|
Halaman 1 dari 3 Rutinitas keseharian dalam rumah tangga selalu menuntut multi tasking. Apalagi kalau hidup tanpa pembantu/asisten pribadi seperti pada umumnya di luar negeri. Waktu dan energi terbanyak dihabiskan orangtua seputar mengurus keluarga, terutama anak. Mengingat begitu banyak yang harus diselesaikan dalam sehari, maka bisa dipahami bila pembagian waktu menjadi sangat penting.
Dalam 24 jam sehari orangtua harus menyelesaikan dan melakukan puluhan tasks. Bayangkan saja sejak mereka bangun pagi membuka matanya, sampai malam hari ketika kepala menyentuh bantal, otak dan badan terus bekerja menyelesaikan yang harus diselesaikan hari itu, dan mempersiapkan untuk keesokan harinya. Kesibukan dan rutinitas keseharian kadang membuat orangtua merasa bahwa waktu 24 jam sehari tidaklah cukup.
Tanpa disadari para orangtua menjadi terpola untuk selalu gesit, tanggap, dan cepat. Tidaklah heran bila ada hal-hal yang terasa lamban, bertele-tele seringkali sulit ditoleransi dan membuat kesal & sebal. Apalagi kalau itu terjadi setiap hari dalam menghadapi anak-anaknya.
Para orang tua sering kali jengkel dan frustrasi dalam menghadapi “keleletan” anak-anak. Apalagi bila si anak memiliki kecerdasan normal (atau bahkan diatas rata-rata) tetapi lambatnya bukan main dalam menyelesaikan segala sesuatu. Ada yang perlu waktu 30 menit hanya untuk bangun setiap pagi. Ada yang menghabiskan waktu paling sedikit 2 jam hanya untuk mandi, sikat gigi, ganti baju dan bersiap untuk pergi . Atau ada juga yang bisa menghabiskan dua jam penuh untuk makan. Hal-hal kecil yang seharusnya bisa dilakukan dalam hitungan detik dan menit pada anak “normal” , pada anak-anak ‘lelet’ diperlukan waktu berpuluh menit bahkan hitungan jam setiap harinya.
Bisa dibayangkan gemasnya orangtua yang sudah terpola multi tasking dalam hidupnya untuk menghadapi anak yang model begini. Bisa berantakan semua jadwal yang telah disusun setiap hari. Belum lagi sebagian besar waktu jadi terbuang percuma karena digunakan untuk tarik urat dan adu otot dengan si anak. Masih untung kalau adu otot dan adu urat tersebut membawa hasil . Celakanya makin sering adu otot dan adu urat makin leletlah si anak dan kejadian terus berulang setiap hari. Waktu dan energi banyak terbuang, kedua pihak orangtua dan anak sama-sama frustasi dan kelelahan.
Dimanakah batasan lambat/lelet ?
Sebenarnya batasan lambat/lelet (nota bene untuk anak berkondisi “normal”) bergantung pada : acuan pembanding apa yang kita pakai untuk mengukur “keleletan” tersebut serta apa harapan/ekspektansi dari orangtua/anak dalam menyelesaikan tugas tsb. Terkadang kita lupa bahwa setiap orang mempunyai ritme/ kecepatan bekerja (pace), pola/gaya bekerja yang beragam. Ada baiknya kita mengenali ritme kerja dari masing masing anggota keluarga sebelum kita mencapai kesimpulan bahwa si anggota keluarga tersebut memang “lelet”.
<< Mulai < Sebelum 1 2 3 Berikut > Terakhir >> |