|
"Kenapa bayi saya malas menyusui?". Pertanyaan tersebut di tanyakan oleh seorang Mom di milis We R Mommies beberapa waktu yang lalu. Saat ini mom tersebut kebingungan dengan sang buah hati yang malas menyusui, bayinya hanya minum ASI sedikit setelah itu si bayi tidur dengan pulasnya, karena jarang diisap akhirnya payudara jadi kencang dan sakit. Beliau juga khawatir bayinya akan kekurangan gizi bila ia malas minum ASI "Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya lagi.
Tanggapan pertama demikian, "Bayi yang males nyusu ada kemungkinan kuning (jaundice) ada baiknya di periksakan ke dokter spesialis anak. Untuk sementara memang bayi harus dipaksa minum ASI, kalau perlu bayinya ditepuk-tepuk biar bangun, karena bayi kuning itu memang cenderung suka tidur". Masih menurut beliau "Untuk masalah payudara yang penuh, sebaiknya di pump saja lalu ASInya disimpan dibotol, bisa di bekukan sampai jangka waktu 6 bulan tergantung temperatur saat penyimpanan. Silahkan klik link berikut yang membahas mengenai bayi yang males minum ASI semoga membantu".
Berikut sharing mom yang bayinya juga pernah malas minum ASI, "Sekali lagi selamat atas kelahiran adik bayinya. Aku jadi ingat sewaktu baru melahirkan, putra saya juga malas minum ASI dan hanya tidur saja. Saat itu susternya memberi saran untuk membangunkan si baby untuk minum ASI karena itu sangat penting, kalau perlu telapak kakinya disentil dikit atau melepas selimutnya supaya tidak terlalu hangat dan nyaman untuk ia tidur."
Mom berikut menginformasikan mengenai frekuensi menyusui bayi yang baru lahir, signal kebutuhan nutrisi bayi bila sudah terpenuhi dan bagaimana menyikapi ASI yang "over produksi" :
* Frekuensi menyusui bayi yang baru lahir, "Mom, kalau bayinya baru lahir hari ke 1 atau hari ke 2 dan si kecil masih banyak bobo maka tidak perlu di kwatirkan , karena biasanya kalau hanya untuk beberapa hari pertama, si kecil sudah membawa bekal yang cukup, setelah hari ke 2 tersebut, harus mulai rajin minumnya. Ritme menyusui yang diharapkan biasanya minimal 8-12 kali waktu makan per 24 jam serta umumnya frekuensi menyusuinya akan semakin menurun seiring dengan pertambahan usianya (ILCA 2000:25), 8-12 kali waktu makan tersebut biasanya dengan jenjang waktu antara 2-3 jam sekali.
Lama menyusui tiap kali waktu makan di sisi pertama ca. 15-20 menit (hingga payudara terasa kosong), dan bila si kecil masih lapar, bisa ditambah di sisi yang lain ca. 10-15 menit. Ada juga babies yang punya ritme menyusui tidak teratur, biasa dikenal dengan istilah model "clusterfeeding". Sebaiknya ibunya yang harus bisa mengenal ritme menyusui si kecil. Tapi tidak perlu khawatir karena clusterfeeding masih tergolong pola menyusui yang normal.
Untuk si kecil yang terlalu lama bobo kaya, mungkin memang perlu dibangunkan saat waktu makan tiba sampai dinilai pertambahan BB nya dianggap sudah baik. Sebaiknya mom siap-siap mengamati si kecil saat periode pertumbuhan cepat yang biasanya ada di minggu ke 3 dan ke 6 plus bulan ke 3 dan ke 6, pada masa itu idealnya si kecil akan lebih sering meminta ASI sebagi signal yang diberikan akan kebutuhan nutrisi yang meningkat. Dan banyak juga newborn yang memang punya 1-2 waktu bobo yang panjang di 1 X 24 jam, rata rata sih 4-5 jam sekali bobo. Seiringan dengan berjalannya waktu, biasanya si kecil akan berusaha "merubah" fase bobo panjangnya di malam hari. Menyusui malam hari pun akan ngga terlalu menjadi beban bagi sang ibu kalau metode rooming-in/bedding-in juga dipraktekkan di rumah. bahkan kalau syarat-syarat co-sleeping terpenuhi, kenyamanan si kecil dan sang ibu akan optimal."
* Signal kebutuhan nutrisi bayi bila sudah terpenuhi, bila si kecil sudah sering menyusui, tapi mom belum yakin apa kira kira ASI yang diberikan sesuai dengan kebutuhannya, mungkin mom bisa mengamati beberapa signal yang mudah di ingat demikian: - Pertambahan berat badan yang cukup - Minimal ditemukan 6 buah popok si kecil yang basah dalam sehari - Minimal satu kali sehari pup di minggu 4-6 pertama, setelah minggu ke 6 mungkin saja pup nya tidak selalu tiap hari.
* Bagaimana menyikapi ASI yang "over produksi". Kalau ASI nya banyak "over produksi" seperti ini bisa ditemukan pada beberapa busui (Ibu Menyusui) tidak hanya ditemui di hari-hari pertama, tapi kadang juga berminggu-minggu. Kalau tidak ditangani secara tepat, sayangnya bisa mengakibatkan hambatan aliran keluarnya ASI, mastitis atau malah penyapihan terlalu awal.
Kalau ASI nya terlalu banyak, dapat dilakukan beberapa langkah sbb: - Biarkan si kecil menyusui di satu sisi saja hingga ia kenyang, jangan tawarkan payudara ke dua. Baru pada waktu makanberikutnya, ditawarkan payudara ke dua nya, biarkan menyusui sampai kenyang. demikian sebaliknya. - Kalau payudara terasa terlalu penuh, dapat dipompa, tapi hanya sampai sang ibu terasa "nyaman", atau payudara tidak terasa terlalu penuh. saya pribadi sebenarnya lebih menyukai cara manual dengan mengeluarkan ASI dengan tangan karena lebih ergonomis. - Kalau kasus terlalu banyaknya ASI ekstrim sekali, beberapa tenaga kesehatan menganjurkan mengkonsumsi teh peppermint atau teh daun salbei 2-3 cangkir per hari hingga keluhan "penuh" tak lagi mengganggu. Masih menurut beliau, kadang kadang situasi yang ada lebih kompleks, sang ibu merasa ASI nya terlalu banyak, si kecil juga rasanya sering menyusu, tapi kok si kecil tetap rewel dan terlihat selalu kelaparan. Kalau menurut para ahli laktasi, ini mungkin pertanda sang anak terlalu banyak mendapatkan laktosa, hal tersebut dapat terjadi karena sang anak selalu berpindah pindah payudara saat menyusui dalam waktu relatif singkat. ASI yang baru keluar biasanya punya kandungan laktosa yang tinggi, menjelang akhir-akhir menyusui baru akan semakin tinggi kandungan lemaknya. Karenanya pada si kecil yang selalu gonta ganti payudara, mungkin ia tidak sempat mendapat asupan lemaknya, sehingga ia selalu merasa lapar. (WRM/SA) |