We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Rumah Tangga arrow Adakah TTM si Kekasih Hati?
Adakah TTM si Kekasih Hati? E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Selasa, 16 Mei 2006

Apa sih yang membuat mommies yakin kalau suami kita tidak akan menyeleweng? Pikiran apa yang membuat kita merasa tenang “melepas” suami di luar?. Ingin tahu pendapat para mommies di wrm-indonesia? Yuk simak rangkuman di bawah ini.

Aku Merasa Tenang Karena...

1. Aku tahu kemana ia pergi, akan berbuat apa dan dengan siapa. Aku juga mengenal hampir semua teman-temannya, demikian pula sebaliknya. Jadi selama ini aku merasa aman saja melepas suami pergi sendiri dengan teman-temannya. Tapi di atas semua itu, yang terpenting adalah rasa percaya dengan kesetiaan suami. Percuma saja bila kita tahu suami kemana dan sedang apa bila di dalam hati kita sendiri selalu dipenuhi rasa was-was dan tak percaya. Yang ada hanya rasa curiga. Satu lagi, kata orang tua, kadang kadang perasaan tak nyaman itu muncul bukan hanya karena faktor apa yang dilakukan suami, tapi juga berasal dari diri kita sendiri. Secara tak disadari, kita seringkali berpikir terlalu jauh dan tak perlu. Dari perilaku itu maka akan mengakibatkan hubungan yang tidak nyaman dengan suami.

2. Aku selalu mengenal siapa teman teman suami, kebetulan pula biasanya teman suamiku juga temanku. Karenanya aku tidak khawatir bila suami bepergian bersama mereka. Dasarnya sederhana, saling percaya saja. Mengingat suami juga percaya penuh padaku dan aku percaya pada suami, maka kita sama sama menjaga kepercayaan tersebut. Ini keadaan ideal. Namun jujur, kadang aku was was pula bila suami pamit pergi hingga jam delapan malam, namun ternyata baru datang jam sepuluh malam. Belum lagi ia tak dapat dihubungi dengan HP nya. Kalau keadaan ini aku alami, aku paling mengomel saja karena kebetean ku.

Selain menumbuhkan rasa percaya, sebagai istri kita juga harus menjaganya (baca: jaga sikap dengan suami). Rasa menyayangi, memperhatikan, berani mengakui kesalahan harus ditumbuhkan. Aku bisa bercerita seperti hanya baru dari pengalaman tiga tahun berumah tangga. Buat aku dan suami yang menjadi pegangan tak lain rasa saling percaya dan berani bayar harga alias bersedia menerima kebaikan dan keburukan pasangan masing masing. Bila ombak tetap mendera, semoga dengan banyak berdoa, ombak tersebut bisa ditenangkan.

3. Saya yakin suami tidak akan pernah macam macam karena saya mengerti benar bahwa tidak ada yang lebih menarik, kecuali riset dan penelitiannya. Saya kadang malah kalan diperhatikan dibanding research nya. Jadi walaupun muridnya banyak yang wanita, saya tidak pernah cemburu ataupun berpikir macam macam.

4. Aku sudah tahan banting dengan berjalannya waktu. Dahulu aku selalu punya pikiran seperti yang ditanyakan, namun akhirnya aku jauhkan pikiran tersebut dan lebih berusaha selalu berpikir positif. Semua aku serahkan kepada Allah SWT. Alhamdulillah hidupku lebih tenang dan tidak ada kemerungsung. Yang aku selalu tekankan pula pada suami adalah: ia memiliki anak wanita, jadi jangan macam macam!.

5. Saling percaya harus ditumbuhkan. Bila selalu curiga, akibatnya akan buruk. Dari dulu, lingkungan kerja suamiku selalu menuntut adanya komunikasi dengan wanita, kebalikan dari aku yang bekerja di bidang IT. Mulanya memang tumbuh rasa curiga, namun seiring dengan waktu, usia, apalagi telah ada anak, perasaan itu kita buang jauh-jauh meskipun pasti kadang timbul.Kita berusaha terbuka soal teman, kegiatan yang kita lakukan dan saling mengenalkan teman masing-masing. Karena dia yang lebih sering keluar kantor untuk pertemuan dengan klien, maka yang dapat aku lakukan hanya mengingatkan saja untuk menjaga kepercayaan yang sudah aku berikan. Ingat pula adanya anak bila muncul pikiran yang aneh aneh.

6. Di Amerika, walaupun sepertinya lebih bebas atau lebih suka-suka soal hubungan perempuan dan laki-laki, tapi sepertinya lebih aman buat suami yang asli Indonesia. Nggak tahu kenapa ya, mungkin karena kalaupun mereka bergabung dengan teman-temannya, tetap dirasakan adanya perbedaan kultur dan budaya. Selain itu, bila mereka akan macam-macam dengan teman-temannya, yang umumnya bule atau orang Indian/Korea, namun sepertinya mereka akan lebih berpikir ratusan kali. Tak lain karena adanya perbedaan budaya yang menyolok, sehingga bisa jadi proses "connect" akan memakan waktu lebih lama dan membutuhkan lebih banyak"adjustmen".

Jadi, para istri Indonesia di sini biasanya lebih merasa tenang dan lebih OK melepas suaminya kemana-mana. Tapi kalau mendengar cerita di Indonesia, kok rasanya lebih seram ya. Soal PIL dan WIL, rasanya lebih membabi buta. Apakah mungkin karena wanita wanitanya lebih agresif dan lebih bagaimana ya?. Ada pula pengalaman beberapa teman, saat telah pulang ke Indonesia malah bercerai. Tak lain karena si suami atau si istri mempunyai cem-ceman lain. Padahal saat di Amerika terlihat baik-baik saja dan kelihatannya bahagia.

7. Bila kunci rumah tangga "saling percaya" dapat ditumbuhkan, maka tak akan muncul rasa curiga. Namun untuk membangun "trust" adalah tak mudah. Rasa paranoid relatif lebih mudah muncul mengingat di sekitar kita akan mudah ditemukan teman wanita kita yang menjadi WIL dan banyak teman pula yang memiliki WIL. Kepermisifan juga akan terbentuk bila kita hidup di lingkungan yang menganggap hal tersebut adalah kelaziman. " Katanya bila kita bergaul dengan tukang besi, maka kita akan terkena bau besi. Bergaul dengan tukang minyak wangi, maka kita akan terkena bau wanginya pula." Belum lagi bila kita tak mengenal teman teman suami kita, maka tak heran rasa ketakutan akan tumbuh dengan mudahnya. Solusinya? bangun kepercayaan dengan suami, saling jujur dan bina hubungan yang harmonis. (DaI/WRM)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement