|
Halaman 1 dari 3 “Rin.... kalo mau bikin naskah cerita anak-anak itu gimana ya? Apa panjang-panjang kayak cerpen (sekitar 7 halaman) atau cukup pendek-pendek aja? Terus apa harus pake ilustrasi sendiri? Ngirimnya via imel bisa nggak? Terus boleh gak kalo terjemahan dari bahasa asing? Biasanya yang nerima naskah anak-anak penerbit mana aja ya Rin? Terus, kalo kita mau nerjemahin karya orang, harus pake surat izin segala ya? Harus dilampirin juga pas ngajuin ke penerbit? Jelasin dong Rin..." Sebagai seorang redaktur pertanyaan semacam ini sangat sering saya dengar.
Bukannya bosen ngejawabnya ya, tapi rasanya lebih efektif dan tuntas kalo saya merangkumnya dan membuatkan tulisan, betul nggak? Karena itu, saya tulis makalah berikut sebagai persembahan untuk teman-teman saya. (Specially mbak Beby). Mulai dari pertanyaan pertama:
Rin.... kalo mau bikin naskah cerita anak-anak itu gimana ya?
Maksudnya gimana itu gimana ya? Hehehehehe. Maksudnya mungkin "apa yang harus ditulis" ya?
Menulis cerita anak itu gampang-gampang susah. Sama kali ya sama menulis untuk yang lain. Yang sangat tak bisa lepas saat menulis cerita anak ialah perasaan cinta. Ya, kita harus punya perasaaan cinta terhadap anak-anak, terlepas kita sudah punya anak apa belum (karena banyak juga kok penulis bacaan anak ---selanjutnya saya singkat jadi PBA ya--- yang masih lajang bahkan masih cilik).
Setelah itu kita harus membuat frame dipikiran kita, kita tuh nulis mau ngapain? Apa yang mau kita kasih dari tulisan kita itu? Ini penting banget. Ibarat orang yang ikut MLM, make dream adalah langkah terpenting untuk sukses menjaring orang ikut network, maka nulis buku anak membuat tujuan ato dream juga penting. Karena ke sanalah kita menuju, mewujudkan mimpi itu.
Saya pribadi punya “dreams” memberikan dunia yang lebih baik untuk anak-anak, terutama anak saya. Dan mimpi ini udah ada di kepala saya sejak masih remaja dulu (I’m very inspired by Toto-chan!). Salah satu cara untuk mewujudkan mimpi ini adalah berbuat sesuai kemampuan saya. Kebetulan saya mampu nulis, ato setidaknya saya suka membaca dan ingin menulis.
Walaupun saya kuliah di fakultas sastra dan belajar secara khusus untuk menulis dengan ikut kulian Penulisan Populer, tapi pendidikna formal ato khusus bukanlah harga mati untuk seseorang yang ingin jadi penulis. Saya sudah suka membaca dan menulis sejak kecil. Memang tulisan saya nggak sehebat orang-orang lain yang berhasil tembus ke media massa. Tapi itu jadi base untuk saya yang sekarang ini.
Tapi banyak juga orang yang bukan anak sastra, juga tidak pernah ikut kursus penulisan bisa juga nulis, kunci terpenting dari semuanya adalah: banyak-banyak membaca. Membaca adalah bensinnya penulis.
<< Mulai < Sebelum 1 2 3 Berikut > Terakhir >> |