|
Halaman 2 dari 3
Dalam mengukur pun sebaiknya pembanding yang digunakan sesuai dengan kondisi dan usia si anak. Minimal acuan ukuran pembanding adalah dengan mengukur rata-rata waktu yang diperlukan si anak untuk menyelesaikan suatu tugas, berbanding rata-rata waktu yang diperlukan anak lain yang seusia, memiliki kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan yang sama. Jangan lupa pertimbangkan juga faktor usia dan faktor pengetahuan/ketrampilan dalam menyelesaikan suatu tugas. Hal ini penting, karena terkadang tugas sepele bagi orang dewasa, bisa menjadi tugas yang rumit bagi anak-anak.
Perbedaan ritme kerja serta ekspektansi orangtua ke anak seringkali merupakan sumber utama problem keleletan pada anak. Intinya, kalau kita sudah mengetahui sumber masalah mengapa anak lelet, maka InsyaAllah akan lebih mudah bagi kita menyikapi dan menyiasatinya.
Macam-macam jenis ke’leletan’ anak
Anak lambat atau lelet dapat disebabkan oleh berbagai alasan. Ada alasan yang berupa kondisi fisik dan psikologis. Ada juga yang berupa kondisi lingkungan yang kondusif untuk berlelet ria. Beberapa anak menjadi lelet karena memang mudah terganggu konsentrasinya (easily distracted), sehingga membuatnya tidak fokus dalam menyelesaikan pekerjaan yang sedang dilakukan.
Misalnya, ketika anak diminta untuk membereskan mainannya dengan memasukkan ke dalam kotak mainan. Setiap memegang satu mainan, sianak tergoda untuk memainkannya lagi, lantas sianak terlupa fokus utama yaitu membereskan mainan dan malah memainkan (lagi) mainan yang sedang diberesinya. Begitu diteriaki oleh si ibu (diingatkan), ia lantas fokus dan kembali membereskan mainannya, tetapi begitu pengawasan hilang, lupa lagi dan nggak fokus lagi. Alhasil, membereskan mainan memakan waktu yang sangat lama, karena bolak balik berhenti, tergangu fokus pekerjaannya dengan mainan itu sendiri.
Pada beberapa anak, keleletan timbul dikarenakan si anak memiliki resistansi yang cukup tinggi terhadap perubahan dan rutinitas. Anak-anak seperti ini tidak mudah beradaptasi dengan perubahan. Biasanya mereka bisa sangat fokus terhadap sesuatu yang disukainya. Kalau sudah fokus terhadap hal yang sedang dilakukannya, si anak akan merasa sangat nyaman. Tetapi dikala diajak untuk beranjak ke aktivitas lainnya, maka timbul keengganan dalam diri si anak. Sangat sulit mengajaknya untuk melakukan aktivitas lainnya apalagi yang ia tidak suka.
Anak model ini biasanya, seringkali tertinggal dalam menyelesaikan pekerjaan di sekolah. Keluhan yang sering didengar dari pihak sekolah biasanya : tidak menyelesaikan tugas-tugas atau pekerjaannya. Kadang memiliki banyak sekali pekerjaan rumah dikarenakan ia tidak menyelesaikan pekerjaan yang harusnya diselesaikan di sekolah.
Pada kondisi lain, anak dapat menjadi lelet dikarenakan kadar perfeksionis yang dimilikinya cukup tinggi. Anak yang memiliki tingkat perfeksionis yang tinggi, biasanya ingin segalanya sempurna dan sesuai dengan aturan yang dianutnya. Bila melakukan sesuatu inginnya semua sesuai dengan aturan yang berlaku. Bila tidak sempurna maka akan sangat sulit baginya melakukan hal tersebut.
Anak-anak model ini biasanya juga takut akan kegagalan. Apabila dirasanya ia akan gagal maka lebih baik ia tidak melakukannya sama sekali. Ketakutan akan kegagalan ini timbul karena tuntutan standard kesempurnaan yang dimilikinya begitu tinggi bahkan terhadap dirinya sendiri.
|