|

Jangan beranjak dewasa dulu, nanti kami lupa apa makna “lucu.” Jangan dulu tumbuh buru-buru. Aku kan masih suka bau mulutmu, bau rambutmu, meski berpeluh berdebu, tapi bagiku semuanya itu lucu.
Kamu tak tahu apa makna lucu bagiku; menghentikan laju, mengendapkan waktu. Tak peduli berapa umurmu, tingkah-polahmu, namun tangismu, marahmu, diammu, juga muka seriusmu, semua itu lucu. Meskipun kamu bolak-balik berseru, “It’s not funny, tahu!”
Karenanya, tiba-tiba aku merasa tua waktu tahu-tahu kamu bisa naik sepeda roda dua. Bukankah baru kemarin rasanya, kudorong-dorong kamu dalam kereta?
Iya, memang tak enak rasanya jadi bungsu selamanya. Dicium di sini, dipeluk di sana. Tak peduli kamu meronta-ronta, “Leave me alone! I’m not a baby anymore!” Semua orang di rumah ini setengah gila tampaknya, kegirangan punya boneka yang suka menangis kalau digoda.
Sst...jangan marah, ya? Kami memang ingin kamu lucu selamanya, supaya kami tak khawatir dengan usia. Siapa lagi yang bisa membuat tertawa, kalau kamu cepat dewasa?
Kamu tahu, kakak-kakakmu ingin jadi kamu; bisa cerdik bisa lugu, bisa berbuat sesuatu tanpa harus berpikir ini-itu. Apalagi aku, yang tak pernah tahu rasanya jadi bungsu. Dulu, aku jadi dewasa buru-buru, “Ayo dong, kasih contoh adik-adikmu.”
Aku masih ingin seperti dulu, saat baru melahirkan kamu, menimangmu dalam rengkuhan tanganku, merasai betapa mungilnya kamu. Mungkin memang aku yang tak mau bersahabat dengan laju waktu (yang sama sekali tak lucu, tak seperti kamu).
Aku ingin begini selalu, berhenti di satu titik beku. Tak ingat umurmu, juga umurku. Karena kamu; lucu. Bagaimana, kamu mau?
|