkes yg dipakainya, V adalah sebuah ide. Ide untuk perubahan dan pembebasan.

Daging bisa mati, tapi ide itu bulletproof. Dan di tengah rakyat yang tertekan tapi belum juga melakukan perlawanan, V dengan kostum dan kelakuan anehnya menjadi sebuah ikon baru. Dari semua pemain, yang paling patut dicatat adalah Hugo Weaving. Walaupun nggak kelihatan ekspresinya karena pakai topeng, tapi bahasa tubuhnya benar2 “berbicara”. I would say, V for Vendetta, W for Worth-See.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement