We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2012 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Buah Hati arrow Sepuluh Langkah Tumbuhkan Pola Makan Sehat Anak
Sepuluh Langkah Tumbuhkan Pola Makan Sehat Anak E-mail
Pengirim: DA Inayati   
Selasa, 02 Mei 2006

Si kecil yang berusia di bawah dua tahun sulit makan sayur? Ia menolak mentah mentah buah-buahan yang dihidangkan? Sang buah hati lebih memilih makan kue coklat dan permen pada saat jam makan siang dibandingkan seporsi nasi beserta lauk pauknya?. Bila ciri-ciri yang telah disebutkan ada pada si kecil mom, mungkin ada baiknya mom meninjau kembali pola pembiasaan makan yang selama ini telah mom lakukan.

Pola makan sehat pada anak tidak dapat tercipta begitu saja dalam waktu relatif singkat. Pembiasaan sedini mungkin, peran orang tua sebagai panutan, strategi penciptaan "diet sehat" adalah beberapa hal penting yang hendaknya juga ditumbuhkan oleh orang tua sejak si kecil lahir. Berikut akan disampaikan sepuluh langkah diet sehat untuk anak anak di bawah usia dua tahun yang diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu acuan pembiasaan pola makan sehat bagi anak anak. Selamat mengevaluasi ya mom!

Berikan hanya ASI di enam bulan pertama kehidupan sang anak, jangan tawarkan air, teh ataupun makanan lain.

Pemberian ASI di enam bulan pertama kehidupan si kecil sebenarnya sudah memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi di masa tersebut, termasuk kebutuhannya akan cairan. Dengan diberikannya ASI, ia juga terlindung dari infeksi mengingat ASI kaya akan kandungan zat kekebalan tubuh. Anak yang mengkonsumi makanan lain selain ASI --termasuk air ataupun teh - sebelum menginjak usia enam bulan, umumnya rentan terkena penyakit ataupun malnutrisi.

Sejak usia enam bulan, tawarkan secara perlahan makanan lain sambil terus berikan ASI hingga usia dua tahun ataupun sepanjang mom dan si kecil inginkan.

Saat anak berusia enam bulan,tubuh sang anak biasanya telah menyiapkan diri untuk dapat menerima makanan selain ASI. Makanan tambahan yang biasa disebut dengan istilah complementary food diberikan secara perlahan dan berproses dengan melihat kebutuhan sang anak. Walau si kecil telah memperoleh makanan tambahan, mom tetap diharapkan tetap memberikan ASI hingga usianya minimal menginjak dua tahun agar ia tetap dapat memperoleh nutrisi serta faktor imun tubuh yang terdapat dalamnya.

Tidak ada rekomendasi tertentu berapa lama ASI harus diberikan, semua itu banyak tergantung dari kenyamanan mom dan si kecil. Pengenalan makanan tambahan juga membawa konsekuensi agar sang anak harus memperoleh cukup minum di kesehariannya, karenanya berikan minuman yang cukup pad si kecil ya mom!.

Mulai usia enam bulan, berikan Bahan Makanan Tambahan (BMT) tiga kali sehari bila si kecil masih memperoleh ASI, lima kali sehari bila sudah disapih.

Anak yang masih memperoleh ASI hendaknya diberikan tiga kali waktu makan dengan bahan makanan tambahan yang berkualitas di masa satu tahun pertama kehidupannya. Tujuannya tak lain agar kebutuhan nutrisinya tercukupi dan pertumbuhannya dapat berjalan optimal. Menginjak tahun kedua, anak perlu diberikan dua kali snacks atau makanan kecil pendamping selain tiga kali waktu makan yang telah berjalan.

Bila si kecil telah disapih, ia harus memiliki lima kali waktu makan dalam sehari. Bahan makanan tambahan tersebut dapat diberikan dengan porsi yang disesuaikan dengan kebutuhan sang anak. Perlu diingat, beberapa anak memang memerlukan "stimulasi" agar mereka dapat makan dengan baik. Namun, jangan sampai memaksa anak untuk makan, atau bahkan menghabiskan makanannya!.

Berikan BMT tanpa jadwal yang "strict", hormati keinginan anak!

Anak yang disusui dengan cara on demand biasanya cenderung mampu belajar sedari dini mengenal kebutuhan tubuhnya. Ia akan mengenali kapan perutnya mulai terasa kenyang setelah makan dalam jumlah tertentu. Ia pun dapat mengetahui kapan ia merasa lapar setelah beberapa waktu perutnya tidak terisi makanan.

Jadwal makan yang strict, di mana jam waktu makan telah ditentukan, akan mengganggu proses self control yang ada pada anak. Kuantitas makanan yang diberikan pada anak berhubungan erat dengan waktu istirahat (breaks) antar waktu makan: satu waktu makan dengan kuantitas makanan yang menggunung jelas akan berhubungan dengan waktu istirahat antar waktu makan yang lebih lama, demikian pula sebaliknya.

Karenanya amatlah penting bagi mom untuk menumbuhkan sensibilitas atas kebutuhan-kebutuhan si kecil. Dengan mengenal secara baik perbedaan perilaku si kecil saat ia lapar, mengantuk, kedinginan, popok yang penuh dan basah, sakit ataupun sekedar ingin bermanjaan, mom tak akan terjebak dengan selalu menawarkan makanan saat ia menangis, walau si kecil tak merasa lapar.

Kapan waktu tepat diberikannya BMT mungkin dapat mengikuti pola berikut ini:
- bagi anak yang masih diberikan ASI, berikan tiga kali waktu pemberian BMT. Pertama dapat diberikan di pagi hari, waktu makan kedua di saat siang hari dan terakhir pada akhir sore menjelang malam hari.
- bagi anak yang telah disapih, berikan tiga kali waktu pemberian BMT ditambah dua kali masa pemberian snacks. Lima kali "makan" tersebut dapat diberikan pada pagi hari (BMT), tengah waktu antara pagi dan siang hari (snacks), siang hari (BMT), tengah waktu antara siang dan sore hari (snacks kedua) serta malam hari (BMT).
Panduan waktu di atas tentu tidak berlaku sebagai rigid time schedule, silakan mom sesuaikan dengan kebutuhan si kecil.

Awali pemberian BMT dengan konsistensi halus (porridge/puree). Gunakan sendok sebagai alat bantu. Secara perlahan, tingkatkan konsistensinya hingga menyerupai makanan keluarga

Di masa awal pemberian BMT, berikan si kecil makanan yang memang hanya diperuntukkan buat dirinya. Makanan yang dikenal dengan istilah "makanan transisi" biasanya berupa bubur halus/porridge/puree dari buah-buahan, biji-bijian ataupun sayur mayur. Saat anak berusia delapan bulan, BMT dapat diberikan berupa potongan potongan kecil, tidak lagi berbentuk halus seperti bubur. Makananan yang terlalu halus atau yang berbentuk sup biasanya tak mengandung energi yang cukup buat si kecil.

Pemberian botol pun sedapat mungkin dihindari karena dapat menganggu proses menyusui serta merupakan perantara penting kontaminasi dan transmisi penyakit. Sebaliknya, penggunaan cups/small cups amat direkomendasi saat anak diberikan minuman atau cairan lain. Untuk makanan berbentuk semi padat tetap berikan dengan sendok.

Tawarkan si kecil makanan yang variatif tiap harinya

Sejak awal biasakan anak mengenal macam macam makanan. Hanya melalui diet makanan yang variatif, dapat diyakinkan bahwa kuantitas kebutuhan besi dan vitamin yang sang anak perlukan dapat terpenuhi. Besi yang berasal dari makanan akan dapat diserap secara optimal bila sang anak juga mengkonsumi makanan kaya akan kandungan vitamin C dalam satu waktu makan tersebut.

Pembentukan kebiasaan makan yang sehat dimulai sejak usia anak masih dini, karenanya gunakan kesempatan sejak si buah hati masih kecil untuk membentuk kebiasaan yang baik tersebut. Bila sang anak menolak makanan baru bukan berarti sang anak tak menyukai makanan tersebut. Penolakan yang ia berikan tak lain merupakan proses natural si kecil dalam mengenal lebih jauh rasa dan tekstur yang baru serta mematangkan proses refleks dalam dirinya.

Makanan hendaknya diberikan secara terpisah agar sang anak belajar mengidentifikasi warna dan rasa tiap bahan makanan yang diberikan. Letakkan porsi makanan yang akan diberikan tanpa mencampur keseluruhannya. Berikan kesempatan si kecil mengenal bentuk dan rasa masing masing makanan.

Stimulasi pengkonsumsian buah dan sayur setiap hari

Si kecil harus terbiasa mengkonsumsi buah buahan dan sayur mayur sejak usia dini. Hal itu penting mengingat buah dan sayur adalah sumber utama vitamin-vitamin, kalsium, besi dan serat. Jenis makanan tersebut dapat diberikan sesuai dengan musim buah/sayur yang ada sehingga pengeluaran untuk pos ini dapat ditekan. Penggunaan bawang merah, bawang putih, minyak, sedikit garam serta rempah rempah juga direkomendasikan di masa ini.

Hindari konsumsi gula, kopi, bahan makanan kaleng, goreng-gorengan, soft drinks, permen, pastries di satu tahun pertama kehidupan anak. Gunakan garam secukupnya, bila mungkin hindari

Gula, garam dan bahan makanan yang melalui proses digoreng sedapat mungkin dikonsumsi secukupnya. Hal tersebut penting dilakukan mengingat efek masa depan yang dapat ditimbulkan, khususnya berkaitan dengan masalah masalah kesehatan. Selain itu makanan-makanan di atas memiliki kandungan nutrisi yang rendah. Gula sebaiknya diberikan pada anak setelah ia melewati usia satu tahun. Hindari pula penggunaan lada, mustard, bumbu makanan jadi yang memberikan rasa pedas pada makanan.

Perhatikan kebersihan di proses penyiapan makanan, yakinkan pula makanan disimpan dalam kondisi sesuai

Untuk menjalankan pola makan sehat, gunakan pula bahan makanan segar. Makanan yang ditawarkan pada si kecil hendaknya disiapkan mendekati waktu makan. Jangan sisakan makanan yang ada.

Untuk menghindari kontaminasi makanan dan transmisi penyakit, orang yang bertanggung jawab dalam proses penyiapan makanan harus mencuci tangan terlebih dahulu. Proses pencucian ini juga harus dilakukan pada bahan makanan, alat alat yang digunakan dalam proses memasak serta wadah yang akan dipakai menyimpan makanan matang. Makanan harus pula diletakkan di tempat/ruang yang bersih, terlindung dari serangga dan binatang lain yang berbahaya. Makanan sisa yang si kecil tolak, jangan kembali ditawarkan pada waktu makan yang lain.

Stimulasi anak yang sakit agar tetap makan, tawarkan makanan yang biasa dikonsumsi atau makanan kesukaannya, hormati akseptansinya

Anak yang sakit biasanya memiliki selera makan yang rendah. Di kondisi tersebut harus dilakukan "penstimulasian" agar si kecil tetap bersedia mengkonsumsi makanan yang diperlukan oleh tubuhnya. Stimulasi penting dilakukan tanpa memaksa sang anak untuk makan!.

Agar kebutuhan nutrisi tercukupi serta pencegahan kondisi dehidrasi, tawarkan si kecil makanan favoritnya yang tak tabu di kondisi sakitnya serta tingkatkan konsumsi cairan. Bagi anak yang tak punya selera makan, tawarkan volume makanan yang rendah dengan frekuensi penawaran yang lebih sering. Untuk meyakinkan bahwa si kecil dapat makan dengan baik, amat penting bila sang orang tua mendampinginya tiap kali waktu makan. Berlakulah lebih fleksibel dengan aturan dan waktu makan.

Di periode convalescence biasanya selera makan akan meningkat karenanya amat direkomendasi agar di masa ini sang anak ditawarkan minimal ekstra makan besar dalam masa 24 jam. Bila sang anak bersikeras makan dari sendoknya sendiri, tetap suapi anak dengan sendok yang lain agar terjamin asupan makanan yang dibutuhkan. (DaI).

ASI = Air Susu Ibu
BMT = Bahan Makanan Tambahan

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement